Lelang SRBI Diturunkan, BI Seimbangkan Likuiditas

Kamis, 10 September 2026 | 22:04:32 WIB
Bank Indonesia (BI). (Foto: NET)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) dinilai mulai menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan upaya memastikan kecukupan likuiditas domestik, salah satunya melalui pengurangan frekuensi lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Sebagaimana diketahui, sekitar sejak Juni 2026 hingga saat ini lelang SRBI hanya dilakukan 1 kali dalam seminggu, atau turun dari sebelumnya sekitar 2-3 kali dalam seminggu.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz mengatakan, pengurangan frekuensi lelang SRBI salah satunya dimungkinkan oleh kondisi rupiah yang relatif lebih stabil. Namun, hal tersebut bukan berarti kebutuhan stabilisasi rupiah telah selesai.

“Lebih tepat melihatnya sebagai bagian dari rekalibrasi bauran kebijakan BI sesuai dengan perkembangan kondisi pasar,” kata Faiz, Rabu (9/10/2026).

Sebagaimana diketahui, rupiah di pasar spot dibuka menguat tipis 0,006% ke Rp 17.510 per dolar AS dengan mata uang di Asia bervariasi pada pagi ini (10/9/2026). Namun, rupiah ditutup melemah 0,2% ke Rp 15.547 per dolar AS. 

Menurutnya, ketika tekanan terhadap rupiah meningkat, SRBI masih dapat dioptimalkan untuk menyerap likuiditas sekaligus menjaga daya tarik aset rupiah bagi investor.

Saat ini, BI dinilai semakin menyeimbangkan antara kebutuhan menjaga stabilitas rupiah dan memastikan kecukupan likuiditas domestik. Hal ini penting karena secara agregat likuiditas perbankan masih memadai, meski terdapat perbedaan kondisi likuiditas antar kelompok bank.

"Karena itu, kami juga mengoptimalkan instrumen lain seperti (Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial) KLM dan repo untuk mendukung penyaluran likuiditas dan memperkuat transmisi kebijakan moneter," ujar Faiz.

Faiz menjelaskan, berkurangnya penerbitan SRBI membuat penyerapan likuiditas melalui instrumen tersebut menjadi lebih rendah. Dengan begitu, secara relatif lebih banyak likuiditas dapat bertahan di sistem perbankan. 

Secara marginal, kondisi tersebut positif bagi likuiditas bank dan dapat membantu meredakan tekanan biaya pendanaan. Terlebih, pertumbuhan kredit saat ini masih relatif kuat dibandingkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Dari sisi pasar obligasi, berkurangnya pasokan SRBI juga berpotensi mengubah alokasi portofolio investor di pasar domestik. SRBI dengan tenor relatif pendek dan imbal hasil yang kompetitif selama ini menjadi salah satu alternatif instrumen bagi investor. 

Ketika pasokan SRBI berkurang, sebagian permintaan berpotensi beralih ke Surat Berharga Negara (SBN) maupun instrumen pasar uang lainnya. Secara marginal, kondisi ini dapat memberikan dukungan terhadap pasar SBN.

Meski demikian, pergerakan imbal hasil SBN tetap akan dipengaruhi berbagai faktor lain, seperti kondisi global, kebutuhan penerbitan SBN, serta persepsi risiko investor. 

Di sisi lain, Faiz mengingatkan adanya trade-off dari pengurangan penerbitan SRBI. Sebab, SRBI merupakan salah satu instrumen dalam bauran kebijakan BI untuk menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui pengelolaan daya tarik aset rupiah bagi investor nonresiden.

"Karena itu, ruang untuk mengurangi penerbitannya akan tetap bergantung pada perkembangan rupiah dan kondisi eksternal," jelas Faiz.

Dalam kesempatan berbeda, Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman juga menilai pengurangan penerbitan SRBI juga berkaitan dengan fungsi awal instrumen tersebut yang memang diluncurkan untuk membantu menjaga stabilitas rupiah.

“(Lelang dikurangi) benar karena instrumen SRBI diluncurkan untuk menstabilkan Rupiah. Saat ini secara mtd (month to date), saham dan SBN sudah mencatatkan net inflow yang mendukung stabilitas Rupiah,” jelasnya.

Menurut Faisal, penurunan penerbitan SRBI juga bertujuan mengurangi dampak crowding out serta mendukung likuiditas perbankan. Dengan demikian, likuiditas yang lebih memadai di sektor perbankan diharapkan dapat menopang momentum pertumbuhan ekonomi.

Terkini