JAKARTA - PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) kembali melakukan langkah penting dalam pendanaan dengan merencanakan penerbitan surat utang sebesar Rp175 miliar. Melalui penawaran umum untuk Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap III Tahun 2026, perusahaan berharap bisa menarik dana dari investor untuk mendukung kegiatan operasional dan transformasi perusahaan.
Emisi Obligasi: Bagian dari Upaya Penggalangan Dana Besar
Obligasi yang diterbitkan oleh TOBA merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama, dengan target total dana yang dihimpun mencapai Rp800 miliar. Sebelumnya, perusahaan telah sukses menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap I Tahun 2025 senilai Rp125 miliar dan Tahap II pada 2026 dengan jumlah Rp500 miliar.
Peringkat IdA dan Suku Bunga Menarik
Obligasi ini telah memperoleh peringkat idA dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), yang menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi terhadap kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. Dengan tingkat bunga tetap sebesar 9% per tahun, obligasi ini menawarkan peluang yang menarik bagi para investor yang mencari instrumen investasi jangka panjang.
Rencana Penggunaan Dana Hasil Obligasi
Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi ini akan digunakan oleh TOBA untuk kebutuhan modal kerja perusahaan, termasuk pembiayaan operasional rutin seperti gaji, sewa kantor, dan perawatan fasilitas. Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk kebutuhan umum korporasi yang mendukung kelangsungan dan pengembangan usaha perusahaan.
Pendapatan dan Kinerja Keuangan TOBA pada 2025
Berdasarkan laporan keuangan 2025, TOBA mencatatkan pendapatan sebesar US$380,22 juta atau sekitar Rp6,35 triliun. Meskipun mengalami penurunan sebesar 14,7% dibandingkan dengan pendapatan 2024 yang mencapai US$445,6 juta, perusahaan tetap memiliki optimisme dalam menjalani tahun 2026 dengan dukungan obligasi baru ini.
Kerugian dan Dampak Divestasi Aset
Pada sisi lain, TOBA membukukan kerugian bersih sebesar US$162 juta atau sekitar Rp2,7 triliun, yang sebagian besar dipicu oleh penurunan harga batu bara dunia pada 2025. Selain itu, perusahaan juga mencatatkan kerugian non-kas dan tidak berulang yang berasal dari dampak divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yang mencapai US$97 juta. Langkah ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk bertransformasi ke sektor energi rendah karbon.