Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.669 per Dolar AS pada Senin (14/9)

Senin, 14 September 2026 | 21:45:02 WIB
Pegawai menunjukan mata uang dolar Amerika Serikat dan rupiah [FPOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar rupiah atas dolar AS berakhir merosot pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (14/9/2026). Performa rupiah yang melemah ini berjalan beriringan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Berdasarkan pencatatan data TradingView, nilai rupiah terkoreksi 0,33% ke posisi Rp17.669 per dolar AS.

Bukan cuma rupiah, deretan mata uang Asia lainnya turut tertekan seperti baht Thailand yang menyusut 0,56%, ringgit Malaysia tergerus 0,14%, serta rupee India melorot 0,12%.

Di samping itu, peso Filipina melemah 0,24%, dolar Taiwan terpotong 0,42%, won Korea tergerus 0,33%, dolar Singapura terkikis 0,28%, dan yen Jepang melorot 0,49%. Tren penguatan tipis hanya mampu dibukukan oleh yuan China.

Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa keperkasaan dolar AS hari ini salah satunya dipicu konflik Iran dan AS yang tidak kunjung mereda. Dinamika terkini dilaporkan telah menutup akses distribusi minyak vital di wilayah Timur Tengah.

Selaras dengan itu, Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Albusaidi mengonfirmasi bahwa agenda dialog regional antara pihak Iran dan negara-negara Teluk telah ditunda. Padahal, wacana pertemuan pada hari Senin tersebut sempat berhasil menahan laju kenaikan harga minyak pada pekan lalu.

“Namun, dengan ditundanya pertemuan tersebut tanpa batas waktu yang jelas, Selat Hormuz kemungkinan akan tetap menjadi wilayah yang diperebutkan dalam waktu dekat. Pasokan minyak melalui jalur tersebut telah menyusut drastis hingga jauh di bawah tingkat sebelum perang menyusul memanasnya kembali ketegangan antara AS dan Iran pada bulan Agustus,” katanya dalam keterangan resminya, Senin (14/9/2026).

Di samping isu geopolitik, data inflasi AS periode Agustus menunjukkan lonjakan indeks harga konsumen inti sebesar 0,3% secara bulanan. Kenaikan ini makin memperkuat spekulasi bahwa The Fed bakal menaikkan suku bunga acuan pada rapat pekan ini.

Ibrahim membeberkan bahwa sekitar 88% pelaku pasar memprediksi adanya potensi kenaikan suku bunga pada September 2026.

“Kenaikan suku bunga juga dapat memicu ketegangan politik bagi The Fed. Presiden Donald Trump kembali menyerukan penurunan suku bunga pada hari Minggu, melanjutkan kritik terbarunya terhadap sikap kebijakan bank sentral tersebut,” tegasnya.

Dari dalam negeri, pemerintah dipandang masih mengantongi ruang untuk menghemat anggaran program MBG demi menjaga batas defisit APBN tetap di bawah angka 3%. Kendati begitu, upaya mempertahankan defisit di bawah batas aman tersebut menuntut penyesuaian belanja yang terbilang dalam.

Menurut analisisnya, pemerintah wajib menjaga efisiensi serta efektivitas belanja. Selama celah efisiensi di BGN masih terbuka, pemotongan anggaran dinilai layak dieksekusi.

“Efisiensi dapat dilakukan dengan memangkas pemborosan operasional, biaya dapur yang tidak efisien, logistik, maupun cakupan program yang terlalu longgar. Dengan demikian, penghematan anggaran tidak harus mengorbankan tujuan utama program MBG,” tegasnya.

Menatap perdagangan Selasa (14/9/2026), Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah akan berlangsung fluktuatif serta berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.660—Rp17.710 per dolar AS.

Terkini