Rupiah Tertekan ke Kisaran Rp17.730, Defisit Transaksi Berjalan dan Demo Bayangi Pasar

Kamis, 27 Agustus 2026 | 00:24:00 WIB

EDUKASIEKONOMI.COM — Pergerakan rupiah hari ini berlangsung dinamis. Di pasar spot, mata uang Garuda sempat menyentuh level terkuatnya di Rp17.689 per dolar AS pada sesi awal, sebelum akhirnya kehilangan tenaga dan berbalik melemah pada siang hari.

Penguatan awal tersebut sempat ditopang oleh penurunan harga minyak dunia. Brent tercatat di US$86,2 per barel dan WTI di US$80,40 per barel, memberikan sedikit ruang napas bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Namun, sentimen positif itu cepat sirna. Data ekonomi Amerika Serikat yang solid—dengan indeks PMI Jasa AS di level 56,8, tertinggi sejak Desember 2024—terus mendorong penguatan dolar AS di pasar global.

Defisit Transaksi Berjalan dan Arus Modal Keluar

Dari dalam negeri, beban terbesar datang dari fundamental ekonomi. Defisit transaksi berjalan Indonesia melebar signifikan menjadi US$12,5 miliar atau setara 3,3% dari PDB pada kuartal II/2026. Angka ini mencerminkan tekanan struktural yang membuat investor asing semakin selektif menanamkan modalnya di pasar keuangan domestik.

Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian sosial-politik. Rencana aksi demonstrasi besar pada 27 Agustus 2026 ikut memicu kehati-hatian pelaku pasar, sehingga aliran modal asing keluar (capital outflow) semakin deras.

Kurs Bank Besar Ikut Bergerak

Bank-bank nasional pun menyesuaikan kurs jual belinya. BCA memasang kurs beli di level Rp17.685 dan kurs jual Rp17.705 per dolar AS. Sementara itu, Mandiri menetapkan kisaran lebih tinggi, dengan kurs beli Rp17.690 dan kurs jual Rp17.720.

BRI dan BNI juga mencatat rentang yang serupa, mengindikasikan bahwa pelemahan terjadi merata di seluruh lapisan pasar valuta asing domestik.

Proyeksi Jangka Menengah: Masih Ada Tekanan

Para analis memperkirakan pelemahan ini bukan sekadar gejolak harian. Kebijakan The Fed yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama membuat dolar AS tetap perkasa terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski peluang penguatan sesekali masih terbuka—terutama jika harga komoditas kembali naik atau sentimen risiko global membaik—arah pergerakan rupiah dalam jangka menengah masih cenderung melemah.

Pelaku pasar, terutama importir dan perusahaan dengan utang dalam denominasi dolar, disarankan untuk terus memantau pergerakan nilai tukar dan melakukan lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi volatilitas yang masih tinggi.

Terkini