Keselamatan Penerbangan Jadi Prioritas Utama, INACA Beri Penegasan

Selasa, 15 September 2026 | 20:06:02 WIB
Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja [FOTO: NET].

JAKARTA - Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memberikan penegasan kuat bahwa aspek keselamatan penerbangan senantiasa ditempatkan sebagai prioritas utama di tengah ancaman potensi kerugian operasional yang dialami maskapai menyusul penutupan sejumlah bandar udara akibat bencana alam, seperti peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Kalau dampak kerugian karena adanya erupsi gunung hingga menyebabkan penutupan operasional bandara, pasti itu ada. Tapi kalau kami melihat dari sisi keselamatan dampak erupsi itu tentu jadi prioritas utama," kata Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA), Denon Prawiraatmadja di Tangerang, Selasa (15/9/2026).

Menurut pemaparannya, terlepas dari bayang-bayang risiko kerugian operasional maskapai penerbangan akibat ditutupnya operasional bandara-bandara terdampak, hal yang jauh lebih krusial dan utama untuk dipastikan adalah jaminan keselamatan penerbangan secara menyeluruh.

Denon turut mengakui secara terbuka bahwa insiden bencana alam erupsi ini memicu terjadinya penundaan jadwal penerbangan (delay) serta proses penyesuaian penjadwalan ulang (reschedule) di berbagai rute perjalanan udara.

Kendati demikian, pihak INACA tetap menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Perhubungan atas respons cepat tanggap dalam menerbitkan Notice to Air Missions (NOTAM) demi melindungi keselamatan para penumpang dari bahaya sebaran abu vulkanik.

"Justru kami apresiasi Kementerian Teknis cepat merespons NOTAM itu, karena dampak kerusakannya bisa jadi jangan main-main, banyak tuh," ujarnya.

Berkenaan dengan kebijakan penutupan bandara serta serangkaian langkah mitigasi lanjutan di lapangan, Denon memastikan bahwa seluruh prosedur operasional maskapai senantiasa berpijak pada data resmi yang valid serta terintegrasi langsung dengan instansi berwenang terkait.

?"Ada datanya dari BMKG. Jadi, semua data kementerian teknis itu acuannya dari BMKG," jelasnya.

Kendati demikian, dalam hal ini pihak INACA mengaku belum dapat memaparkan secara rinci mengenai akumulasi estimasi kerugian finansial secara keseluruhan yang diderita oleh industri maskapai penerbangan nasional.

Alasannya, lanjut dia, proses kalkulasi dampak kerugian ekonomi tersebut diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme kebijakan internal dari masing-masing perusahaan maskapai (airlines) yang bersangkutan.

?"Kerugian nanti masing-masing airlines saja ditanya terkait hal itu," kata dia.

Sebelumnya, sebaran material abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau diketahui telah memberikan dampak signifikan terhadap ruang udara serta kelangsungan operasional sejumlah bandar udara sejak hari Sabtu (5/9).

Dampak letusan tersebut memaksa sebanyak delapan bandara di tanah air untuk menghentikan sementara operasional penerbangannya.

Kedelapan bandara tersebut meliputi Bandara Soekarno-Hatta di Banten, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Husein Sastranegara di Bandung.

Selanjutnya mencakup Bandara Budiarto Curug di Banten, Bandara Pondok Cabe di Banten, Bandara Taufiq Kiemas yang berlokasi di Pesisir Barat, Lampung, serta Bandara Atung Bungsu yang terletak di Pagar Alam, Sumatera Selatan (Sumsel).

Terkini