Semester I/2026, Laba BCA Digital (Blu) Tumbuh 53,13% YoY

Minggu, 06 September 2026 | 18:07:32 WIB
Ilustrasi Tampilan aplikasi BCA Digital blu yang bisa diunggah nasabah [FOTO: NET].

JAKARTA — PT Bank Digital BCA (Blu) yang merupakan anak usaha dari PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sukses membukukan perolehan laba bersih senilai Rp129,59 miliar. Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan yang melesat sebesar 53,13% secara tahunan (year on year/YoY) jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang membukukan sebesar Rp84,62 miliar.

Merujuk pada catatan laporan keuangan yang dipublikasikan, pencapaian laba pada paruh pertama tahun ini utamanya dikerek oleh kinerja pendapatan bunga bersih yang ikut mengalami pertumbuhan sebesar 10,92% (YoY) hingga menyentuh level Rp704,50 miliar.

Selain itu, komponen pendapatan komisi beserta pos pendapatan lainnya turut memberikan sokongan signifikan terhadap penguatan perolehan laba perseroan.

Menjelang penutupan semester I/2026, BCA Digital sukses mencatatkan pertumbuhan pendapatan komisi sebesar 25,74% (YoY) dari catatan periode tahun lalu yang sebesar Rp47,35 miliar menjadi Rp59,54 miliar.

Lonjakan serupa juga dibukukan pada pos pendapatan lainnya yang bertumbuh sebesar 25,28% (YoY) hingga mencapai angka Rp42,90 miliar. Padahal, pada kurun waktu semester I/2025, perseroan hanya mencatatkan pendapatan lainnya di kisaran angka Rp34,24 miliar.

Di sisi lain, total pos beban operasional lainnya terpantau mengalami kenaikan tipis sebesar 1,93% (YoY) ke level Rp538,78 miliar, naik dari posisi periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp528,58 miliar.

Komponen pembengkakan beban operasional nonbunga yang paling mencolok di antaranya disumbang oleh pos beban tenaga kerja serta beban pengeluaran lainnya yang masing-masing mengalami kenaikan sebesar 12,35% dan 19,48% (YoY) hingga masing-masing bertengger di angka Rp104,22 miliar dan Rp253,29 miliar.

Sementara itu, Bank Digital BCA mencatatkan perolehan laba operasional sebesar Rp165,71 miliar, yang berarti mengalami pertumbuhan sebesar 55,52% (YoY) apabila disandingkan dengan perolehan periode tahun sebelumnya yang berada di angka Rp106,55 miliar.

Sebaliknya, pada pos nonoperasional, bank digital ini justru membukukan rugi nonoperasional yang menyusut menjadi Rp444,00 juta, usai pada paruh pertama semester I/2025 sebelumnya mencatatkan kerugian senilai Rp1,94 miliar.

Bergeser meninjau fungsi perantara keuangan (intermediasi), total penyaluran kredit yang digelontorkan oleh anak usaha BCA tersebut telah mencapai angka Rp8,99 triliun, menorehkan pertumbuhan sebesar 3,31% (YoY) dari posisi periode sebelumnya yang menyentuh angka Rp8,70 triliun.

Perolehan total aset perseroan secara keseluruhan turut mendaki hingga 16,90% (YoY) menjadi Rp20,81 triliun terhitung hingga penutupan bulan Juni 2026.

Ekspansi penyaluran kredit pada periode kali ini juga disokong secara kuat oleh ketersediaan himpunan dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil diraup oleh pihak perseroan.

Hingga kurun waktu Juni 2026, total himpunan DPK Bank Digital BCA telah mencapai nominal Rp15,78 triliun, yang menandai adanya pertumbuhan sebesar 20,20% (YoY) dari posisi periode sama tahun sebelumnya yang senilai Rp13,12 triliun.

Pencapaian perolehan DPK tersebut utamanya ditopang oleh produk simpanan giro yang mencatatkan pertumbuhan melesat drastis hingga 348,74% (YoY) dari posisional senilai Rp42,76 miliar pada Juni 2025 menjadi Rp191,88 miliar pada Juni 2026.

Menilik dari indikator rasio keuangan penting lainnya, rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) BCA Digital mengalami koreksi penurunan dari posisi tahun sebelumnya yang bertengger di level 37,78% menjadi 34,45% pada paruh pertama tahun 2026 ini.

Sementara itu, untuk parameter kualitas aset kredit, rasio kredit bermasalah kotor (NPL gross) tercatat membaik tipis di level 0,94% dari sebelumnya 0,95% pada periode tahun lalu, sedangkan rasio kredit bermasalah bersih (NPL net) berada di angka 0,15% dari catatan sebelumnya 0,22%.

Di samping itu semua, margin pendapatan bunga bersih (net interest margin/NIM) terpantau mengalami penyusutan ke level 7,05% dari angka 7,47% pada periode tahun sebelumnya. Sebaliknya, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) justru berhasil ditekan turun menyusut dari level 88,29% pada semester I/2025 menjadi 83,94% pada semester I/2026.

Terkini

Kemenkes Rilis SE Antisipasi Abu Vulkanik Anak Krakatau

Minggu, 06 September 2026 | 19:35:31 WIB

Optimalisasi Aset, TelkomProperty Buka Peluang Mitra B2B

Minggu, 06 September 2026 | 19:32:02 WIB

Erupsi Anak Krakatau: Bandara Tutup, Prabowo Pantau Mitigasi

Minggu, 06 September 2026 | 19:29:01 WIB