Hashim: Teknologi CCUS Jaga PLTU Batubara Tetap Beroperasi

Rabu, 26 Agustus 2026 | 03:23:31 WIB
Special Envoy of the President of the Republic of Indonesia for Climate and Energy, Hashim Djojohadikusumo. (Foto: NET)

JAKARTA - Pemerintah dihadapkan pada situasi pelik tatkala menjalankan proses transisi energi. Di satu sisi, Indonesia mempunyai komitmen kuat guna mewujudkan target net zero emission (NZE) selambat-lambatnya pada tahun 2060. 

Namun di sisi lain, negara ini masih memerlukan sokongan energi berbasis fosil, termasuk batu bara, demi mengamankan ketahanan energi nasional sekaligus memelihara laju pertumbuhan ekonomi.

Special Envoy of the President of the Republic of Indonesia for Climate and Energy, Hashim Djojohadikusumo, berpandangan bahwa teknologi carbon capture, utilization and storage (CCUS) sanggup berfungsi sebagai solusi titik tengah guna merajut kedua kepentingan yang tampak berseberangan tersebut. 

Berdasarkan pandangan Hashim, penerapan teknik penangkapan karbon memberi kesempatan bagi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang memakai bahan bakar batu bara agar dapat terus beroperasi diiringi tingkat pelepasan emisi yang jauh lebih minim. 

Lewat cara demikian, sektor industri batu bara tidak harus ditinggalkan secara terburu-buru di tengah gencar-gencarnya langkah pemerintah menekan pelepasan emisi karbon.

"Ini bukan sesuatu yang bertentangan. Ini saling melengkapi," ujar Hashim tatkala berpidato di ajang The 4th International & Indonesia Carbon Capture and Storage (IICCS) Forum 2026 yang berlangsung di Jakarta, pada hari Rabu (26/8/2026).

Hashim memaparkan bahwa Indonesia menyimpan persediaan batu bara dalam jumlah melimpah, sehingga komoditas tersebut dipandang krusial untuk terus dipertahankan sebagai salah satu pilar pasokan energi. 

Terlebih lagi, dinamika geopolitik global memperlihatkan adanya potensi ancaman gangguan pasokan energi yang bersumber dari luar negeri secara signifikan. 

Beliau memberikan contoh berupa hambatan akses di sejumlah jalur pelayaran perdagangan energi dunia yang dinilai membuktikan betapa rentannya posisi Indonesia terhadap terpaan krisis eksternal.

Atas dasar itulah, pihak pemerintah berketetapan menjaga ketahanan sektor energi dengan memaksimalkan potensi kekayaan alam di dalam negeri sendiri. 

Berkenaan dengan strategi tersebut, kehadiran teknologi penangkapan karbon dipandang pas untuk diandalkan guna mengelola pemanfaatan energi fosil secara beriringan dengan misi penurunan emisi. 

Hashim bahkan mengungkap bahwa inovasi serupa mempunyai peluang besar untuk diaplikasikan ke dalam jajaran PLTU yang dikelola oleh PT PLN (Persero) maupun fasilitas pembangkit milik pihak independent power producer (IPP).

"Artinya, industri batu bara kami masih memiliki cukup banyak masa depan, kami dapat mempertahankan PLTU batu bara," ucap beliau.

Kendati demikian, implementasi CCUS tetap menuntut adanya kemajuan penguasaan teknologi serta suntikan investasi agar bisa dimanfaatkan secara luas di berbagai lini. 

Hashim menilai bahwa tren perkembangan teknologi penangkapan karbon masa kini telah membuka lembaran peluang anyar bagi sektor industri energi nasional. Sebagai ilustrasi, beliau menyinggung uji coba teknologi penangkapan karbon asal Jepang yang diterapkan di area Petrokimia Gresik. 

Berdasarkan laporan yang beliau terima langsung dari Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, inovasi tersebut terbukti sanggup mereduksi kadar emisi karbon di kisaran 90% hingga 95%.

Tidak sekadar menyerap karbon dioksida, rangkaian proses tersebut turut mendatangkan produk sampingan berupa baking soda atau soda ash yang selama ini porsi pemenuhannya di dalam negeri masih sangat bergantung pada barang impor. 

Bahkan, menurut keterangan Hashim, sejumlah korporasi asal Jepang telah menyampaikan ketertarikan secara terbuka untuk menyerap hasil produksi tersebut.

Selain menyasar sektor ketenagalistrikan, Hashim melihat adanya prospek cerah penggunaan teknologi CCUS di ranah industri minyak dan gas. Tingginya kandungan karbon dioksida ($CO_2$) pada sejumlah sumur lapangan gas kerap kali menjadi kendala klasik dalam upaya pengembangan wilayah kerja. 

Walau demikian, kemajuan teknologi mutakhir memungkinkan zat $CO_2$ tersebut tidak sekadar disuntikkan kembali ke perut bumi, melainkan diolah kembali menjadi produk bahan baku yang bernardy. 

Salah satu pemanfaatannya adalah untuk budidaya mikroalga yang kemudian dapat diproses lebih lanjut menjadi biofuel serta bahan pakan ternak.

Hashim berpendapat bahwa pemanfaatan inovasi ini sanggup mengubah status $CO_2$ yang mulanya merupakan beban finansial bagi perusahaan menjadi sebuah aset berharga bernilai ekonomis.

"$CO_2$ Anda akan menjadi aset positif, bukan lagi liabilitas di neraca," tutur Hashim.

Menurut penilaian beliau, Indonesia sesungguhnya telah memiliki kelengkapan modal dasar yang memadai untuk merintis produksi mikroalga, mulai dari limpahan sinar matahari, ketersediaan air, hingga luasnya lahan. 

Ditambah dengan pasokan gas $CO_2$ berbiaya murah yang dihasilkan oleh sektor industri energi, peluang pengembangan aneka produk turunan berbasis mikroalga ini diyakini bakal semakin terbuka lebar.

Walaupun demikian, Hashim tetap menegaskan komitmen penuh pemerintah terhadap pencapaian target ambisius NZE 2060. Ia menekankan bahwa Indonesia berkeinginan memacu ekspansi pertumbuhan ekonomi hingga menyentuh kisaran 8% dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan tanpa harus mengorbankan pilar ketahanan energi nasional. 

Oleh sebab itulah, pemanfaatan teknologi CCUS diposisikan sebagai salah satu instrumen kunci demi menjamin keberlangsungan hidup industri energi fosil sekaligus sukses menekan laju emisi karbon secara bersamaan.

Terkini