Militer AS Tembak Jatuh Tiga Drone Kartel Meksiko Pakai Laser Berenergi Tinggi

Minggu, 30 Agustus 2026 | 17:23:00 WIB

EDUKASIEKONOMI.COM — Untuk pertama kalinya, sistem senjata laser darat berenergi tinggi (Army Multipurpose High Energy Laser System) dikerahkan secara operasional di perbatasan selatan AS. Jenderal Curtis Taylor, komandan satuan tugas gabungan perbatasan selatan, menyatakan drone-drone tersebut diduga digunakan untuk memantau pergerakan personel militer dan mitra penegak hukum.

"Jaringan kartel semakin sering menggunakan pesawat nirawak untuk memfasilitasi penyelundupan manusia dan secara aktif memata-matai personel serta mitra penegak hukum kami," ujar Taylor dalam pernyataan resminya.

Mengapa Laser Jadi Senjata Andalan?

Biaya operasional menjadi alasan utama militer beralih ke sistem laser. Setiap tembakan laser hanya menghabiskan biaya sekitar 13 dolar AS (sekitar Rp 214 ribu), jauh lebih murah dibandingkan rudal pertahanan udara portabel (MANPADS) yang bisa menghabiskan biaya ribuan hingga jutaan dolar per peluncuran.

Efisiensi biaya ini membuat sistem laser lebih layak secara ekonomi untuk menghadapi ancaman drone yang semakin masif. Penggunaan drone dalam medan perang modern memang menonjol saat pasukan Ukraina menggunakannya untuk bertahan melawan militer Rusia yang jauh lebih besar.

Rekam Jejak Sistem Laser Militer AS

Ini bukan kali pertama sistem laser digunakan untuk mengamankan wilayah udara AS. Pada Februari lalu, Pentagon memakai sistem serupa untuk menembak jatuh target udara tak dikenal. Sayangnya, insiden tersebut memaksa penutupan darurat sebuah bandara besar dan targetnya ternyata hanya balon pesta.

Dua pekan kemudian, operasi laser kembali dilakukan dan berhasil menembak jatuh sebuah drone. Namun, drone tersebut ternyata milik unit Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, bukan drone kartel yang dianggap bermusuhan.

Militer menolak merilis detail lebih lanjut mengenai insiden terbaru ini dengan alasan keamanan operasional. Belum jelas apakah drone ditembak jatuh di wilayah udara AS atau Meksiko, meskipun juru bicara militer menyatakan operasi dilakukan terkoordinasi dengan semua mitra di sepanjang perbatasan.

Perlombaan Senjata Laser Global

AS bukan satu-satunya negara yang mengembangkan teknologi ini. Inggris baru-baru ini mengumumkan akan memasang senjata laser DragonFire di kapal perusak Angkatan Laut Kerajaan pada 2027. Sementara itu, China telah mengembangkan sistem laser anti-drone seukuran ransel yang mampu menjangkau target hingga jarak 1.600 kaki.

Untuk konsumen sipil, sistem pertahanan laser rumahan kini tersedia dengan harga sekitar 1.000 dolar AS (sekitar Rp 16,5 juta), meskipun fungsinya lebih ditujukan untuk mengusir serangga terbang daripada ancaman drone.

Terkini