Lonjakan Harga Avtur Picu Penurunan Jumlah Penumpang Asia Pasifik 2026

Kamis, 06 Agustus 2026 | 03:11:31 WIB
Volume penumpang pesawat internasional di kawasan Asia-Pasifik merosot 1,1% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 30,46 juta penumpang pada Juni 2026. (Foto: NET)

JAKARTA — Volume penumpang pesawat internasional di kawasan Asia-Pasifik merosot 1,1% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi 30,46 juta penumpang pada Juni 2026. Jumlah ini meneruskan tren penurunan dari Mei, ketika volume penumpang turun untuk pertama kalinya semenjak Maret 2021.

Association of Asia-Pacific Airlines (AAPA) dalam keterangan resminya, Rabu (5/8/2026) mengemukakan secara bulanan (month on month/MoM), angka lalu lintas penumpang Juni pun turun sebesar 3,76%. 

"Penurunan tersebut mencerminkan pengurangan kapasitas serta kenaikan harga tiket pesawat akibat lonjakan harga bahan bakar, bahkan ketika aktivitas perjalanan mendekati puncak musim pertengahan tahun," ungkap IATA.

Sementara itu, revenue passenger kilometers (RPK), naik 1,1% secara tahunan tetapi turun 4,01% secara bulanan pada Juni 2026. Kenaikan tahunan pada RPK, meskipun jumlah penumpang turun, mencerminkan permintaan yang tetap kuat untuk perjalanan jarak jauh. 

Serupa pula, kapasitas penumpang dalam hal available seat kilometers (ASK) naik tipis 0,3% secara tahunan namun menyusut 4,67% secara bulanan.

Pada paruh pertama 2026, maskapai penerbangan Asia-Pasifik mengangkut 192,49 juta penumpang internasional, naik 3,2% dibandingkan periode yang serupa tahun lalu.

"Lalu lintas penumpang melambat pada bulan Juni karena kenaikan harga tiket dan penyesuaian kapasitas di beberapa pasar regional menekan permintaan," ujar Direktur Jenderal AAPA, Wong Hong.

Platts, bagian dari S&P Global Energy, mencatat harga rata-rata bahan bakar jet FOB Singapura sebesar US$139,22 per barel pada Juli 2026, dibandingkan dengan US$124,93 per barel pada Juni dan US$151,73 per barel pada Mei. 

Sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah tahun ini, harga acuan tersebut rata-rata berada di angka US$89,03 per barel pada Februari dan US$83,32 per barel pada Januari.

International Air Transport Association (IATA) juga mengutarakan bahwa minat terhadap perjalanan udara di dalam kawasan Asia melemah, terhambat oleh tingginya harga bahan bakar jet. 

"Di kawasan Asia, lalu lintas penumpang menyusut sebesar 2,6% secara tahunan pada Juni, yang menandai penurunan pertama sejak pandemi. Hal ini sebagian besar mencerminkan langkah maskapai penerbangan untuk mengurangi layanan jarak pendek sebagai respons terhadap harga bahan bakar yang lebih tinggi," kata mereka.

Kapasitas di koridor tersebut turun sebesar 4,8% secara tahunan, sementara tingkat keterisian kursi (PLF) meningkat sebesar 1,9 poin persentase menjadi 82,8%. Sejumlah pasar utama mencatat penurunan lalu lintas pada rute intra-Asia selama bulan tersebut, mencakup Jepang, Korea Selatan, Thailand, Indonesia, serta Vietnam.

Maskapai penerbangan Asia, termasuk Korean Air, Japan Airlines, dan All Nippon Airways, telah menerapkan biaya tambahan yang cukup besar pada tarif tiket di tengah tingginya harga bahan bakar jet. 

Baru-baru ini, maskapai penerbangan Taiwan akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar untuk penerbangan internasional mulai 9 Agustus, demikian disampaikan oleh Otoritas Penerbangan Sipil (CAA) negara tersebut pada 3 Agustus.

"Akibat kenaikan harga bahan bakar penerbangan baru-baru ini, biaya tambahan bahan bakar penumpang maskapai internasional akan dinaikkan mulai tanggal 9 bulan ini," kata CAA Taiwan dalam rilisnya. 

Pihak mereka pun menambahkan bahwa biaya untuk rute jarak pendek akan dinaikkan menjadi US$30 dan rute jarak jauh menjadi US$78.

Di sektor kargo udara, permintaan turun 5,39% secara bulanan namun tumbuh 3,2% secara tahunan pada bulan Juni. Permintaan kargo pada semester pertama tahun ini melonjak 7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menatap masa depan, maskapai penerbangan terus menghadapi kondisi operasional yang menantang, dengan ketidakpastian yang terus berlanjut terkait konflik Timur Tengah yang berkontribusi pada volatilitas harga bahan bakar serta tekanan berkelanjutan terhadap biaya operasional.

"Berbagai hambatan ini, ditambah dengan tingkat kepercayaan bisnis yang lebih moderat serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan, dapat meredam pertumbuhan pasar perjalanan dan kargo udara dalam beberapa bulan mendatang," kata Wong.

Terkini