Raffi Dorong Ekosistem Aplikasi Lokal Mendunia

Senin, 14 September 2026 | 19:40:31 WIB
Raffi Ahmad, selaku Utusan Khusus Presiden untuk Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. (Foto: NET)

JAKARTA - Raffi Ahmad, selaku Utusan Khusus Presiden untuk Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, memacu para pengembang aplikasi di Tanah Air agar menjadikan Indonesia sebagai pusat penciptaan aplikasi bertaraf internasional, bukan sekadar pasar bagi produk digital.

"Indonesia jangan hanya menjadi pasar aplikasi saja. Indonesia harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia," ucap Raffi sewaktu memberi sambutan di ajang Indonesia Apps Summit 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, pada hari Senin (14/9/2026).

Menurutnya, potensi besar dari ekonomi digital nusantara mesti dioptimalkan guna memicu kemunculan inovasi serta produk teknologi buatan putra-putri bangsa yang sanggup berkompetisi pada kancah global.

Raffi menyebutkan bahwa valuasi ekonomi digital nusantara di tahun 2026 sudah hampir menyentuh angka 130 miliar dolar AS. Didukung oleh total pengguna internet yang menembus lebih dari 220 juta jiwa, Indonesia memegang pasar raksasa yang merangkap sebagai wadah eksperimen untuk merancang beragam inovasi digital.

Oleh sebab itu, ia memandang bahwa aplikasi buatan dalam negeri mesti sanggup merajai pasar nasional sekaligus berani melebarkan sayap ke level internasional.

"Aplikasi lokal itu harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan berani menuju pasar global. Itu yang memang bisa menjadi kebanggaan kami semuanya," ungkapnya.

Raffi turut menyoroti urgensi kerja sama yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, akademisi, penanam modal, komunitas, hingga kalangan muda guna menyusun ekosistem digital yang kuat secara nasional.

Menurut dia, pesatnya kemajuan teknologi menuntut tiap elemen untuk bisa menyesuaikan diri serta bersinergi. Saat ini, bukan lagi waktunya suatu pihak bergerak sendirian dalam menyikapi dinamika perubahan teknologi.

"Tidak ada yang namanya superman berdiri sendiri di zaman sekarang. Tidak ada superman, yang ada super team," tuturnya.

Ia mengimbau kalangan muda agar tidak gentar menghadapi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Bagi Raffi, AI sekadar teknologi ciptaan manusia, sehingga semestinya diberdayakan demi membawa kebaikan bagi masyarakat.

"Manusia tidak perlu takut sama AI. Kami yang menciptakan AI. AI tidak punya hati, tapi manusia punya hati," ujarnya.

Raffi menyatakan bahwa Indonesia amat memerlukan tambahan jumlah pengembang aplikasi, insinyur, pemrogram, coder, serta pegiat ekonomi kreatif yang cakap memadukan unsur teknologi dengan kreativitas demi melahirkan produk bernilai ekonomi.

Di matanya, aplikasi masa kini tak sekadar produk teknologi, namun merupakan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang merangkul ragam profesi, mencakup pengembang, pendesain, animator, musisi, sineas, kreator konten, sampai pelaku UMKM.

"Jadi aplikasi sekarang itu bukan hanya sekadar produk teknologi, tetapi ini melahirkan ekonomi kreatif," kata Raffi.

Dirinya lantas mengajak Gen Z beserta milenial agar konsisten mengasah kompetensi dan tidak berhenti belajar. Dalam pandangannya, proses belajar di tengah pesatnya teknologi saat ini berjalan dua arah, ketika kaum muda bisa belajar dari kaum senior, begitu pula sebaliknya.

"Anak-anak muda harus naik kelas. Tentunya juga dari pengguna menjadi pencipta teknologi," ujar Raffi.

Ia menaruh harapan agar perhelatan Indonesia Apps Summit 2026 mampu menjelma sebagai ruang perjumpaan bagi pemerintah, praktisi industri, kalangan akademisi, investor, komunitas, serta kaum muda demi mengokohkan ekosistem aplikasi nasional.

"Semangat untuk kami semuanya. Mari bersama-sama kami jadikan Indonesia bukan hanya bangsa pengguna, tetapi Indonesia bangsa pencipta, yang bisa menciptakan solusi dari Indonesia untuk dunia," tutup Raffi.

Terkini