Gandeng AI, Perancang Busana Stella Rissa Hidupkan Karakter Starlet

Jumat, 04 September 2026 | 02:35:32 WIB
Stella Rissa [FOTO: NET].

JAKARTA - Stella Rissa dikenal sebagai perancang busana di balik label STELLARISSA yang mengandalkan detail serta keahlian tangan pada setiap kreasinya. Kini, ia berupaya meluaskan batas eksplorasi artistiknya dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Sebagai fashion house yang biasanya bikin bridal, itu semuanya biasanya hampir 90 persen menggunakan tangan,” ujar Stella.

Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Stella dalam acara Press Briefing “Mind, Thread, Vision With Gemini, In Craft” di Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Meskipun mendedikasikan diri di kancah mode, Stella memandang bahwa kreativitas tidak mesti selalu bermanifestasi sebagai pakaian semata. Pemanfaatan Gemini AI justru mengantarkannya kembali pada sosok Starlet, sebuah figur rekaan yang sempat ia garap ketika masa pandemi.

“Walaupun memang aku fashion designer, sisi kreatif itu kan bisa berkembang ke banyak arah. Dengan teknologi ini, yang biasanya aku bikin baju, justru aku tidak mendesain baju menggunakan Gemini ini,” jelasnya.

Menjajal Medium Baru Bersama Tim Kreatif

Eksplorasi mutakhir ini sekaligus menjadi agenda pengujian mental yang menyegarkan bagi Stella beserta kru studionya. Ia mengajak seluruh anggota tim kreatif untuk turut mendalami teknologi tersebut agar mampu merumuskan terobosan baru dalam rangkaian proses berkarya.

“Ini adalah tools baru yang memang di studio aku ajak semua creative team-ku untuk juga belajar bersama,” kata Stella.

Menurut pandangan Stella, kesediaan untuk merangkul teknologi baru menjadi krusial lantaran roda perkembangan zaman bakal terus berputar. Di matanya, AI berfungsi sebagai instrumen pendukung yang memampukannya mewujudkan hal-hal di luar kebiasaan konvensional.

“Karena mau bagaimana pun juga teknologi adalah masa depan dan kalau kita tidak membuka diri untuk belajar sesuatu hal yang baru, itu kita akan ketinggalan atau kita tidak bisa memanfaatkan teknologi yang ada,” ujar Stella.

Menghidupkan Kembali Starlet lewat AI

Salah satu wujud eksplorasi Stella bersama AI bersumber dari karakter yang dirintis di studionya tatkala pandemi Covid-19 melanda. Sosok fiktif tersebut dinamai Starlet, yang mengusung filosofi 'perempuan yang bercahaya.'

Kala itu, Stella bersama timnya mempunyai keleluasaan waktu guna mematangkan karakter yang digurat memakai media cat air.

“Back in 2021 during Covid time, memang kita bukan membuat baju aja ya, kita membuat baju yang nyaman, seperti kaus. Dan di situ karena waktunya banyak, di studio kita mengembangkan sebuah karakter yang memang digambarkan menggunakan watercolor,” paparnya.

Proses pengembangan karakter Starlet sempat terhenti seiring berakhirnya masa pandemi, mengingat Stella dan kru kembali disibukkan oleh pelbagai agenda operasional. Peluang untuk melanjutkan proyek tersebut akhirnya terbuka ketika Google mengajak Stella bermitra dalam eksplorasi sektor mode dan AI.

Stella lantas terpanggil untuk membangkitkan kembali figur tersebut dan membawanya ke ranah yang lebih luas. Figur rekaan itu divisualisasikan hadir dalam beragam variasi lewat perubahan gaya rambut, busana, hingga rentang usia, namun tetap mempertahankan wujud kartun.

“Kita mau bikin umurnya berbeda-beda, tapi berbentuk kartun. Aku jadi mau challenge juga myself dan ini adalah tools baru,” tutur.

Eksplorasi ini juga terhubung secara langsung dengan lini busana rancangan Stella. Ia mengimajinasikan karakter tersebut mengenakan koleksi pakaian yang sebelumnya telah diperagakan di atas runway.

“Kita mencoba untuk bagaimana kalau misalnya semua Starlet ini bisa menggunakan baju-baju yang memang kita ada di runway. Kalau this cartoon can dress up di semua baju yang kita desain,” ujar Stella.

Pengembangan karakter tersebut tidak berhenti sebatas aspek visual semata. Stella turut membayangkan keterlibatan figur-figur perempuan lain sebagai bagian dari komunitas Starlet and friends, yang muara akhirnya diproyeksikan berwujud siniar.

Lewat media tersebut, Stella berkeinginan menyuarakan pesan yang selama ini konsisten diusung oleh jenamanya, yakni pemberdayaan kaum hawa. Penggunaan karakter kartun dipilih agar para perempuan tetap sanggup menyuarakan aspirasi tanpa harus memampang diri secara langsung.

“Dengan karakter yang berupa kartun ini mereka bisa merepresentasikan suara tanpa kita juga tampil,” kata Stella.

“Kalau ketika kita mau bahas sesuatu yang serius, dengan paket kartun itu akan lebih ringan rasanya,” tambahnya.

Tetap Membutuhkan Kreativitas Manusia

Bagi Stella, pengoperasian AI menuntut dirinya beserta tim untuk beradaptasi dengan cara pandang baru dalam menerjemahkan gagasan. Salah satu keahlian mendasar yang harus dikuasai adalah menyusun prompting secara mendetail.

“Yang perlu dipelajari kita sebagai manusia adalah cara kita melakukan prompting. Dan prompting itu adalah pembelajaran baru buat tim kreatif saya,” tuturnya.

Ia menilai prosedur tersebut menuntut ketelelitian tinggi mulai dari aspek latar belakang, penokohan, intonasi percakapan, corak suara, hingga variasi warna kulit. Oleh sebab itu, bagi Stella, AI melampaui fungsi generator gambar belaka, melainkan bertindak sebagai medium untuk mendobrak batas imajinasi.

“Dari situ saya juga belajar bahwa teknologi itu bisa membuat kita di industri kreatif sangat tidak terbatas. Imajinasi kita sangat tidak terbatas kalau kita punya intensi,” jelas Stella.

Terkini