EDUKASIEKONOMI.COM — Laju penurunan yield SBN terbilang signifikan: sepanjang Agustus, imbal hasil acuan tenor 10 tahun turun sekitar 38 basis poin. Penurunan ini ditopang inflasi domestik yang terkendali di level 2,88% pada Juli, serta sentimen pasar yang relatif stabil. Di sisi lain, yield US Treasury tenor 10 tahun justru naik ke 4,786%—hampir menyentuh puncak 52 minggu—setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan sikap hawkish yang memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Tekanan global kian terasa setelah konflik AS-Iran mendorong harga minyak melonjak. Brent tercatat naik 2,71% ke US$90,49 per barel, sementara WTI menguat 2,83% ke US$85,76 per barel pada 31 Agustus. Kenaikan harga minyak berpotensi memanaskan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran moneter bank sentral, termasuk The Fed. Probabilitas kenaikan Fed rate pada Federal Open Market Committee (FOMC) 28 Oktober pun meningkat, dari 57% pada 24 Agustus menjadi 75% seminggu kemudian, menurut CME FedWatch.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menguat 0,82% ke level 6.578,75 pada 1 September, sementara nilai tukar rupiah bergerak di sekitar Rp17.724,6 per dolar AS.
Peluang di Pasar Domestik, Tapi Bukan Tanpa Syarat
Turunnya yield SBN biasanya menjadi katalis positif bagi reksadana pendapatan tetap, terutama yang portofolionya banyak ditempatkan di obligasi pemerintah. Harga obligasi bergerak naik ketika yield turun, sehingga nilai aset bersih (NAB) reksadana ikut terdongkrak. Namun besarnya keuntungan tergantung pada durasi dan komposisi portofolio masing-masing produk.
Reksadana berbasis obligasi korporasi lebih mengandalkan pendapatan kupon sebagai penopang utama, tetapi tetap terekspos risiko kredit dan likuiditas. Sementara itu, reksadana yang banyak memegang SBN tenor menengah-panjang memiliki sensitivitas lebih tinggi: potensi gain bisa lebih besar saat yield turun, tapi koreksinya juga lebih dalam ketika arah yield berbalik.
Proyeksi dari CORE Indonesia dan KB Valbury memperkirakan yield SBN 10 tahun pada akhir 2026 berada di kisaran 6,9%–7,35%. Dengan posisi saat ini di 6,99%, ruang penurunan berikutnya diperkirakan makin terbatas. Karena itu, akumulasi reksadana pendapatan tetap sebaiknya dilakukan bertahap, sambil mencermati durasi dan isi portofolio produk.