Idgitaf Ungkap Proses Kreatif Pembuatan Lima Lagu Home Sweet Loan The Musical

Kamis, 06 Agustus 2026 | 05:14:31 WIB
Penyanyi sekaligus penulis lagu Idgitaf. (Foto: NET)

JAKARTA — Penyanyi beserta pencipta lagu Idgitaf mengonfirmasi keikutsertaannya sebagai pengubah lima lagu orisinal anyar yang bakal mengisi dinamika emosi Kaluna di dalam pementasan teater "Home Sweet Loan The Musical".

Pernyataan tersebut diungkapkan pada sesi konferensi pers bersama awak media di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Jakarta, Kamis.

Kelima nomor tembang anyar yang dipersiapkan itu masing-masing mengusung tajuk "Beli Sekarang", "Riuh Jakarta", "Satu Nafas Lagi", "Amarah Seperti Apa", serta "Zona Aman". Berbagai karya mutakhir ini dirancang secara lugas tanpa berbelit, menurut Idgitaf, demi menyuarakan jeritan hati kaum buruh kelas urban sekaligus generasi lapis jenuh (sandwich generation).

"Proses dari penulisan lima lagu ini enggak fix lima awalnya. Jadi aku bilang, 'Coba aja dulu satu. Kalau kamu suka cara kerja aku, kita gas terus.' Soalnya kan aku vibe check itu belum pernah sama dua perempuan (tim penulis) ini," ujar Idgitaf saat menceritakan awal mula keterlibatannya.

Kendati wajib meramu lagu dari sebuah naskah drama, ia mengaku sama sekali tidak merasakan beban berat sepanjang fase kreatif berjalan.

"Tapi sebenarnya kalau ditanya tantangannya apa, jujur aku enggak merasa begitu semenantang itu. Menurut aku enggak seberat itu. Kenapa? Karena aku mengerjakan karya yang bukan karyaku. Aku balik lagi, bukan cerita gue, ini cerita orang. Jadi gua hanya menyampaikan apa yang orang ini rasakan. Gua enggak sok-sokan leveling sama diri gue," kata Idgitaf.

Idgitaf turut membeberkan karakteristik peracikan liriknya yang khas dan cenderung berlainan dibanding pakem penataan musik panggung pada umumnya.

"Aku tipe penulis lirik yang sering kali judul dulu baru lagunya. Karena judul tuh kayak memberikan premis jelas ini tentang apa, gitu. Jadi beda banget sama kayak Kak Ivan (penata musik Ivan Tangkulung) yang biasanya nada dulu baru liriknya. Aku kayak lirik dulu, jadi mereka ngobrol, aku tulis semuanya," tuturnya menambahkan.

Dari kelima materi yang disediakan, ia menunjuk karya bertajuk "Amarah Seperti Apa" sebagai salah satu andalannya. Di sisi lain, untuk seksi penutup pementasan, ia merancang tembang bertajuk "Satu Nafas Lagi" dengan pendekatan minimalis tetapi sarat makna.

"Aku tuh awalnya kayak, 'Oke, gue mau bikin ini kayak grand, big banget, show banget.' Tapi aku balik lagi, maksudnya, kita nyari apa di Kaluna tuh? Apakah kita nyari kemewahan? Tidak, mending ke Grand Indonesia, gitu. Kita nyari di Kaluna tuh adalah sebuah relief, sebuah pengakuan, sebuah validasi. Jadi, kayak ya udah Satu Nafas Lagi, gitu. Kayaknya kita bisa bertahan mungkin satu nafas lagi," ucap pelantun lagu Berakhir di Aku tersebut.

Inisiatif teater musikal ini merupakan wujud peleburan lintas ekosistem seni berukuran besar yang mempertemukan industri sinema, panggung musikal, serta pengembangan pementasan seni. Produksi adaptasi ini dikerjakan secara gotong royong oleh Visinema Pictures, Indonesia Kaya, bersama kolektif teater pemuda Jakarta Art House.

Program Director Indonesia Kaya, Billy Gamaliel, memaparkan bahwa proyek tersebut sekaligus menjadi sarana kaderisasi berkat keterlibatan banyak talenta segar dari alumni program Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya (IMB).

"Ini juga menjadi project membangkakan karena banyak teman-teman dari alumni programnya Indonesia Kaya, Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya, yang terlibat di tim. Di tim kreator sudah ada sutradaranya Lisa Reideka dari IMB Angkatan Ketiga," jelas Billy.

Selain itu koreografernya sudah malang melintang di West End kembali ke West Mall, Indonesia, kembali ke Galeri Indonesia Kaya, ada El Haq Latief yang sudah berkarier di London West End, IMB angkatan pertama, dan juga banyak teman-teman yang terlibat dari IMB satu, dua, dan tiga yang terlibat jadi pemain juga, katanya.

Pada momen serupa, pengarang novel orisinal "Home Sweet Loan", Almira Bastari, menimpali bahwa gagasan dasar penciptaan narasi itu bermula dari pengalaman pribadinya tatkala masih aktif bekerja sebagai analis finansial.

"Sebagai financial analyst, setiap pagi itu harus baca Bloomberg dan Wall Street Journal. Terus hari itu ada artikel anak muda di Hong Kong tuh harus nyicil apartemen studio 25 tahun gitu. Dan saya rasa isu ini ternyata enggak cuma di kita aja nih orang-orang anak muda tuh susah beli rumah, di negara-negara lain pun di seluruh dunia juga ada kesulitan itu," ungkap Almira.

Ia pun mengenang bagaimana fluktuasi suasana kediamannya di era pagebluk turut memberi inspirasi bagi pembentukan tokoh dalam buku drama serius perdananya ini.

"Kan kita pandemi gitu ya, jadi kakak-kakak saya yang udah nikah tuh balik ke rumah. Jadi pas balik ke rumah ini, kok jadi saya semua nih yang ngerjain? Jadi sebenarnya lumayan, 'Oh, begini rasanya.' Nah habis itu pingin nulis cerita ini. 'Home Sweet Loan' mungkin adalah cerita pertama saya yang dramanya itu lebih berat, tapi ternyata bisa menemukan lapisan pembaca baru," pungkasnya.

Pementasan resmi "Home Sweet Loan The Musical" diagendakan menjumpai para penikmat seni pertunjukan mulai tanggal 30 September sampai dengan 18 Oktober 2026 bertempat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Terkini