Masuknya Rusal Tantang Dominasi China di Industri Aluminium

Jumat, 11 September 2026 | 03:26:32 WIB
Rencana penanaman modal oleh korporasi produsen aluminium asal Rusia, Rusal, di Indonesia diperkirakan berisiko memperketat kompetisi pada sektor industri aluminium tanah air. (Foto: NET)

JAKARTA — Rencana penanaman modal oleh korporasi produsen aluminium asal Rusia, Rusal, di Indonesia diperkirakan berisiko memperketat kompetisi pada sektor industri aluminium tanah air, terutama fokus pada segmen aluminium ingot.

Ketua Bidang Extrusi Gabungan Industri Aluminium Indonesia (Galunesia) Ichwan Syahri mengemukakan bahwa kehadiran Rusal sanggup mendatangkan suntikan dana segar, penguasaan teknologi mutakhir, serta jaringan pemasaran baru yang berpotensi mendongkrak daya saing pabrikan aluminium domestik. 

Di samping itu, Rusal juga berpeluang menghadirkan diversifikasi rantai pasok industri aluminium nasional yang selama ini didominasi oleh para pemain asal Negeri Tirai Bambu.

“Ada kemungkinan (peta persaingan alumunium) berubah dengan masuknya investor, teknologi dan jaringan dari Rusia akan menambah kompetitif yang positif bagi industri aluminium nasional yang selama ini cukup didominasi oleh China,” ujarnya, dikutip Jumat (11/9/2026).

Dia menyampaikan bahwa dinamika perubahan peta persaingan tersebut paling kentara bakal berlangsung di ranah industri aluminium ingot. 

Saat ini, sejumlah pabrikan telah beroperasi di dalam negeri, meliputi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Hua Chin, PT Kalimantan Aluminium Indonesia, serta PT Kemajuan Aluminium Indonesia. Di samping itu, terdapat pula entitas bisnis yang masih berada dalam fase pembangunan, yakni Pioneer Kemajuan.

Ichwan menguraikan bahwa total kapasitas produksi aluminium ingot di tingkat nasional kini mencapai kisaran 1,54 juta ton per tahun. Besaran kapasitas tersebut disumbangkan oleh Inalum sebanyak 300.000 ton, Hua Chin sebesar 500.000 ton, Kemajuan Aluminium mencapai 240.000 ton, serta Kalimantan Aluminium Indonesia sebesar 500.000 ton setiap tahunnya.

Volume tersebut diproyeksikan masih terus bertambah seiring berlangsungnya ekspansi sejumlah sarana produksi. Inalum, sebagai contoh, tengah mempersiapkan tambahan kapasitas produksi aluminium ingot sebesar 300.000 ton berlokasi di Mempawah. 

Pada saat bersamaan, Kalimantan Aluminium Indonesia juga sedang menggodok fase kedua pabrik pengolahan alumina dengan kapasitas mencapai 1 juta ton per tahun.

Menurut pandangan Ichwan, eskalasi kapasitas produksi aluminium ingot tersebut wajib diiringi dengan perluasan jangkauan pasar, khususnya pasar ekspor. Pasalnya, kapasitas produksi yang kian melonjak berisiko melebihi tingkat penyerapan pasar di dalam negeri.

“Jika masuk sektor hulu ini, maka persaingan industri ini akan ketat. Dan kemungkinan kelebihan produksinya harus diekspor,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ichwan berpandangan bahwa Indonesia memiliki prospek cerah untuk menjelma sebagai pusat industri aluminium global karena ditopang oleh cadangan bijih bauksit yang ditaksir menyentuh angka 2,9 miliar ton. Pada lini pengolahan alumina, kapasitas produksi nasional saat ini berada di kisaran 5,35 juta ton per tahun. 

Kapasitas itu bersumber dari Bintan Aluminium Indonesia sebesar 2 juta ton, Well Harvest Winning sebanyak 2 juta ton, Borneo Aluminium Indonesia sebesar 1 juta ton, serta Indonesia Chemical Alumina mencapai 300.000 ton per tahun.

Kendati kapasitas produksi alumina terus menanjak, Indonesia tercatat masih harus mendatangkan impor alumina sebanyak kurang lebih 1,45 juta ton. Berdasarkan analisis Ichwan, realisasi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan sektor industri aluminium tidak cukup sekadar mengandalkan penambahan volume produksi di hulu saja. 

Penguatan pada rantai industri intermediate dan hilir pun mutlak diperlukan demi memastikan lonjakan produksi mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih optimal.

“Yang masih kurang adalah yang di industri alumunium intermediate dan industri almumunium hilir. Ini perlu dikembangkan untuk meningkatkan export aluminium kami,” imbuhnya.

Sementara itu, pihak industri menaruh harapan agar kehadiran investasi Rusal kelak mampu memberikan kontribusi nyata bagi sektor manufaktur nasional melalui suntikan modal, alih teknologi, serta pembukaan akses pasar internasional.

“Menurut kami potensinya cukup baik. Asalkan pihak Rusal bisa memberikan nilai tambah yang positif bagi industri nasional. Antara lain: investasi, teknologi dan jaringan pasar,” katanya.

Ichwan menambahkan, para pelaku industri aluminium turut memendam harapan agar ke depan besaran tarif Main Japanese Port (MJP) yang melekat pada acuan harga London Metal Exchange (LME) untuk komoditas ingot aluminium internasional dapat dipangkas bagi kebutuhan industri di dalam negeri.

“Kalau bisa nol untuk meningkatkan daya saing industri nasional seperti yang dilakukan negara lain,” pungkasnya.

Terkini