EDUKASIEKONOMI.COM — Industri pembiayaan atau multifinance masih punya peluang mencatat perbaikan pada segmen pembiayaan investasi hingga kuartal IV-2026. Hanya saja, ruang perbaikannya tidak akan merata dan cenderung terbatas pada sejumlah perusahaan serta sektor tertentu.
Yusuf Rendy Manilet, ekonom Center of Reform on Economics (CORE), mengatakan belanja modal yang sempat ditunda pelaku usaha berpotensi mulai direalisasikan pada periode tersebut. Hal ini didorong data realisasi investasi pemerintah yang mencapai Rp511,8 triliun pada kuartal kedua tahun ini atau tumbuh 7,1% secara tahunan.
"Jadi, kebutuhan investasi sebenarnya masih ada, hanya saja tidak semuanya disalurkan melalui multifinance karena proyek dengan nilai besar banyak menggunakan perbankan, obligasi, atau dana internal perusahaan," jelasnya kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).
Biaya Dana Masih Berat
Salah satu penghambat utama perbaikan adalah suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang masih bertahan di level 5,75%. Kondisi ini membuat biaya pendanaan belum cukup murah untuk mendorong pembiayaan investasi berjangka panjang.
Tren penurunan minat investor juga terlihat dari penerbitan surat utang multifinance yang merosot 41,8% secara tahunan hingga Juli 2026. Yusuf menilai kecil kemungkinan terjadi rebound tajam pada pembiayaan investasi. Skenario paling realistis adalah kontraksi yang mulai mengecil dengan sebagian pemain mencatat pertumbuhan rendah satu digit.
CNAF dan BRI Finance Tumbuh Pesat
Meski industri sedang lesu, sejumlah pemain justru mencatatkan kinerja impresif pada semester I-2026. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) misalnya, berhasil menumbuhkan piutang pembiayaan investasi hingga 53% per Juni 2026.
Pencapaian serupa ditunjukkan PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) yang mencatat pertumbuhan pembiayaan investasi 46,85% secara tahunan pada periode yang sama. Menurut Yusuf, tren ini membuktikan permintaan pembiayaan investasi lewat multifinance masih ada, namun terkonsentrasi pada pemain dan sektor tertentu saja.
Faktor Pemicu Perbaikan
Perbaikan pembiayaan investasi ke depan akan ditopang setidaknya tiga faktor utama. Pertama, kebutuhan penggantian aset karena utilisasi produksi meningkat dan biaya pemeliharaan mesin atau armada lama semakin mahal. Kedua, berlanjutnya proyek hilirisasi dan infrastruktur yang memicu permintaan alat berat dan mesin produksi baru.
Ketiga, kepastian kebijakan pemerintah yang menjadi syarat utama pelaku usaha untuk berani melakukan ekspansi.
Harapan tetap ada, tetapi perusahaan pembiayaan diminta waspada. Risiko kredit macet atau NPL masih menjadi perhatian utama. Ekspansi pembiayaan yang agresif di tengah ketidakpastian proyek dan perizinan bisa menjadi bumerang bagi kesehatan keuangan perusahaan.