RI Swasembada Pangan, Bapanas Incar Ekspor Beras 1 Juta Ton

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:22:01 WIB
Panen raya di Lumbung Pangan Nasional, Kampung Wanam, Papua Selatan [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemerintah menetapkan keberhasilan swasembada pangan sebagai kado peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia. Kendati demikian, klaim tersebut masih menyisakan tugas besar mengingat dari 11 komoditas pangan strategis sasaran pemerintah, beberapa di antaranya seperti bawang putih, kedelai, serta daging dan susu masih harus diperjuangkan agar mencapai kemandirian.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia sanggup merealisasikan swasembada pangan lebih cepat dibandingkan tenggat yang dirancang sebelumnya. Pemerintah pun mulai membuka peluang pengiriman beras ke luar negeri lantaran pasokan domestik terbilang surplus.

“Kado ulang tahun dari kami untuk Republik Indonesia adalah Indonesia sudah mencapai swasembada pangan dalam waktu sesingkat-singkatnya, dari target 4 tahun menjadi 1 tahun. Kado ulang tahun kedua, kemarin Alhamdulillah kami mengekspor beras ke negara lain,” ujar Amran dalam upacara peringatan HUT ke-81 RI di Jakarta, Senin (17/8/2026).

Amran menerangkan bahwa pemerintah bahkan membidik ekspor awal sejumlah 1.000 ton beras pada pekan ini. Peluang ekspor tersebut diperkirakan dapat meluas dari 200.000 ton hingga menyentuh 1 juta ton.

“InsyaAllah kami akan ekspor target kami. Pertama, insyaallah minggu ini 1.000 ton, dan peluangnya adalah 200 ribu ton, bahkan bisa sampai 1 juta ton. Itu adalah persembahan dari Bapak-Ibu semua,” tuturnya.

Pencapaian ini menjadi penanda bahwa produksi beras dalam negeri sudah sanggup mencukupi kebutuhan domestik sekaligus memberikan ruang bagi pemenuhan pasar ekspor. Kendati demikian, tolok ukur kemandirian pangan memiliki cakupan yang jauh lebih luas sebab meliputi kemampuan menyediakan beraneka ragam pangan secara berkelanjutan, menjaga ketersediaan stok serta stabilitas harga, hingga menekan kerentanan dari potensi gangguan produksi.

Amran sendiri tidak menampik bahwa masih terdapat tiga kelompok komoditas yang mesti dikejar dari 11 komoditas pangan sasaran pemerintah. Ketiga kelompok tersebut meliputi bawang putih, daging dan susu, serta kedelai.

“Kami yakin kalau kami kolaborasi, kami kompak, pasti ini bisa kami capai. Moga-moga 3–5 tahun ini bisa jadi kenyataan,” ujar Amran.

Oleh karena itu, prestasi swasembada yang dirayakan pemerintah saat ini pada hakikatnya masih berjalan beriringan dengan agenda pengurangan tingkat ketergantungan impor pada beberapa komoditas. Tantangannya kemudian beralih dari yang semula sekadar mendongkrak produksi satu komoditas utama menjadi pembentukan struktur pangan yang lebih menyeluruh dan tangguh terhadap gangguan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri masih tampak pada sejumlah komoditas pangan. Impor gula rafinasi masih berlangsung dalam kuantitas dan nilai yang relatif besar guna memenuhi kebutuhan industri.

 Pada kelompok gula kristal putih kategori HS 17019990, tercatat angka importasi senilai US13.445,72.Sementaraitu,imporbawangmerahkategorishallots,bulbsforpropagation,freshorchilledtercatatbernilaiUS836.456,50 pada 2025, sebelum akhirnya menyusut menjadi US$181.225 pada periode Januari hingga Juni 2026.

Adapun untuk komoditas cabai kategori chillies, fruits of genus capsicum, fresh or chilled, nilai impor tercatat sebesar US$284.243,18 pada 2025. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, tidak ditemukan adanya aktivitas impor pada kategori tersebut. Data tersebut mengindikasikan adanya penurunan impor pada beberapa jenis komoditas, khususnya bawang merah dan cabai. Meski begitu, struktur pasokan pangan nasional masih menyimpan beberapa titik yang sangat bergantung pada kapasitas produksi serta pemenuhan kebutuhan komoditas tertentu.

Di ranah petani, tantangan untuk mewujudkan swasembada tidak sebatas pada persoalan peningkatan produksi semata. Kepala Pusat Perbenihan Nasional Serikat Petani Indonesia (SPI) Kusnan menilai target swasembada pada dasarnya adalah cita-cita positif, namun mengehendaki konsistensi arah kebijakan serta pengembangan ekosistem pertanian dalam jangka panjang. 

Menurut pemaparannya, ekspansi produksi melalui perluasan area tanam memerlukan durasi waktu karena lahan baru membutuhkan proses pematangan tanah, ketersediaan sumber air, hingga pembentukan ekosistem sosial petani.

“Target swasembada pangan merupakan cita-cita yang positif, namun cukup ambisius jika ditargetkan dalam jangka waktu yang sangat singkat,” katanya.

Kusnan berpandangan bahwa keberhasilan swasembada semestinya ditopang oleh integrasi dari sektor hulu sampai hilir. Peningkatan kapasitas produksi perlu bergerak selaras dengan kepastian penyerapan hasil panen serta stabilitas harga agar lonjakan produksi mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani.

Persoalan harga menjadi salah satu tantangan paling krusial di tingkat tapak. Kala produksi melonjak dan menginjak musim panen raya, harga acap kali justru merosot sehingga tambahan volume produksi tidak secara otomatis mendongkrak pendapatan petani.

“Kepastian Harga saat Panen Raya adalah tantangan nomor satu. Sering terjadi harga jatuh saat produksi melimpah, yang membuat peningkatan produksi tidak berbanding lurus dengan keuntungan petani,” ujar Kusnan.

Di luar masalah harga, para petani masih diperhadapkan pada persoalan tata kelola serta ketersediaan pupuk, persoalan regenerasi petani, hingga ancaman dinamika perubahan iklim. Cuaca ekstrem yang kian sukar diprediksi rentan mengganggu pola tanam sekaligus meningkatkan potensi kegagalan panen.

Oleh sebab itu, sejumlah program racikan pemerintah dinilai sudah mulai mendatangkan manfaat di lapangan. Langkah pompanisasi dan rehabilitasi jaringan irigasi dinilai krusial untuk mengatasi masa kekeringan dan memacu indeks pertanaman. Pemberian bantuan alat dan mesin pertanian turut membantu memangkas biaya tenaga kerja serta mempercepat alur proses produksi.

Sebaliknya, program cetak sawah masih membutuhkan penyesuaian dan optimalisasi lantaran harus berhadapan dengan persoalan tingkat kesuburan tanah awal, keterbatasan pasokan tenaga kerja lokal, hingga kesiapan jaringan irigasi sekunder maupun tersier.

Aspek kelembagaan petani turut menjadi elemen kunci yang sangat menentukan. Kusnan mengamati bahwa peran koperasi atau kelembagaan tingkat desa belum sepenuhnya optimal menjadi penampung hasil panen dengan tingkat harga yang adil, sehingga praktik perantara atau tengkulak masih dominan di berbagai wilayah.

Kondisi demikian menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan swasembada pangan wajib dicermati lebih jauh, tidak sekadar berpatokan pada neraca produksi. Apabila peningkatan produksi tidak dibarengi kepastian harga dan jaminan pasar, petani harus menanggung risiko bahwa keberhasilan panen justru tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan mereka.

Amran sebelumnya sempat menyebutkan bahwa kesejahteraan petani berada pada posisi tertinggi dalam kurun 34 tahun terakhir. Nilai Tukar Petani (NTP) juga diklaim menyentuh pencapaian tertinggi dalam kurun 25 tahun. Dari sisi neraca perdagangan, pemerintah mencatat lonjakan ekspor sebesar Rp166 triliun, sedangkan angka impor berhasil ditekan turun Rp41 triliun. Nilai tambah yang tercipta diklaim menembus angka Rp200 triliun.

“Kita ada nilai tambah Rp200 triliun. Dan ini puncak kebahagiaan petani kita,” kata Amran.

Di sisi lain, upaya penguatan swasembada pangan perlu pula diarahkan pada pemenuhan pangan sumber protein. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti menilai penguatan potensi pangan lokal mampu memegang peranan penting dalam membangun kemandirian protein nasional, utamanya melalui pemanfaatan sumber daya lokal sebagai bahan baku pakan.

Menurut Esther, pangan lokal mempunyai nilai unggul dari segi pembiayaan lantaran mampu diproduksi dengan biaya yang lebih efisien ketimbang pakan komersial. Sumber daya tersebut juga tersedia melimpah selaras dengan potensi di tiap daerah dan berpeluang mendukung pemenuhan gizi ternak jika diformulasikan secara presisi.

Penguatan ini memerlukan pembenahan pada rantai pasok dari hulu hingga hilir. Integrasi antara lini produksi, distribusi, sampai pengolahan perlu berjalan beriringan agar peningkatan produksi tidak berhenti pada komoditas mentah semata.

“Perbaikan rantai pasok dari hulu sampai hilir dilakukan dengan mengintegrasikan sistem produksi, distribusi, dan pengolahan secara vertikal,” ujar Esther.

Dari sisi produksi, Esther berpendapat pemerintah bersama para pelaku usaha wajib memperkuat pemuliaan bibit unggul melalui ketersediaan rekam jejak genetika, menciptakan kemandirian pakan memanfaatkan potensi lokal, serta memperketat langkah pencegahan penyakit atau biosafety. Sementara di lini hilir, pengaplikasian teknologi pengolahan amat dibutuhkan mulai dari proses pemotongan hewan, penangkapan ikan, teknik pendinginan untuk pengawetan, hingga pengolahan produk agar menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

Melalui bagan struktur tersebut, kemandirian pangan tidak lagi melulu bersandar pada kemampuan mencetak komoditas primer. Kapasitas produksi, ketersediaan sarana input, sarana pengolahan, efisiensi distribusi, hingga aksesibilitas pasar wajib bergerak terpadu dalam satu kesatuan rantai pasok.

Isu kualitas sumber daya manusia juga memegang peranan vital. Esther menggarisbawahi bahwa pembenahan kelembagaan harus ditopang oleh ketersediaan sumber daya manusia yang profesional, jujur, serta berintegritas.

Pemerintah saat ini memegang target untuk mengejar ketertinggalan produksi bawang putih, kedelai, serta daging dan susu dalam kurun tiga hingga lima tahun mendatang. Keberhasilan skenario ini akan sangat bergantung pada kapabilitas mengubah capaian produksi menjadi sebuah sistem pangan yang berkelanjutan, sehingga swasembada tidak berhenti sekadar perayaan neraca komoditas, melainkan menjelma menjadi kapasitas nasional dalam menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan produksi pangan.

Terkini