Gunung Sinabung Erupsi, Status Naik ke Level III Siaga

Senin, 31 Agustus 2026 | 22:50:07 WIB
Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mencatatkan peningkatan aktivitas vulkanik yang berujung pada letusan. (Foto: NET)

JAKARTA — Gunung Sinabung yang terletak di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mencatatkan peningkatan aktivitas vulkanik yang berujung pada letusan pada hari Senin (31/8/2026). 

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Lana Saria, menyampaikan bahwa status aktivitas Gunung Sinabung resmi dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga mulai tanggal 31 Agustus 2026 pukul 12.30 WIB.

Letusan tersebut tercatat terjadi pada pukul 10.17 WIB dengan ketinggian kolom erupsi mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak, atau setara kurang lebih 5.960 meter di atas permukaan laut. 

Kolom abu yang membumbung tampak berwarna hitam dengan tingkat intensitas yang tebal serta condong mengarah ke timur dan tenggara. Peristiwa letusan ini terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 120 milimeter dan terpantau masih berlangsung saat laporan khusus dari Badan Geologi disusun.

Kenaikan aktivitas Gunung Sinabung sejatinya telah terdeteksi sebelum terjadinya erupsi. Menjelang detik-detik letusan, tercatat sebanyak 85 kali gempa vulkanik, satu kali gempa hembusan, serta satu kali tremor harmonik. 

"Erupsi ini merupakan sebagai erupsi awal, dan tidak menutup kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar," ujar Lana dikutip dari keterangan resminya.

Sebelumnya, status Gunung Sinabung berada pada Level II Waspada sejak tanggal 17 Mei 2023. Pada level tersebut, masyarakat dianjurkan untuk tidak melakukan kegiatan apa pun dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung, serta radius sektoral 4,5 kilometer di bagian selatan-timur. Kini, Badan Geologi memperluas kawasan yang wajib dihindari. 

Warga serta pengunjung dilarang beraktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, area dalam radius radial 3 kilometer dari puncak, serta radius 6 kilometer untuk sektor selatan-timur. 

Di samping ancaman material letusan, masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar aliran sungai berhulu di Gunung Sinabung juga diminta agar senantiasa mewaspadai potensi bahaya lahar.

Peningkatan aktivitas vulkanik ini turut tecermin melalui hasil pengamatan sepanjang kurun waktu 1 hingga 30 Agustus 2026. Selama periode itu, kondisi visual Gunung Sinabung terpantau mulai dari terlihat jelas hingga tertutup kabut. 

Asap dari kawah utama tampak berwarna putih serta kelabu berintensitas tipis hingga tebal, dengan kisaran ketinggian 50 sampai 1.000 meter dari puncak. 

Keadaan cuaca tercatat cerah hingga turun hujan, disertai arah angin yang bertiup bervariasi dari utara ke barat. Pengamatan lapangan juga mendapati vegetasi di lereng sisi timur mulai menguning dan mengering.

Dari aspek kegempaan dalam periode tersebut, tercatat satu kali gempa guguran, 14 gempa hembusan, dua gempa tornillo, 29 gempa low frequency, delapan gempa hybrid atau fase banyak, satu gempa vulkanik dangkal, dan 141 gempa vulkanik dalam. 

Badan Geologi juga mencatat adanya 26 gempa tektonik lokal, satu gempa yang dirasakan, 93 gempa tektonik jauh, serta satu gempa getaran banjir.

Seiring terjadinya erupsi, evaluasi terhadap tingkat aktivitas Gunung Sinabung akan terus dijalankan secara berkala ataupun sewaktu-waktu apabila dijumpai perubahan yang signifikan. 

Badan Geologi mengimbau masyarakat agar tetap tenang serta mematuhi seluruh arahan dari pemerintah daerah bersama BPBD Provinsi Sumatra Utara dan BPBD Kabupaten Karo. 

Pemerintah daerah juga didorong untuk terus membangun koordinasi secara aktif bersama Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung yang berlokasi di Desa Ndokum Siroga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo.

Terkini