EDUKASIEKONOMI.COM — Didik menilai tugas berat menanti Gubernur BI terpilih, Destry Damayanti. Menurutnya, kepemimpinan baru di bank sentral tidak akan banyak mengubah sistem moneter dan posisi rupiah yang selama ini cenderung lemah. "Kepemimpinan baru memang tidak mungkin bisa mengubah faktor-faktor yang menjadi kendala selama ini. Jadi kepemimpinan baru saya prediksi tidak akan banyak mengubah sistem moneter dan rupiah seperti biasanya tetap akan lemah," ujarnya, Minggu (30/8/2026).
Akar permasalahannya, menurut Didik, bukan terletak pada siapa yang memimpin BI. Struktur ekonomi Indonesia yang terbentuk selama ini dinilainya lemah di sektor luar negeri. Meski pasar domestiknya besar—dengan populasi 293 juta jiwa dan kelas menengah yang luas—hal tersebut tidak otomatis membuat mata uang kuat.
Hanya Andalkan Suku Bunga, Bukan Solusi
Didik menyoroti pola kebijakan BI yang dinilainya monoton, hanya mengandalkan instrumen suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah. "Bank Indonesia bisa saja mempertahankan nilai tukar, tetapi sistem dan struktur seperti sekarang ini tetap akan berjalan. Kebijakan yang akan dilakukan rutin seperti biasa menaikkan suku bunga saat nilai tukar rupiah melemah drastis," jelasnya.
Namun, strategi ini dinilainya hanya solusi jangka pendek yang penuh dilema. Menaikkan suku bunga memang berpotensi menarik modal asing karena imbal hasil aset Indonesia menjadi lebih menarik. Akan tetapi, biaya transaksi yang tinggi di Indonesia—akibat carut-marut hukum, sosial politik, dan kebijakan yang rumit—justru berdampak negatif pada dunia usaha, kredit perumahan (KPR), dan investasi domestik.
Sebaliknya, jika BI menurunkan suku bunga untuk mendorong investasi, investor justru berpotensi kembali beralih ke aset berbasis dolar AS. "Kebijakan konservatif yang sederhana hanya dengan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat," tegas Didik.
Mengapa Devisa Terus Tergerus?
Kondisi ini diperparah dengan ketidakseimbangan arus devisa. Indonesia yang terus membayar impor, utang luar negeri, dan transaksi internasional menggunakan dolar AS, tetapi tidak diimbangi pemupukan cadangan devisa yang besar dari ekspor, investasi asing, atau pariwisata. Akibatnya, permintaan dolar lebih besar daripada pasokan, sehingga nilai tukar terus tertekan.
Didik juga menyoroti perubahan orientasi pengusaha nasional yang kini cenderung inward looking atau hanya fokus ke pasar domestik. Setelah era outward looking di tahun 1980-an dan 1990-an, kini pengusaha lebih nyaman menjual di dalam negeri. Praktik ini memang menguntungkan, tetapi tidak memberi efek positif bagi penguatan rupiah, bahkan bisa negatif karena proses produksinya dinilai "rakus impor".
PR Besar bagi Destry Damayanti
Didik meyakini