Rekind Tegaskan Peran Strategis di Industri Panas Bumi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:22:33 WIB
PT Rekayasa Industri (Rekind). (Foto: NET)

JAKARTA — PT Rekayasa Industri (Rekind) menegaskan komitmennya dalam memajukan sektor panas bumi nasional lewat pembangunan fasilitas PLTP, kemitraan strategis, serta transfer pengetahuan dengan para pelaku industri terkait.

Direktur Utama Rekind Triyani Utaminingsih menyatakan bahwa sektor panas bumi memegang peranan krusial bagi pencapaian kedaulatan dan ketahanan energi tanah air. 

“Panas bumi tidak hanya menyediakan energi bersih, tetapi juga mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional,” kata Triyani dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).

Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, Rekind berpartisipasi dalam ajang The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 bersama mitra strategisnya, PT Timas Suplindo (Timas). 

IIGCE sendiri berfungsi sebagai forum pertemuan penting antara pemerintah, pengembang pembangkit, perusahaan EPC, penyedia teknologi, serta stakeholder pendukung industri PLTP.

Rekind mencatatkan rekam jejak kontribusi yang substansial dalam pengembangan panas bumi di Indonesia. Dari total kapasitas PLTP nasional yang dibangun pemerintah sebesar 2.744 MW, sebanyak 990,4 MW atau setara 36,1% berasal dari proyek berstandar rancang bangun Rekind.

Portofolio tersebut menjadi fondasi kuat bagi Rekind untuk terus berkontribusi di sektor panas bumi sekaligus memperkokoh posisinya sebagai perusahaan EPC nasional. 

Salah satu proyek teranyar Rekind dikerjakan melalui kerja sama bersama PT Timas Suplindo dalam Proyek PLTP Salak Unit 7 milik Star Energy Geothermal yang berlokasi di Sukabumi, Jawa Barat.

Project Manager PLTP Salak 7 Dwi Novianto mengungkapkan bahwa sinergi antara Timas dan Rekind telah berjalan sejak 2024 lewat skema Joint Operation (JO) untuk merampungkan proyek Engineering, Procurement, Construction and Installation (EPCI) yang sepenuhnya didukung oleh tenaga ahli dan insinyur dalam negeri.

Menurut Dwi, keikutsertaan dalam ajang IIGCE 2026 menjadi momentum strategis untuk mempererat kolaborasi serta berbagi wawasan demi mengakselerasi pertumbuhan ekosistem panas bumi nasional. 

Proyek PLTP Salak Unit 7 yang berkapasitas 40 MW ini menghadapi berbagai tantangan unik, mulai dari kompleksitas teknis, tenggat waktu yang ketat, kontur wilayah pegunungan, tantangan mobilitas alat berat, hingga area kerja yang terbatas seluas sekitar 6.000 meter persegi serta berdampingan langsung dengan fasilitas eksisting yang masih beroperasi.

Saat ini, progres pengerjaan proyek telah menyentuh angka sekitar 80% dan bersiap memasuki fase transisi dari konstruksi menuju tahapan pre-commissioning. 

Tahapan ini meliputi inspeksi kualitas instalasi, uji coba awal sistem, penyelesaian daftar periksa (punch list), kelengkapan dokumen serah terima, hingga persiapan commissioning.

Berbagai pengalaman berharga dalam pengerjaan PLTP Salak Unit 7 membuktikan bahwa sektor panas bumi menuntut perpaduan antara keahlian teknis, kolaborasi solid, ketelitian tinggi, pengalaman, serta kompetensi sumber daya manusia nasional. 

Pemanfaatan panas bumi juga menjadi pilar krusial untuk mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam, memperkokoh industri domestik, serta membangun kemandirian energi Indonesia.

Terkini

Aturan Batalkan Transaksi Kredivo Setelah 24 Jam

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:50:02 WIB

Rekomendasi Drama Korea Terpopuler Sepanjang Agustus 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:29:02 WIB

KPop Demon Hunters Naik ke Posisi Enam Top 10 Netflix

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:25:31 WIB