Kinerja Semester I-2026 Positif, Saham BMRI Malah Melemah Pekan Lalu

Minggu, 26 Juli 2026 | 19:03:01 WIB
Saham BMRI Melemah Pasca Paparan Kinerja Semester I-2026, Simak Analis [FOTO: NET].

JAKARTA - Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami koreksi pada penutupan sesi perdagangan menjelang akhir pekan lalu, tepatnya Jumat (24/7/2026). Padahal, sehari sebelumnya korporasi berstatus blue chip ini baru saja merilis pencapaian laporan keuangan semester I-2026 yang tergolong cemerlang.

BMRI mengakhiri sesi bursa pekan lalu di level harga Rp 4.130 per saham, terkikis 5,71% secara harian. Jika ditarik dalam rentang sepekan, posisi harga tersebut merepresentasikan tekanan penurunan hingga menyentuh 7,81%.

Sebagai catatan, BMRI mencatatkan nominal koreksi harga yang paling dalam apabila disandingkan dengan kelompok bank bermodal inti besar (big banks) lainnya pada hari yang sama. 

Di mana PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sanggup bertahan pada level Rp 6.275, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) merosot 1% ke posisi Rp 2.960, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 2,22% menjadi Rp 3.520.

Tepat pada hari Kamis (23/7/2026) silam, pihak BMRI mengumumkan hasil performa bisnis paruh pertama tahun ini. Bank yang identik dengan logo pita emas tersebut sukses membukukan laba bersih konsolidasian senilai Rp 30,41 triliun, atau mengalami lonjakan sebesar 24,3% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kendati demikian, perolehan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) secara konsolidasian justru terkoreksi 7,84% yoy menjadi Rp 48,33 triliun. Seirama dengan hal tersebut, akumulasi penyaluran kredit konsolidasian perseroan menyusut tipis 1,3% yoy ke angka Rp 1.674 triliun. 

Walau begitu, BMRI tetap prima dalam mengamankan stabilitas kualitas portofolio asetnya, yang terbukti lewat pencapaian perbaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) ke level 0,98% dari posisi sebelumnya di angka 1,08% pada tahun lalu.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya mengemukakan bahwa secara fondasi fundamental, performa bisnis BMRI masih memperlihatkan keberlanjutan yang kuat. 

Pasalnya, jika ditinjau secara bank only, Bank Mandiri terbukti sukses menggenjot ekspansi penyaluran kredit secara solid berkat sokongan kuat dari penetrasi sektor wholesale serta korporasi BUMN.

Selaras dengan pencapaian tersebut, bank sanggup mempertahankan tingkat rasio NPL serta efisiensi beban biaya pencadangan kredit di kisaran rendah. Di sisi lain, pos pendapatan yang bersumber dari komisi (fee based income) masih terus memberikan kontribusi positif bagi perolehan pundi-pundi laba.

Kendati demikian, Andrey mengingatkan agar para investor tetap mencermati perkembangan marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan yang tengah menghadapi tekanan akibat pengetatan tingkat likuiditas pasar. 

Persaingan memperebutkan dana pihak ketiga (DPK), kata Andrey, memicu eskalasi pada beban biaya dana (cost of fund/CoF), sementara tingkat imbal hasil kredit mulai mengalami tekanan.

Dinamika tersebut pun telah menjadi fokus perhatian jajaran manajemen, yang terefleksi lewat penyesuaian proyeksi target NIM sepanjang 2026 dari semula berkisar 4,5%–4,7% diturunkan menjadi 4,3%–4,5%. Meskipun demikian, pihak Bank Mandiri tetap memandang bahwa tren marjin bakal berangsur stabil memasuki kuartal III-2026.

Secara akumulatif, Andrey menilai bahwa fundamental kinerja BMRI sejatinya berperan sebagai katalis yang konstruktif bagi pergerakan harga sahamnya di bursa. Hanya saja, para pelaku pasar diprediksi akan terus memonitor ketat perkembangan likuiditas makro serta arah kebijakan suku bunga ke depan.

“Ruang kenaikan harga saham kemungkinan lebih bertahap,” sebut Andrey.

Pihak RHB Sekuritas menetapkan sikap untuk mempertahankan rekomendasi beli (buy) terhadap saham BMRI dengan target harga di level Rp 5.420, yang menyiratkan potensi apresiasi nilai saham melampaui 20%.

BMRI Chart by TradingView

Andrey memaparkan bahwa berbagai sentimen positif masih mempunyai peluang berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, utamanya apabila tekanan pada beban CoF mulai melandai, stabilitas rasio NIM benar-benar terwujud pada paruh kedua tahun ini, serta terjaganya kualitas aset dari risiko penurunan.

“Selain itu, valuasi BMRI yang masih relatif menarik dan dividend yield sekitar 10% juga menjadi faktor pendukung bagi pergerakan saham ke depan,” tukas Andrey.

Terkini