Status Gunung Anak Krakatau Hari Ini: Masih Siaga Level III

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40:02 WIB
Badan Geologi menyampaikan pembaruan terkait situasi Gunung Anak Krakatau. (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Geologi menyampaikan pembaruan terkait situasi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (12/9/2026). Gunung api di Selat Sunda tersebut sebelumnya sempat meletus dan saat ini masih bertahan pada level III atau siaga.

Berdasarkan laporan resmi, pemantauan visual menunjukkan kawasan gunung tertutup kabut tebal sehingga kepulan asap dari kawah tidak terlihat. 

"Gunung api tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati," tulis pihak Badan Geologi melalui laman resminya pada Sabtu (12/9/2026).

Selain itu, cuaca di sekitar kawasan dilaporkan berawan hingga mendung disertai hembusan angin sedang yang bergerak menuju barat laut. 

"Suhu udara sekitar 26.5-27.1°C. Kelembaban 84-86%," ungkap laporan tersebut.

Sejumlah instrumen pencatat gempa juga mendeteksi beberapa aktivitas vulkanik. Rinciannya meliputi 1 kali gempa hembusan beramplitudo 9 mm dengan durasi 21 detik, serta 1 kali gempa low frequency beramplitudo 11 mm berdurasi 5 detik.

Pencatatan turut merekam 8 kali gempa hybrid atau fase banyak beramplitudo 9 hingga 22 mm dengan durasi 5 sampai 10 detik, ditambah 1 kali gempa tremor menerus beramplitudo 2 sampai 10 mm yang didominasi ukuran 3 mm.

Mengingat status siaga masih berlaku, Badan Geologi melarang masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta pendaki untuk beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi. Warga juga diminta waspada terhadap potensi ancaman awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta risiko hujan abu tebal.

"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," imbau Badan Geologi.

Sebelumnya, gunung ini sempat mengalami letusan secara terus-menerus pada Jumat (4/9/2026). Selepas fase erupsi kontinu tersebut mereda, karakteristik aktivitasnya kembali berubah menjadi tipe Strombolian. 

Catatan hingga 10 September 2026 menunjukkan telah terjadi 13 kali erupsi Strombolian. Walaupun aktivitas kegempaan memperlihatkan tren penurunan, gunung ini terpantau masih aktif dan berpotensi memicu letusan susulan.

Terkini