Semester I/2026: KFC Indonesia Pangkas Kerugian Menjadi Rp56,74 Miliar Kini

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 14:13:31 WIB
PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST). (Foto: NET)

JAKARTA – Perusahaan pengelola gerai KFC, PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST), mencatatkan performa bisnis yang semakin positif selama periode Januari hingga Juni 2026. Angka kerugian bersih yang berhasil dicatat oleh pihak perusahaan menyusut lebih dari 50% sepanjang semester pertama tahun 2026.

Merujuk pada dokumen laporan keuangan, FAST sukses mencetak perolehan top line yang tangguh dengan kenaikan pendapatan mencapai 16,08% year-on-year (YoY) dari Rp2,40 triliun selama periode Januari—Juni 2025 menjadi Rp2,78 triliun pada kurun waktu yang sama di 2026.

Dari divisi penjualan, sumbangan terbesar untuk KFC masih bersumber dari Restaurant Support Center (RSC) di Jakarta dengan total nilai menyentuh Rp979,98 miliar sepanjang 2026. Di samping itu, RSC Medan menyumbang Rp209,15 miliar dan Makassar sejumlah Rp352,24 miliar. 

Tidak hanya itu, angka penjualan perusahaan di Palembang juga tercatat sebesar Rp218,11 miliar, Bandung senilai Rp186,50 miliar, serta area lainnya mencapai Rp843,85 miliar. Seluruh kawasan penjualan milik perusahaan mengalami peningkatan sepanjang semester I/2026.

Beriringan dengan kenaikan angka penjualan, FAST mencatat beban pokok penjualan yang ikut melonjak 28,23% YoY menjadi Rp1,23 triliun sepanjang periode Januari—Juni 2026. 

Realisasi tersebut membengkak dari angka Rp961,44 miliar. Meski berada di posisi tersebut, FAST sebenarnya masih sanggup membukukan laba bruto sejumlah Rp1,55 triliun sepanjang semester I/2026. Posisi tersebut mengalami kenaikan dari Rp1,44 triliun pada kurun waktu serupa di 2025.

Hanya saja, sesudah dipotong aneka pajak serta tanggungan lain, FAST hanya mampu membukukan kinerja rugi sebesar Rp56,74 miliar selama enam bulan pertama di 2026. Realisasi angka rugi ini jauh lebih optimal dibandingkan Rp138,75 miliar pada kurun waktu yang sama di 2025.

Dari perspektif neraca keuangan, FAST mencatat total aset yang meningkat menjadi Rp5,16 triliun sampai Juni 2026. Realisasi itu mengalami kenaikan dari Rp4,94 triliun per Desember 2025. 

Namun, total kewajiban perusahaan ikut membengkak menjadi Rp4,75 triliun per Juni 2026. Sebaliknya, ekuitas perusahaan menurun menjadi Rp408,94 miliar per Juni 2026.

Terkini