Dampak Kemarau, APUKN Dorong Pemantauan Air di Kawasan Industri

Selasa, 01 September 2026 | 18:54:02 WIB
Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) Elias Ginting [FOTO: NET].

JAKARTA - Asosiasi Pelaku Usaha Kokas Nusantara (APUKN) mendorong pemerintah, pengelola kawasan industri, beserta pemangku kepentingan terkait demi memacu pemantauan kondisi hidrologi sepanjang musim kemarau guna menjaga kelancaran operasional industri kokas nasional.

Ketua APUKN Elias Ginting mengutarakan musim kemarau mulai memunculkan tantangan, utamanya akibat keterbatasan pasokan air di kawasan industri serta penurunan muka air sungai yang berimbas pada alur distribusi coking coal dari Kalimantan.

Menurut dia, dalam keterangan resmi dikonfirmasi di Jakarta, Selasa, sejumlah tenant termasuk industri kokas pada kawasan Morowali mulai melangsungkan penyesuaian operasional menyusul keterbatasan pasokan air. Dalam kondisi tertentu, pasokan air dilaporkan sekadar menyentuh angka 50 persen dari volume normal.

"Air merupakan salah satu utilitas penting bagi industri kokas, terutama untuk pendinginan, pengendalian emisi dan berbagai proses penunjang. Industri saat ini terus melakukan efisiensi dan optimalisasi penggunaan air agar produksi tetap berjalan," kata Elias.

APUKN mencatat tekanan imbas musim kemarau turut berimbas pada sisi pasokan bahan baku. Sekitar 20 persen kebutuhan coking coal industri kokas bersumber dari penyedia domestik, khususnya sebagai unsur campuran atau blending bahan baku.

Sebagian pasokan itu didatangkan dari Kalimantan dan sangat mengandalkan moda transportasi sungai.

Kata dia, berpatokan pada pengolahan data Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III oleh APUKN, rerata tinggi muka air di Muara Teweh merosot dari kisaran 21,02 meter pada Juli menjadi 20,39 meter pada Agustus 2026.

Pada 12 Agustus, tinggi muka air bahkan sempat menyentuh angka 19 meter. Penurunan serupa turut terpantau di wilayah Marabahan dan Gampa.

Elias memaparkan penurunan muka air sungai dapat mengakibatkan kapal tongkang tidak selalu sanggup mengangkut muatan dalam kapasitas normal.

Operator kapal pada kondisi tertentu mesti memangkas muatan atau menyesuaikan ulang jadwal pelayaran demi memprioritaskan keselamatan.

"Sekitar 20 persen bahan baku coking coal kami berasal dari dalam negeri. Ketika muka air sungai turun, kapasitas pengangkutan ikut terpengaruh. Jika kemarau panjang masih akan berlanjut maka produksi kokas akan tertekan dan akan berdampak cukup signifikan terhadap volume ekspor produk ini serta meningkatkan beban biaya logistik," ujarnya.

Kendati demikian, APUKN menegaskan aktivitas produksi industri kokas secara umum masih tetap beroperasi. Para pelaku industri telah menempuh serangkaian langkah mitigasi, mulai dari efisiensi pemakaian air, penataan kapasitas muatan dan jadwal tongkang, hingga memelihara ketersediaan persediaan bahan baku.

APUKN berharap pemerintah, pengelola kawasan industri, BWS, pemasok batu bara, serta pelaku jasa logistik dapat memperkuat koordinasi sekaligus pemantauan kondisi hidrologi selama periode musim kemarau.

Langkah tersebut dinilai esensial guna merawat kelancaran pasokan coking coal domestik bagi industri kokas maupun sektor industri hilir pengguna kokas, seperti feronikel, besi dan baja, hingga stainless steel.

"Yang perlu kami jaga adalah agar tekanan akibat kemarau ini tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap rantai pasok dan program hilirisasi industri nasional," kata Elias.

Terkini

Pemprov Jabar Bakal Perkuat Kompetensi SAR Bencana hingga Desa

Selasa, 01 September 2026 | 21:48:02 WIB

BPS Catat NTP Agustus 2026 Naik 1,05% Menjadi 129,19

Selasa, 01 September 2026 | 21:41:32 WIB

Rincian Bansos Cair September 2026 Lengkap Beserta Syaratnya

Selasa, 01 September 2026 | 21:35:02 WIB