JAKARTA - Pola komunikasi orangtua kepada anak tidak sekadar memengaruhi suasana hati sesaat, melainkan turut membentuk cara pandang anak atas dirinya sendiri serta hubungan yang ia jalin bersama orang tuanya.
Dalam keseharian, tidak sedikit orangtua yang mencetuskan kalimat tertentu sewaktu merasa lelah, jengkel, atau ingin anak mendadak menurut.
Walau terdengar sepele, sederet ungkapan dapat memicu anak merasa tidak dipahami, kurang dihargai, bahkan merasa tak aman untuk mengekspresikan emosinya.
- Baca Juga 60 Persen Penyakit Terkait Polusi Udara
Psikolog klinis Dr. Shefali Tsabary mengutarakan bahwa kata-kata menyimpan daya besar dan mampu meninggalkan kesan mendalam pada diri seorang anak.
Oleh sebab itu, orangtua wajib lebih cermat dalam menentukan cara berkomunikasi supaya ikatan dengan anak senantiasa hangat dan suportif.
Berikut tiga kalimat yang patut dihindari orang tua sewaktu berbicara dengan anak.
Kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan orangtua kepada anak
"Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?"
Membandingkan anak bersama saudara kandung ataupun anak lain barangkali diniatkan sebagai lecutan motivasi. Namun, trik ini justru berisiko memicu anak merasa dirinya kurang baik.
Menurut Dr. Shefali, kebiasaan membandingkan anak dapat menyulut perasaan rendah diri sekaligus menciptakan rivalitas yang tak sehat antarsaudara.
Sebaliknya, orangtua dianjurkan untuk menghargai keunikan tiap-tiap anak lantaran masing-masing menyimpan karakter, kompetensi, dan gaya belajar yang berlainan.
Hal ini turut didukung oleh riset dari Pennsylvania State University yang memperlihatkan bahwa saudara kandung yang tumbuh pada keluarga serupa tetap memiliki kepribadian serta iklim perkembangan yang berbeda.
Sebab itu, membandingkan mereka bukanlah pendekatan yang efektif.
Daripada berkata, "Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?", orangtua dapat mencoba mengatakan, “Ayo kami cari cara supaya kamu bisa berkembang sesuai kemampuanmu.”
"Karena Ayah atau Ibu bilang begitu"
Kalimat ini kerap dipakai untuk menghentikan silang pendapat dengan anak. Namun, menurut Dr. Shefali, ungkapan tersebut mampu memutuskan komunikasi lantaran anak tidak menerima penjelasan perihal alasan di balik suatu patokan atau keputusan.
Memberikan penjabaran sederhana yang sesuai usia anak justru dapat membantu mereka belajar memahami batasan sekaligus memupuk rasa percaya kepada orang tua.
Bukan berarti orangtua mesti memaparkan segala hal secara panjang lebar. Penjelasan ringkas seperti, "Kamu harus tidur lebih awal supaya tubuhmu bisa beristirahat dan besok tetap segar," sanggup membantu anak memahami alasan di balik patokan tersebut.
"Berhenti menangis"
Saat menyaksikan anak menangis, sebagian orangtua barangkali secara spontan meminta mereka menyudahi tangisannya supaya kondisi cepat tenang. Padahal, kalimat ini mampu memicu anak merasa emosinya tidak diterima.
Menurut Children's Hospital of Philadelphia, mengabaikan atau menekan perasaan anak tidak membantu mereka belajar mengelola emosi.
Sebaliknya, anak memerlukan pendampingan untuk mengenali, memahami, serta mengekspresikan perasaannya lewat cara yang sehat.
Dr. Shefali menyarankan agar orangtua terlebih dahulu mengafirmasi perasaan anak. Misalnya lewat ucapan, "Ibu tahu kamu sedang sedih," atau "Ayah mengerti kamu kecewa."
Seusai itu, orang tua dapat membimbing anak menemukan cara untuk menenangkan diri dan menuntaskan persoalan yang dihadapinya.
Mengapa pilihan kata orang tua penting?
Anak belajar mengenali jati dirinya, mengerti emosi, serta membangun rasa percaya diri lewat interaksi harian bersama orangtua.
Oleh karena itu, komunikasi yang sarat empati menjadi salah satu pilar penting dalam pengasuhan.
Bukan berarti orangtua wajib selalu berujar sempurna. kekeliruan dalam berkomunikasi merupakan hal yang lumrah.
Kendati demikian, menyadari efek dari kata-kata yang dilontarkan dan berikhtiar memperbaikinya dapat membantu menciptakan hubungan yang kian hangat, terbuka, dan saling menghargai antara orang tua dan anak.