Prospek GIAA dan CMPP Jelang Nataru: Harga Avtur Jadi Sorotan

Minggu, 06 September 2026 | 23:59:32 WIB
Prospek emiten penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) serta PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menjelang masa Natal dan Tahun Baru (Nataru) masih menghadapi tantangan beban operasional. (Foto: NET)

JAKARTA - Prospek emiten penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) serta PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menjelang masa Natal dan Tahun Baru (Nataru) masih menghadapi tantangan beban operasional. 

Kementerian Perhubungan menaikkan batas maksimal *fuel surcharge* (FS) penerbangan domestik menjadi 40% dari Tarif Batas Atas (TBA), dari mulanya 30%. Aturan ini dikeluarkan di tengah lonjakan rerata harga avtur yang mencapai Rp23.315 per liter atau naik 6,5% secara bulanan per 1 September 2026.

Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai peningkatan batas maksimal FS tersebut memberikan keleluasaan bagi maskapai untuk membebankan sebagian kenaikan ongkos avtur kepada pelanggan. 

Walau demikian, penerapan FS sampai batas maksimal 40% bukan merupakan kewajiban bagi pihak maskapai. Oleh sebab itu, efektivitas kenaikan FS dalam menjaga marjin laba sangat bergantung pada seberapa agresif masing-masing maskapai dalam menerapkannya. 

Terlebih, maskapai juga wajib memperhitungkan persaingan harga menjelang Nataru. 

"Kenaikan batas maksimal fuel surcharge dari 30% menjadi 40% dari TBA memberi ruang bagi maskapai untuk meneruskan sebagian kenaikan biaya avtur ke konsumen," ujar Adrian, Jumat (4/8/2026).

Di sisi lain, ruang kenaikan tarif tiket tersebut berisiko menurunkan daya beli masyarakat, khususnya dari golongan ekonomi. Pasalnya, periode Nataru umumnya telah diwarnai kenaikan harga tiket akibat lonjakan permintaan musiman. 

Menurut Adrian, akumulasi kenaikan harga tiket akibat penerapan FS serta faktor musiman dapat mempertinggi kepekaan harga para penumpang. Kondisi ini pada akhirnya berisiko menekan angka permintaan penerbangan.

Sementara itu, tren harga avtur yang terus menanjak menjadi perhatian utama terhadap performa GIAA dan CMPP sampai penghujung 2026. Adrian mencatat rerata harga avtur di lima bandara tersibuk di Indonesia meningkat sekitar 6,4% pada September 2026, di tengah harga minyak mentah dunia yang juga cenderung tinggi. 

"Dengan tren harga avtur yang masih naik dan rata-rata harga avtur di lima bandara tersibuk Indonesia naik sekitar 6,4% pada September 2026 serta harga minyak yang cenderung tinggi, tekanan biaya operasional bagi GIAA dan CMPP masih akan berlanjut hingga akhir tahun," jelasnya.

Kendati demikian, momentum puncak liburan Nataru berpeluang memberikan dorongan terhadap pendapatan kedua maskapai melalui peningkatan jumlah penumpang. 

Namun, kenaikan pendapatan tersebut belum tentu serta-merta mengerek laba bersih. Sebab, pertumbuhan volume penumpang pada masa Nataru akan beriringan dengan kenaikan beban operasional, khususnya avtur. Dengan demikian, dampak positif pada pendapatan usaha belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan laba bersih. 

"Momentum high season Nataru berpotensi mengangkat top line kedua maskapai lewat kenaikan trafik, tetapi itu tidak otomatis tercermin di bottom line," kata Adrian. 

Terkait saham, Adrian memberikan rekomendasi *trading buy* untuk GIAA secara teknikal dengan menetapkan target harga di level Rp71 per saham.

Terkini