PLN Nusantara Power Sukses Tekan Biaya Pembangkitan 11,4 Persen

Selasa, 07 Juli 2026 | 01:18:31 WIB
PLN Nusantara Power Produksi 66.919 GWh Listrik Sepanjang 2025

JAKARTA — Entitas anak usaha dari PT PLN (Persero), yakni PLN Nusantara Power atau yang akrab disebut PLN NP, membukukan pencapaian produksi energi listrik menyentuh angka 66.919 gigawatt hour (GWh) di sepanjang periode tahun 2025. 

Bersamaan dengan itu, korporasi juga sukses memangkas bobot biaya pokok produksi (BPP) pada sektor pembangkitan hingga mencapai 11,4% melalui mekanisme optimalisasi bauran energi (energy mix).

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengutarakan, pihak perseroan tidak semata-mata berkonsentrasi pada pengeskalasian volume produksi setrum, melainkan turut mengawal agar proses pembangkitan energi dapat dioperasikan secara lebih efisien serta berkelanjutan.

“PLN NP tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi energi listrik, tetapi juga memastikan bahwa listrik yang dihasilkan berasal dari proses yang semakin efisien, lebih bersih, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).

Menilik dari klaster operasional, PLN NP dilaporkan turut mengukir lompatan pada tingkat keandalan fasilitas pembangkit. Indikator ini tecermin lewat perolehan angka equivalent forced outage rate (EFOR) di sektor pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berhasil melampaui dari ketetapan target internal perusahaan. 

Capaian performa ini mengindikasikan semakin matangnya tingkat kesiapan unit-unit pembangkit demi menyokong stabilitas serta keandalan pasokan setrum nasional.

Pihak perseroan pun terus menggulirkan program Green and Lean yang memegang peranan selaku bagian dari agenda transformasi di internal PLN Group. Pada periode tahun 2025, realisasi program reduksi emisi gas karbon dilaporkan menyentuh angka 1,46% atau setara dengan pemenuhan 110% dari proyeksi target tahunan. 

Perolehan tersebut bertindak selaku wujud nyata dari komitmen PLN NP dalam menyokong agenda transisi energi lewat tata kelola aktivitas pembangkitan yang kian ramah lingkungan.

Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) Yusuf Didi Setiarto berpandangan bahwa capaian kinerja dari PLN NP menyuguhkan kontribusi krusial terhadap aspek efisiensi sekaligus keandalan operasional di lingkungan PLN Group.

“Hal ini menunjukkan kontribusi nyata PLN NP dalam mendukung keandalan pasokan listrik nasional, efisiensi perusahaan, dan sejalan dengan program pemerintah, khususnya dalam optimalisasi biaya di lingkungan PLN Group,” katanya.

Di luar lini bisnis inti di sektor ketenagalistrikan, PLN NP mengantongi pundi-pundi pendapatan dari sektor beyond kWh senilai Rp1,1 triliun atau setara dengan pemenuhan 160% dari target awal yang dipatok sebesar Rp688 miar. 

Sumber pendapatan tersebut diraih dari pelbagai klaster usaha di luar aktivitas penjualan energi listrik, termasuk pelaksanaan proyek berskala internasional di wilayah Malaysia, Bangladesh, hingga Timor Leste. Grafik capaian ini merefleksikan kian besarnya sumbangsih lini bisnis nonkelistrikan terhadap kantong pendapatan perusahaan.

Pada sektor tata kelola instansi, PLN NP sukses menyabet predikat skor tertinggi dalam evaluasi penilaian Maturity Level Good Corporate Governance (GCG) pada ruang lingkup PLN Group. Ruly menegaskan, penerapan tata kelola yang kokoh bertindak sebagai pilar fundamental yang penting demi ekspansi bisnis sekaligus pelebaran sayap kerja sama strategis korporasi di masa depan.

“Dengan fondasi governance yang kuat, PLN NP siap memperluas kolaborasi, memperkuat kemitraan strategis, dan mendukung peta jalan transisi energi Indonesia,” ujarnya.

Selaras dengan langkah mempertebal pasokan daya setrum nasional, PLN NP dilaporkan tengah membangun portofolio unit pembangkit anyar yang memiliki akumulasi total kapasitas daya mencapai 696,9 megawatt yang lokasinya tersebar di pelbagai penjuru wilayah Indonesia. 

Langkah ekspansi tersebut merupakan bagian dari taktik korporasi demi merawat keandalan sistem kelistrikan sekaligus mengantisipasi laju pertumbuhan kebutuhan energi nasional pada masa yang akan datang.

Terkini