Atasi Jerawat hingga Melasma dengan Kombinasi Teknologi BBL dan MOXI

Senin, 07 September 2026 | 00:59:02 WIB
Ilustrasi melasma [FOTO: NET].

JAKARTA - Setiap individu mengantongi karakteristik kulit serta target perawatan yang berlainan. Mulai dari problem kulit konvensional layaknya jerawat aktif, rosacea, pigmentasi ringan, sampai flek yang tergolong membandel macam melasma, seluruhnya menuntut pendekatan terapi yang akurat.

Kendati demikian, konsep perawatan satu solusi untuk membasmi segala macam masalah sudah tidak lagi relevan diaplikasikan pada industri klinik kecantikan modern hari ini.

Kombinasi teknologi BroadBand Light (BBL) dan laser MOXI, sebagai contoh, hadir sebagai opsi bagi para praktisi medis yang fleksibel disesuaikan dengan tingkat sensitivitas serta problematika kulit masing-masing pasien. Hebatnya lagi, prosedur ini tergolong aman dijalankan tanpa kewajiban memeriksa tekanan darah maupun kadar gula darah terlebih dahulu.

Kombinasi perawatan BBL dan MOXI untuk ragam kondisi kulit

Mengatasi jerawat aktif dan kemerahan Perbedaan mendasar antara teknologi BBL dengan ragam laser konvensional terletak pada cakupan spektrum cahayanya yang sanggup merespons lebih dari satu problematika wajah secara bersamaan.

Laser konvensional pada umumnya hanya dibekali satu titik panjang gelombang guna membidik target keluhan yang amat spesifik serta terbatas.

“BBL memiliki area broad band yang sangat luas sehingga bisa mengobati area pigmentasi yang sangat luas pula,” jelas Chief Director Yujin Plastic Surgery sekaligus dokter bedah plastik di Korea Selatan, dr. Tae Jo Kang, dalam acara "Aesthetic Talk, Live Experience, and Media Session" yang digelar oleh Sciton di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Berbekal ketersediaan aneka macam filter, perangkat ini sanggup meredakan jerawat aktif yang tengah meradang sekaligus menenangkan jaringan pembuluh darah pemicu rosacea.

Kelenturan fungsi tersebut turut disokong oleh kapabilitas mesin dalam memancarkan panas dengan takaran rasio presisi, sehingga mampu menekan sensasi nyeri yang dirasakan pasien.

Di sisi lain, perangkat MOXI melengkapi rangkaian perawatan ini dengan menyasar lapisan kulit yang tidak terlalu dalam, guna memastikan proses perbaikan tekstur berjalan maksimal lewat masa pemulihan yang singkat.

Menurut pandangan dr. Kang, penyaluran energi yang stabil dan terukur memegang peranan vital demi mencegah kerusakan pada jaringan kulit sehat di sekitarnya selama fase regenerasi.

“Teknologi ini memberikan energi yang cukup sambil meminimalkan efek samping secara drastis,” ucap dia.

Kehati-hatian dalam menangani melasma Walaupun membawa segudang kecanggihan, tidak serta-merta seluruh kelainan kulit dapat ditembak secara agresif menggunakan tingkat energi tinggi, terkhusus pada kasus melasma.

Problem flek gelap ini mempunyai tingkat reaktivitas yang sangat tinggi terhadap paparan panas, sehingga menuntut protokol medis yang ekstra hati-hati dan dijalankan secara bertahap.

Lantaran karakternya yang sangat sensitif, melasma yang menerima asupan energi berlebih justru berpotensi memicu timbulnya hiperpigmentasi.

Demi mengatasi problem melasma, para dokter tidak disarankan mengambil jalur pintas instan. Mereka umumnya memilih menurunkan level energi sekecil mungkin dan memadukannya dengan ragam perawatan pendukung lainnya.

Strategi pengobatan pun jauh lebih difokuskan pada konsistensi pengulangan sesi secara berkala, ketimbang memaksakan tindakan pengelupasan keras dalam satu kali eksekusi.

“Penggunaan energi yang sangat rendah dengan perawatan yang diulang justru akan memberikan hasil yang jauh lebih baik,” ungkap dr. Kang.

Kombinasi efektif untuk prosedur bedah plastik Selain ampuh membereskan problem di lapisan kulit terluar, perangkat berbasis cahaya ini pun sering diandalkan sebagai instrumen pelengkap tindakan bedah kosmetik.

Dokter Kang mengungkapkan bahwa dirinya rutin mengawinkan tindakan operasi pengangkatan kantung mata dengan teknologi BBL demi menyempurnakan hasil estetika akhir wajah pasien.

“Pasien sering berpikir bahwa kantung mata hanyalah tentang membuang atau menambah lemak di area tersebut,” kata dia.

Padahal, sambung dr. Kang, zona di sekitar lipatan bawah mata menyimpan timbunan pigmentasi serta jalinan vaskular kompleks yang kerap membuat wajah tampak kelelahan secara kontinu.

Apabila dokter sekadar membuang endapan lemaknya saja, bayangan gelap dari pembuluh darah yang melebar bakal tetap bersarang dan mengganggu keindahan visual wajah.

“Pigmentasi dan pembuluh darahnya juga harus membaik agar hasil akhir dari operasi bedah tersebut menjadi jauh lebih maksimal,” ujar dr. Kang.

Oleh karenanya, ia terbiasa langsung menembakkan cahaya filter khusus ke area bawah mata sesaat pasca-tindakan bedah rampung sewaktu pengaruh bius atau anestesi pada pasien masih aktif.

“Hasil memuaskan ini tidak bisa dicapai hanya dengan pembedahan saja, BBL wajib dikombinasikan untuk meraih hasil tersebut,” pungkas dr. Kang.

Terkini