Prabowo Soal Keuangan Global: Perlu Lebih dari Satu Arsitektur

Jumat, 04 September 2026 | 19:31:02 WIB
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia [FOTO: NET].

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi Indonesia di tengah dunia yang semakin terfragmentasi. Menurutnya, meningkatnya penggunaan perdagangan sebagai instrumen tekanan, perubahan rantai pasok, serta fragmentasi sistem keuangan membutuhkan lebih banyak jembatan kerja sama antarnegara.

Pesan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pidato kunci sebagai Tamu Kehormatan Utama pada Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026).

“Kami bertemu pada masa yang sulit,” kata Prabowo mengawali bagian pidatonya.

Ia menyoroti kondisi perdagangan global yang semakin sering digunakan sebagai instrumen tekanan. Rantai pasok, menurutnya, juga dibentuk kembali berdasarkan kecurigaan, sementara sistem keuangan semakin terfragmentasi berdasarkan faktor geografis.

Dalam situasi tersebut, Prabowo menilai kerja sama konkret di berbagai bidang justru semakin penting.

“Justru karena dunia sedang terfragmentasi, setiap jembatan yang dibangun di sini—dalam bidang pangan, energi, ilmu pengetahuan, logistik, dan perdagangan—merupakan jawaban praktis,” ujarnya.

Prabowo juga menyoroti pentingnya ketahanan dalam sistem keuangan global. Menurutnya, ketahanan tidak seharusnya dibangun melalui ketergantungan pada satu arsitektur keuangan saja.

“Kami tidak boleh bergantung pada satu arsitektur keuangan karena jika satu sistem terganggu, sistem lain harus tetap mampu memfasilitasi aliran dana yang menjaga perdagangan tetap berjalan,” kata Prabowo.

Ia menekankan bahwa keberadaan saluran pembayaran dan penyelesaian transaksi yang dapat diandalkan menjadi salah satu prasyarat agar perdagangan internasional dapat terus berjalan.

Namun, Prabowo menegaskan gagasan tersebut bukanlah upaya menggantikan satu sistem keuangan dengan sistem lainnya.

“Ini bukan tentang menggantikan satu sistem dengan sistem lainnya, melainkan memastikan bahwa sistem keuangan global lainnya dapat beroperasi berdampingan dengan pengaturan yang sudah ada,” ujarnya.

Menurut dia, keberagamam saluran keuangan diperlukan untuk menjaga kesinambungan, stabilitas, dan kepercayaan dalam perdagangan internasional.

Di hadapan peserta EEF, Prabowo kembali menegaskan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.

“Kebijakan luar negeri Indonesia adalah bebas dan aktif,” tegasnya.

Indonesia, kata Prabowo, menentukan kepentingan nasionalnya sendiri sekaligus ingin berkontribusi aktif terhadap perdamaian dunia. Ia mengingatkan kembali pernyataannya dalam St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) tahun lalu bahwa Indonesia tidak ingin bergabung dengan aliansi militer mana pun, tetapi terbuka untuk membangun kerja sama ekonomi seluas mungkin.

“Indonesia tidak ingin bergabung dengan aliansi militer mana pun, tetapi kami ingin bergabung dengan aliansi ekonomi,” ujar Prabowo.

Menurut dia, FTA Indonesia dengan Eurasian Economic Union (EAEU) mencerminkan prinsip tersebut. Perjanjian itu bukan dibangun untuk menghadapi negara tertentu, melainkan sebagai kemitraan ekonomi yang bertujuan menciptakan kemakmuran bersama.

“FTA kami dengan Eurasian Economic Union adalah tepat seperti itu—bukan aliansi melawan siapa pun, melainkan kemitraan untuk kemakmuran semua orang,” katanya.

Prabowo menegaskan Indonesia akan terus bekerja sama dengan berbagai negara di berbagai penjuru dunia sebagai negara berdaulat dan setara.

“Bagi kami, seribu teman masih terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” ucapnya.

Prabowo juga mengaitkan kunjungannya ke Rusia dengan upaya memperkuat hubungan bilateral yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Ia mengatakan Indonesia datang ke St. Petersburg untuk menjalin persahabatan dan kini hadir di Vladivostok untuk mengubah persahabatan tersebut menjadi hasil yang lebih pragmatis.

“Indonesia dan Rusia telah menjadi sahabat selama beberapa dekade,” ujar Prabowo.

Ia turut mengingat dukungan Uni Soviet terhadap Indonesia pada masa awal berdirinya Republik Indonesia.

“Kami mengingat sejarah tersebut dan kami tidak pernah melupakan sahabat kami,” katanya.

Namun, Prabowo menekankan bahwa hubungan kedua negara tidak boleh hanya bergantung pada catatan sejarah.

“Persahabatan tidak boleh hanya hidup dalam sejarah. Generasi kami harus memiliki keberanian untuk menulis babak baru,” tegasnya.

Prabowo mengajak Indonesia dan Rusia membangun hubungan yang setara, mandiri, dan saling menguntungkan.

“Dan mari kami diukur berdasarkan apa yang dapat diwujudkan oleh upaya kami bagi rakyat kami,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Prabowo juga menghubungkan persoalan ekonomi dengan keamanan dan perdamaian. Menurutnya, konflik tidak dapat dipisahkan dari persoalan sosial dan ekonomi seperti kelaparan, pengangguran, ketidakadilan, serta rasa terhina.

“Perdamaian tidak terpisah dari pembangunan,” kata Prabowo.

Ia menilai pembangunan yang menciptakan kesempatan, memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, serta mendorong perdagangan terbuka merupakan bagian dari upaya menjaga perdamaian dalam jangka panjang.

“Timur Jauh yang memberikan kesempatan, negara-negara yang memberi makan anak-anaknya, dan Asia-Pasifik yang berdagang secara terbuka merupakan kontribusi nyata dan berkelanjutan bagi perdamaian,” ujarnya.

Prabowo kemudian merangkum pandangannya mengenai hubungan antara kedaulatan, perdamaian, dan pembangunan.

“Kedaulatan memungkinkan perdamaian, perdamaian memungkinkan pembangunan, dan pembangunan untuk kepentingan rakyat membuat perdamaian bertahan,” kata Presiden.

Karena itu, Prabowo menilai tema Eastern Economic Forum memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda ekonomi.

“Itulah sebabnya tema forum ini bukan sekadar slogan ekonomi; tema ini sebenarnya merupakan doktrin keamanan,” tegas Prabowo.

Terkini