C2C-CTF 2026 Buktikan Talenta Siber Indonesia Mampu Bersaing Global

Jumat, 21 Agustus 2026 | 03:15:32 WIB
ILUSTRASI Foto para pemenang kompetisi keamanan siber internasional Country-to-Country Capture The Flag [FOTO: NET].

JAKARTA - Direktur Pelaksana perusahaan keamanan siber Spentera Group Royke L. Tobing mengutarakan bahwa ajang kompetisi keamanan siber internasional Country to Country Capture The Flag (C2C-CTF) yang berlangsung di Bali pada 10 hingga 14 Agustus 2026 membuktikan kemampuan talenta keamanan siber Indonesia untuk bersaing di level global.

Kehadiran talenta Indonesia di dalam tim pemenang C2C-CTF 2026, menurut pandangannya, menegaskan bahwa sumber daya manusia dalam negeri sanggup bersanding dengan talenta-talenta keamanan siber dari pelbagai mancanegara.

"Ini bukan kompetisi yang mudah. Untuk sampai ke final saja mereka harus melewati ratusan peserta, kemudian di babak akhir harus bekerja bersama orang-orang dari negara, bahasa, universitas, dan keahlian yang berbeda," kata Royke dalam siaran pers perusahaan yang diterima di Jakarta pada Jumat. (21/8/2026).

Royke menerangkan bahwa esensi utama kompetisi tersebut tidak sekadar berfokus pada hadiah, melainkan pada pengalaman serta pembuktian kapasitas peserta dalam merespons persoalan keamanan siber secara langsung.

"Uang hadiah tentu membanggakan, tetapi yang jauh lebih berharga adalah pembuktian kemampuan. Mereka ditempatkan dalam situasi yang menuntut kecepatan berpikir, ketelitian, kemampuan memecahkan masalah, dan kerja sama di bawah tekanan," katanya.

Dalam ajang C2C-CTF 2026, para kontestan dihadapkan pada bermacam simulasi kendala keamanan digital, seperti mendeteksi celah sistem, mengidentifikasi potensi ancaman serangan, hingga merumuskan formulasi pencegahan dan penanganannya.

Tantangan di dalam kompetisi tersebut dirancang menyerupai dinamika kasus nyata, sehingga para peserta tidak cuma dituntut menguasai teori keamanan digital, melainkan juga piawai mengamankan keputusan secara cepat serta menjalin komunikasi dengan anggota tim.

Royke menilai bahwa pelaksanaan kompetisi sekelas C2C-CTF krusial guna menggembleng kemahiran menghadapi potensi ancaman siber yang tidak terhalang batas wilayah.

"Serangan siber bisa datang dari mana saja dan dampaknya juga bisa melintasi negara. Karena itu, orang yang akan berada di garis depan keamanan digital tidak cukup hanya hebat secara teknis. Mereka harus bisa bekerja dengan siapa saja, memahami masalah dengan cepat, lalu mengambil keputusan yang tepat," ia menjelaskan.

Royke berharap torehan prestasi talenta Indonesia dalam ajang C2C-CTF 2026 dapat dijadikan batu loncatan guna memperluas ruang pembinaan talenta keamanan siber di dalam negeri.

"Kami punya anak-anak muda yang sangat bagus. Tugas berikutnya adalah memastikan mereka mendapatkan arena untuk berlatih, berkompetisi, melakukan kesalahan, lalu belajar menjadi semakin baik," katanya.

C2C-CTF 2026 merupakan ajang kompetisi keamanan siber skala internasional di bawah naungan International Cyber Security – Center of Excellence (INCS-CoE).

Pada helatan ini, Fakultas Teknik Universitas Indonesia bertindak selaku tuan rumah dan Universitas Udayana sebagai mitra lokal.

Sementara itu, Hacktrace yang merupakan bagian dari Spentera Group menyediakan Hacktrace Ranges, yaitu laboratorium virtual untuk melatih para peserta menghadapi simulasi skenario serangan dan pertahanan sistem digital.

Hacktrace memiliki lebih dari 50 laboratorium untuk ajang latihan mendeteksi serta menguji kerentanan sistem, ditambah 20 laboratorium khusus untuk pemeliharaan pertahanan sistem.

Skenario pelatihan pada fasilitas tersebut dirancang menyerupai kondisi aktual dan telah dimanfaatkan oleh lebih dari 10.000 pengguna.

Rangkaian C2C-CTF 2026 diikuti oleh utusan perguruan tinggi dari berbagai negara, di antaranya University of Cambridge (Inggris), Keio University (Jepang), Royal Holloway University of London (Inggris), Edith Cowan University (Australia), The University of Melbourne (Australia), Cambodia Academy of Digital Technology, National University of Laos, Universitas Indonesia, serta Institut Teknologi Bandung.

Fase kualifikasi kompetisi ini diikuti oleh 710 pendaftar. Sebanyak 100 peserta dari 15 negara lantas melenggang ke babak final dan dikelompokkan ke dalam tim lintas negara yang masing-masing beranggotakan lima orang.

Penerapan skema kompetisi ini menuntut para peserta tidak hanya memamerkan kecakapan teknis keamanan siber, tetapi juga kemampuan berkomunikasi serta berkolaborasi dengan kolega yang memiliki bahasa dan latar belakang berbeda.

Perwakilan Indonesia yang terdiri atas Jacinta Syilloam dari ITSN dan Bambang Priyanto dari Binus University berhasil menjadi bagian dari tim yang menyabet juara pertama dan berhak mengantongi hadiah sebesar 4.000 dolar AS atau setara Rp72 juta dalam kompetisi tersebut.

Terkini