JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki peluang kerja sama strategis guna mengembangkan fasilitas produksi amonia serta urea berstandar global, yakni Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2) bertempat di Primorsky Krai, wilayah Rusia Timur.
Proyek garapan JSC Ruschem tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, serta 3,5 juta ton urea, dan ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2030.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengutarakan bahwa penjajakan kerja sama kajian bersama pihak Rusia merupakan strategi perseroan dalam memperluas alternatif sumber produksi beserta pasokan demi meningkatkan resiliensi rantai pasok pupuk dalam negeri.
“Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global. Hal ini sejalan dengan arahan Danantara agar Pupuk Indonesia makin berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus memperluas peran di industri pupuk global,” kata Rahmad dalam keterangan resmi, Minggu (6/9/2026).
Langkah penjajakan tersebut ditandai lewat penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perihal studi bersama atau joint study bersama JSC Ruschem dalam perhelatan Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, tepatnya pada tanggal 3 September 2026.
Rahmad menambahkan, penjajakan tersebut turut membuka potensi perolehan akses terhadap produksi amonia-urea berbasis gas dengan struktur biaya bahan baku yang kompetitif serta ramah lingkungan.
Menurutnya, pengalaman Pupuk Indonesia dalam mengelola gas guna memproduksi amonia serta urea menjadi salah satu modal utama perseroan manakala mengkaji peluang kerja sama di Rusia. Pengalaman tersebut dinilai sangat relevan terhadap karakteristik proyek NFP yang bertumpu pada gas alam.
Di samping aspek ketersediaan bahan baku, letak geografis proyek turut menjadi pertimbangan strategis bagi Pupuk Indonesia. Keberadaan Pelabuhan Vladivostok di kawasan Primorsky yang menghadap langsung ke arah Samudera Pasifik membuka lebar peluang bagi perseroan guna memperluas jangkauan akses menuju pasar kawasan Asia-Pasifik.
“Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia,” ujar Rahmad.
Penandatanganan dokumen MoU tersebut sekaligus menjadi tonggak awal bagi Pupuk Indonesia dalam mengkaji potensi pengembangan proyek NFP-2 secara komprehensif.
Kedua belah pihak nantinya bakal menjalankan feasibility study serta due diligence yang mencakup berbagai hal meliputi aspek teknis, keekonomian proyek, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, risiko proyek, hingga kepatuhan terhadap ketentuan hukum serta regulasi yang berlaku.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus menjabat CEO Danantara Rosan P. Roeslani menyatakan bahwa penjajakan tersebut merupakan wujud tindak lanjut konkret dari pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian acara EEF ke-11.
Berdasarkan pandangan Rosan, kerja sama ini membentangkan peluang investasi global bagi Pupuk Indonesia di samping memperkuat ketahanan bahan baku serta sektor industri nasional.
“Pupuk Indonesia ini performanya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia. Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat sektor ketahanan bahan baku kami dan juga ketahanan industri kami,” ujar Rosan.