Sejarah Tiwul: Pengganti Nasi dan Penyelamat Rakyat di Era Penjajahan

Senin, 17 Agustus 2026 | 01:48:01 WIB
Ilustrasi tiwul [FOTO: NET].

JAKARTA - Jauh sebelum Indonesia mengumumkan kemerdekaannya, komoditas beras sebenarnya sudah lama menjadi salah satu bahan pangan utama bagi masyarakat. Kendati demikian, tidak semua lapisan rakyat mempunyai kemampuan untuk menikmati nasi dari beras setiap harinya. 

Faktor kondisi ekonomi, melambungnya harga beras, terbatasnya hasil pertanian, serta situasi masa penjajahan memaksa warga di berbagai wilayah untuk mencari alternatif sumber pangan yang lain. 

Salah satu pilihan utamanya adalah tiwul, yakni makanan yang terbuat dari bahan dasar singkong dan pernah menjadi makanan pokok bagi masyarakat di sejumlah daerah di Pulau Jawa. 

tiwul bukan sekadar produk kuliner tradisional yang kini lazim ditemui sebagai jajanan pasar. Di tengah situasi yang amat sulit pada masa lampau, makanan berbahan singkong ini bertindak sebagai pengganti nasi bagi masyarakat yang mengalami kesulitan besar untuk memperoleh ataupun membeli beras.

Puncak dari tingkat ketergantungan masyarakat Jawa terhadap konsumsi tiwul terjadi pada kurun waktu masa pendudukan militer Jepang yang berlangsung dari tahun 1942 hingga 1945. 

Serupa dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebelumnya, aparat militer Jepang secara paksa menyedot serta merampas habis seluruh hasil bumi dan persediaan pangan dari tanah Indonesia demi menyokong keperluan logistik Perang Pasifik mereka.

Dampak nyata dari aksi perampasan pangan yang dilakukan oleh pemerintah pendudukan Jepang tersebut memicu terjadinya kelangkaan beras yang berujung pada lonjakan harga yang sangat tinggi di pasaran. Pasokan padi milik warga disita secara sepihak, sehingga beras mendadak hilang dari peredaran umum. 

Akibatnya, nasi beras berubah wujud menjadi sajian makanan mewah yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir kelompok kalangan elit atau para tentara penjajah saja. Di sisi lain, tiwul yang menawarkan harga relatif murah serta ketersediaan bahan baku singkong yang sangat melimpah menjadi pilihan yang paling rasional bagi rakyat demi menyelamatkan diri dari ancaman bahaya kelaparan. 

Keberadaan tiwul pada masa itu sekaligus merekam jejak sebagai saksi bisu dan penanda eksistensi pahitnya era penjajahan Jepang. Makanan ini dikonsumsi secara rutin sebagai menu utama sehari-hari oleh para pejuang kemerdekaan serta masyarakat luas dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup mereka.

Sejarah panjang tiwul sebagai alternatif pengganti nasi tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis wilayah serta situasi krisis sosial, ekonomi, dan politik yang melanda Nusantara kala itu. Menurut penjelasan dari seorang sejarawan sekaligus pengajar pada Program Studi Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, tiwul merupakan makanan pokok utama yang dikonsumsi oleh masyarakat yang bermukim di daerah-daerah dengan karakteristik tanah berkapur dan cenderung tandus.

 Eksistensi makanan ini sangat populer di beberapa wilayah kawasan Jawa, seperti halnya Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan, Wonosobo, hingga Blitar.

“Tiwul yang berbahan baku singkong dijadikan pengganti nasi ketika harga beras tidak terbeli oleh masyarakat pada era penjajahan Jepang hingga tahun 1960-an,” kata Heri.

Ketika harga beras melambung sangat tinggi dan berada jauh di luar batas jangkauan daya beli masyarakat dari kelas bawah, tanaman ubi kayu atau singkong lantas diandalkan sebagai tumpuan hidup utama. 

Tanaman singkong yang dikenal memiliki ketahanan cukup baik terhadap kondisi iklim kering kemudian diolah sedemikian rupa supaya bisa dijadikan sebagai makanan pokok dengan kandungan karbohidrat tinggi untuk menggantikan posisi nasi beras.

Pada masa sekarang, tiwul justru lebih dikenal luas sebagai jenis camilan yang disajikan bersama taburan parutan kelapa serta siraman cairan gula merah. Tidak berhenti di situ saja, saat ini juga terdapat beragam variasi penyajian tiwul dengan aneka tambahan bahan pelengkap yang menarik. Mulai dari campuran ketan hitam, butiran jagung rebus pipilan, hingga sajian singkong rebus yang diserut.

Terkini