Faktor Utama Kelangkaan Beras Premium di Toko Ritel

Jumat, 04 September 2026 | 05:21:01 WIB
Ketua Umum Aprindo Solihin. (Foto: NET)

JAKARTA — Tingginya harga beli beras premium di tingkat distributor yang melampaui harga eceran tertinggi (HET) membuat para peritel enggan menyetok komoditas tersebut di gerai mereka. Situasi ini memicu kelangkaan stok beras premium kemasan 5 kilogram di berbagai jaringan ritel modern. 

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan bahwa pasokan beras di pasar sebenarnya masih mencukupi, tetapi harga yang ditawarkan pemasok berada di atas batasan HET pemerintah. 

Para peritel berada dalam posisi dilematis karena diwajibkan menjual sesuai HET, sedangkan harga dari pemasok sudah lebih tinggi sehingga berisiko menimbulkan kerugian apabila tetap dibeli.

Ketua Umum Aprindo Solihin menjelaskan bahwa masalah tersebut telah berlangsung cukup lama dan kembali dirasakan dalam beberapa bulan terakhir. 

Menurutnya, pasokan yang masuk ke peritel jauh tertinggal dari total kebutuhan akibat pola distribusi dari prinsipal maupun distributor yang kerap menyaratkan pembelian beras premium bersamaan dengan beras fortifikasi. 

Di sisi lain, harga rata-rata nasional beras premium terus merangkak naik hingga menembus angka Rp15.626 per kilogram pada awal September, yang sudah melampaui ketentuan HET zona 1 dan zona 2. 

Kondisi ini turut dikonfirmasi oleh Badan Pusat Statistik Sumatra Selatan yang menyebut kelangkaan kemasan 5 kilogram menyulitkan masyarakat sehingga konsumen terpaksa beralih ke kemasan lebih besar atau eceran dengan harga lebih tinggi.

Menanggapi persoalan tersebut, pemerintah berupaya mendorong masuknya pasokan beras dari Perum Bulog ke ritel modern melalui koordinasi bersama Aprindo serta Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia. 

Kendati demikian, pihak Bulog menjelaskan bahwa stok yang tersedia adalah beras medium, sementara produk komersial seperti Be Food bukan merupakan bagian dari penugasan pelayanan publik. 

Pengamat Pertanian Core Indonesia Eliza Mardian menilai akar permasalahan ini terletak pada ketidaksinkronan antara kebijakan harga di tingkat hilir yang dibatasi HET dan biaya hulu yang mengikuti mekanisme pasar bebas. 

Akibat selisih margin yang menyempit dan biaya produksi gabah yang tinggi, produsen serta peritel kehilangan insentif ekonomi, sehingga beras yang secara fisik ada di pasaran enggan masuk ke kanal ritel formal.

Terkini

Dilepas Madrid Lewat Telepon, Ceballos Tantang Mantan

Jumat, 04 September 2026 | 06:20:01 WIB

Skenario Lolos Timnas U20 ke Piala Asia 2027

Jumat, 04 September 2026 | 06:18:02 WIB

Bocoran iPhone 18: Harga, Kamera, hingga Layar Lipat

Jumat, 04 September 2026 | 06:16:31 WIB

WBO Desak Sheeraz dan Zhanibek Segera Capai Kesepakatan Duel

Jumat, 04 September 2026 | 06:13:32 WIB