Peran Penting Gizi dan Rangsangan bagi Otak Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 19:58:01 WIB
Nutrisi & Stimulasi Kunci Tumbuh Kembang Otak Balita [FOTO: NET].

JAKARTA -  Masa keemasan tumbuh kembang anak terletak pada rentang usia nol sampai lima tahun pertama kehidupan. Di fase krusial ini, sistem saraf pusat bekerja keras guna tumbuh dan berkembang secara maksimal. 

Agar proses penting itu berjalan optimal, asupan makanan dengan gizi seimbang menjadi fondasi dasar yang tidak boleh dilewatkan oleh orangtua. Dukungan gizi dari dalam tubuh sangat menentukan kecepatan berpikir serta ketajaman daya tangkap anak kelak.

Dalam merancang kecerdasan, pemenuhan nutrisi yang baik merupakan syarat utama sebelum orangtua memberikan berbagai stimulasi tambahan. Asupan yang memadai secara medis akan menyiapkan struktur utama di dalam kepala si kecil.

"Kalau nutrisi itu fondasi dasar. Saat nutrisinya terbaik didapat dengan baik, dia akan mendapatkan rangka yang baik," ucap dr. Yoga Andika, Sp.A di acara edukatif imersif "S-26 Exceptional Journey: Journey Inside the Brain", Senayan City Mall, Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Selepas fondasi tersebut terbentuk kuat, rangsangan dari luar barulah hadir guna melatih jaringan yang sudah siap menerima informasi.

"Stimulasi itu tujuannya untuk buat memperkuat cabangnya. Sehingga nanti otaknya bisa berkembang dengan baik dan konektivitasnya bisa lebih baik," ungkap dr. Yoga.

Proses penyambungan antarjaringan ini dikenal dengan istilah sinaptogenesis. Mula-mula, sambungan di kepala bayi mungkin hanya berjumlah ribuan. Namun, jumlah tersebut akan melesat drastis menjadi triliunan menyerupai gugusan galaksi ketika diiringi dengan nutrisi dan stimulasi yang selaras. Kualitas hubungan antarsel ini sangat bergantung pada apa yang dikonsumsi si kecil sehari-hari.

Salah satu komponen esensial dalam menunjang kecepatan berpikir anak adalah keberadaan asupan lemak.

"Pertumbuhan otak itu komponennya yang pertama adalah komponen lemak. Jadi di dalam otak itu ada selubung, namanya selaput mielin," kata dr. Yoga.

Apabila selubung saraf tersebut belum terbentuk sempurna, aliran informasi akan berjalan lambat dan anak sulit berfokus. Sebaliknya, saat pembungkus saraf ini mulai menebal melalui proses mielinisasi, laju impuls akan melesat tanpa hambatan.

"Selubung mielin ini isinya lemak. Lemak itu pembungkusnya kami sebut namanya sphingomyelin. Di mana 'kakinya' namanya phospholipid," terang dr. Yoga.

Di samping dua zat pembungkus tersebut, tubuh juga memerlukan komponen penunjang lain seperti zat besi, asam folat, alpha-lactalbumin, serta zinc. Seluruh elemen nutrisi ini bekerja layaknya infrastruktur transportasi yang bebas hambatan.

"Sehingga si komponen tadi bisa bergerak dengan cepat kayak jalan tol. Sehingga tadinya dia berpikir 'Satu tambah satu', butuh waktu lima detik buat jawab, setelah dia diulang-ulang jadi cuman satu detik sudah bisa jawab," tutur dr. Yoga.

Melihat besarnya kebutuhan lemak spesifik tersebut dalam pembentukan saraf, orangtua perlu cermat meracik menu harian. Dokter Yoga amat menganjurkan asupan protein hewani berkat kepadatan nilai gizinya, terutama dari berbagai jenis ikan harian.

"Di protein hewani itu pasti dia akan mengandung AA dan DHA yang baik, dan di dalamnya pasti terdapat sphingomyelindan phospholipid yang baik," papar dr. Yoga.

Kebutuhan nutrisi pendukung pembentukan mielin ini juga terus diteliti di tingkat global. Category Marketing Manager Wyeth Nutrition S-26, Vera Niki Gozali, menyatakan pihaknya sangat fokus melakukan riset panjang mengenai bidang neurokognisi.

"Salah satu bentuk kolaborasi yang paling baru yang kami lakukan dalam bentuk riset itu adalah dengan Brown University, untuk menemukan kandungan gizi yang teruji klinis dapat mendukung proses mielinasi," ungkap Vera.

Inovasi formulasi hasil penelitian tersebut berfokus pada kelengkapan gizi mikro dan makro guna menunjang sambungan sel secara instan. Berdasarkan riset tersebut, anak tidak hanya memerlukan sphingomyelin, phospholipid, AA, DHA, dan alpha-lactalbumin agar kecepatan berpikirnya fantastis. 

Mereka pun memerlukan omega 3 dan 6, choline, asam folat, vitamin B12, serta zinc. Bila kebutuhan nutrisi tersebut tercukupi dengan baik, anak tidak hanya akan mampu mengingat lebih cepat, tetapi juga membuat si kecil menjadi lebih fokus dan siap menampung lebih banyak ide kreatif saat belajar.

Terkini