EDUKASIEKONOMI.COM — Pernyataan tersebut disampaikan Erick Thohir di sela peluncuran Super League 2026/2027, Selasa (1/9). Ia mengingatkan sejarah kelam sepak bola nasional yang mencatat banyak klub mati muda karena salah urus keuangan.
"Jangan terus terjebak glamor-glamor klub-klub yang akhirnya bangkrut. Sudah banyak cerita sepak bola Indonesia klubnya bangkrut," tegas pria yang juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga itu.
Sindiran untuk Klub yang Hidup dari Gengsi
Erick menyoroti kebiasaan sejumlah manajemen klub yang lebih fokus membangun skuad mewah ketimbang memastikan arus kas tetap sehat. Pola seperti ini, menurutnya, hanya menciptakan kompetisi timpang dan berisiko besar meninggalkan utang.
Pemerataan kekuatan antar klub menjadi kata kunci. Erick meyakini liga yang kompetitif baru bisa terwujud bila seluruh kontestan punya pondasi finansial berkelanjutan, bukan sekadar mengandalkan belanja pemain mahal.
Insentif untuk Klub yang Sehat Finansial
Erick menegaskan gugus kendali klub melewati regulasi club licensing tidak berhenti pada pemeriksaan anggaran. Proses ini menyasar audit kepatuhan klub secara menyeluruh dari sisi tata kelola hingga kewajiban terhadap pemain dan staf.
"Club licensing yang sekarang didorong oleh Liga bersama PSSI itu yang tadi saya sampaikan pemerataan kekuatan. Di club licensing di liga tidak hanya bicara finansial," ujarnya.
Langkah ini diambil PSSI untuk menciptakan ekosistem yang justru memberi ruang lebih besar bagi klub dengan manajemen rapi. Erick menargetkan semakin banyak peserta liga yang sehat dan berkelanjutan, denyut kompetisi akan semakin hidup.
Target Pemerataan Kekuatan Klub
"Kami mau ada pemerataan klub, makin banyak klub yang sehat, liganya makin kompetitif, dan penontonnya makin banyak," tutur pemilik saham klub Inggris Oxford United tersebut.
Erick mengingatkan pembangunan liga tidak semata-mata mengejar nilai komersial. Ia menekankan pentingnya kenaikan kualitas kompetisi secara bertahap, dengan menomorsatukan kesehatan klub tanpa harus tergoda proyek superklub yang menawan di awal, namun rapuh di ujung.