Harga Minyak Dunia Tembus US$101 Akibat Eskalasi Timur Tengah

Kamis, 10 September 2026 | 22:56:01 WIB
Harga minyak dunia menembus level US$100 per barel. (Foto: NET)

JAKARTA — Harga minyak dunia menembus level US$100 per barel pada penutupan perdagangan Rabu (9/9/2026) waktu Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya tensi antara AS dan Iran. 

Harga minyak dunia melanjutkan kenaikannya di tengah kekhawatiran bahwa eskalasi di Timur Tengah dapat semakin memperparah gangguan pasokan.

Dilansir dari CNBC International, harga kontrak berjangka untuk minyak mentah Brent pengiriman November naik 0,62% menjadi US$101,84 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS pengiriman Oktober naik 1,01% menjadi US$96,06 per barel. 

Lonjakan ini dipicu oleh tindakan militer AS yang menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran pada Selasa (8/9/2026) sebagai balasan atas upaya serangan Iran terhadap kapal perang Negeri Paman Sam. Harga minyak dunia pun diproyeksi terus merangkak naik seiring berlanjutnya konflik tersebut.

Kepala Riset Komoditas Global Goldman Sachs, Daan Struyven, memprediksi harga minyak berpotensi menyentuh level US$120 per barel. Sebelumnya, Iran kembali meningkatkan aksi militer terhadap AS di kawasan Selat Hormuz. 

Teheran menuduh Washington tidak mematuhi komitmen untuk meredakan permusuhan maritim, menyusul serangkaian insiden di jalur air strategis tersebut.

Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Iran menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak atau drone MQ-1 milik Amerika Serikat di atas Selat Hormuz pada hari Selasa. Di samping itu, Iran juga dikabarkan menyita sebuah kapal selam nirawak milik AS di pintu masuk jalur perairan penting itu.

Ketegangan mutakhir ini terjadi ketika Iran dan Oman masih menggelar dialog terkait rute transit aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, Teheran mengecam Washington karena dinilai mengabaikan komitmen berdasarkan nota kesepahaman Islamabad yang dirancang untuk meredakan ketegangan maritim.

Iran berpandangan bahwa sikap Amerika Serikat tersebut memperbesar ancaman terhadap stabilitas serta keamanan pelayaran di jalur vital perdagangan energi global. Situasi kian meruncing setelah pertukaran aksi militer antara kedua negara kembali terjadi pada Juli lalu usai sempat mereda sejenak. 

Dengan jatuhnya drone serta penyitaan kapal selam nirawak terbaru, krisis di Selat Hormuz kembali menjadi sorotan utama lantaran setiap konfrontasi berisiko mengguncang keamanan pelayaran dan stabilitas kawasan.

Terkini