Olahraga Rutin Bisa Bikin Botox Cepat Hilang? Ini Penjelasan Dokter

Olahraga Rutin Bisa Bikin Botox Cepat Hilang? Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi - Olahraga Rutin. (Foto: NET)

JAKARTA - Bagi sebagian orang, latihan fisik rutin menjadi bagian dari gaya hidup. Namun, bagaimana jika aktivitas fisik dilakukan secara intens setelah menjalani suntik Botox? Apakah kegiatan tersebut dapat membuat efek Botox lebih cepat hilang? 

Pertanyaan ini cukup relevan bagi orang yang rutin melakukan perawatan Botox setiap tiga hingga empat bulan. Pasalnya, beberapa orang yang sangat aktif berolahraga mengaku perlu melakukan perawatan ulang lebih cepat. 

Meski demikian, belum cukup bukti untuk memastikan bahwa olahraga secara langsung membuat efek Botox lebih cepat memudar.

Botox bekerja dengan mengurangi pergerakan otot wajah. Botox merupakan salah satu jenis toksin botulinum yang bekerja ketika disuntikkan ke otot wajah. 

Zat tersebut menghambat ujung saraf yang memberi sinyal agar otot berkontraksi. Ketika otot lebih rileks dan tidak banyak bergerak, kulit di atasnya memiliki kesempatan untuk menjadi lebih halus sehingga tampilan garis dan kerutan berkurang.

Dokter bedah plastik bersertifikat di Miami, Nirmal Nathan, menjelaskan bahwa efek tersebut tidak berlangsung selamanya. 

“Seiring waktu, tubuh memecah toksin tersebut dan ujung saraf kembali aktif sehingga dapat mengirimkan sinyal kepada otot untuk bergerak kembali. Ketika pergerakan kembali terjadi, garis halus dan kerutan secara bertahap menjadi lebih terlihat,” ujar Nathan, dilansir dari Health, Minggu (23/8/2026). 

Umumnya, efek Botox dapat bertahan sekitar tiga hingga empat bulan. Namun, durasinya berbeda pada setiap orang.

Olahraga intens mungkin membuat efek Botox lebih cepat memudar. Dermatolog bersertifikat, Geeta Yadav, mengatakan olahraga mungkin berpengaruh terhadap lama efek Botox, meski bukti yang tersedia masih terbatas. 

“Ketika berolahraga, tubuh memetabolisme segala sesuatu dengan lebih cepat. Olahraga meningkatkan aliran darah, metabolisme, dan pergerakan otot, yang secara teori dapat membuat toksin lebih cepat dibersihkan oleh tubuh,” kata Yadav.

Sebuah uji klinis pada 2023 terhadap 60 peserta menemukan bahwa orang dengan tingkat aktivitas fisik tinggi mengalami pemudaran efek toksin botulinum lebih cepat dibandingkan kelompok yang tidak banyak bergerak selama tiga bulan pengamatan. 

Namun, penelitian tersebut berskala kecil sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah olahraga memang menjadi penyebabnya. Pengalaman klinis juga menunjukkan kemungkinan tersebut. 

Yadav mengatakan, pasien yang sangat aktif, termasuk pelari maraton dan orang yang rutin melakukan latihan angkat beban berat, terkadang kembali melakukan perawatan lebih cepat dibandingkan pasien lain.

Tidak perlu berhenti olahraga, tetapi hindari latihan berat setelah Botox. Olahraga mungkin berpengaruh terhadap durasi Botox pada sebagian orang, para ahli tidak menyarankan seseorang mengubah rutinitas olahraga hanya untuk mempertahankan hasil perawatan. 

Hal yang perlu diperhatikan justru 24 jam pertama setelah penyuntikan. Olahraga berat sebaiknya dihindari untuk membantu mengurangi risiko pembengkakan dan memar serta sebagai langkah pencegahan agar toksin tidak menyebar ke otot di sekitarnya. 

Sebagai gantinya, seseorang dapat memilih berjalan santai atau beristirahat selama sehari. Selain aktivitas fisik, dosis Botox, area penyuntikan, kekuatan otot wajah, serta kondisi masing-masing individu juga dapat memengaruhi durasi hasil. Teknik penyuntikan pun berperan penting. 

“Penyuntik yang berpengalaman lebih mungkin menempatkan Botox pada otot yang tepat untuk mendapatkan hasil terbaik,” ujar Nathan. 

Pada akhirnya, olahraga rutin tetap lebih penting bagi kesehatan jantung, suasana hati, dan kesehatan jangka panjang dibandingkan mempertahankan efek kosmetik Botox selama beberapa minggu lebih lama.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index