Terungkap! Rahasia Kulit Sehat dan Awet Muda ala Diana Pungky

Terungkap! Rahasia Kulit Sehat dan Awet Muda ala Diana Pungky
Aktris Diana Pungky. (Foto: NET)

JAKARTA — Penampilan fisik aktris Diana Pungky yang seolah tidak menua memancing rasa penasaran banyak orang. Bagi Brand Ambassador Sciton ini, kulit sehat dan kencang di usia 50-an bukanlah sebuah hasil yang didapatkan secara singkat, melainkan buah dari kedisiplinan merawat diri sejak usia muda. 

Kombinasi gaya hidup sehat dan ketepatan memilih perawatan klinis menjadi kunci utamanya. Pemain sinetron yang populer pada akhir tahun 90-an ini membuktikan bahwa rutinitas kecantikan yang konsisten dan terarah mampu memberikan hasil nyata jangka panjang.

Memulai Perawatan Lebih Awal

Kesadaran Diana terhadap pentingnya perawatan tubuh sudah tertanam sejak ia masih remaja berkat pengaruh kuat dari latar belakang budayanya.

"Kebetulan aku kan orang Jawa. Jadi kalau orang Jawa itu, pas dia haid pertama, itu sudah langsung minum jamu, terus lebih lagi yang lulur," ungkap Diana dalam acara "Aesthetic Talk, Live Experience, and Media Session" yang digelar oleh Sciton di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Kebiasaan merawat kebersihan tubuh menggunakan bahan-bahan tradisional ini menjadi fondasi awal sebelum ia mendalami berbagai perawatan medis modern yang lebih kompleks. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kebiasaan tersebut berkembang menjadi investasi pada kulit, alias skinvestment.

"Ternyata efeknya sampai sekarang. Aku kalau ketemu temen-temen kami tuh seumur, tapi mereka udah tua, udah sagging, udah beda banget," tutur Diana.

Langkah pencegahan penuaan dini yang dilakukannya terbukti memberikan perbedaan elastisitas kulit yang sangat kentara.

"Jadi ternyata memang yang terawat dan enggak tuh jelas terlihat ya," sambung Diana.

Memilih Tinggalkan Tanam Benang

Perjalanan kecantikan seorang figur publik tidak selalu menemukan metode yang tepat sejak awal percobaan. Diana sempat mengandalkan metode penarikan wajah melalui tanam benang untuk mempertahankan kekenyalan kulitnya. 

Ia mengaku, metode tersebut pernah menjadi prioritasnya selama beberapa tahun, meski pada akhirnya Diana menyadari hasil yang didapatkan tidak permanen dan menuntut pengulangan.

"Setiap pakai, sekitar empat atau lima bulan, (kulit) udah turun lagi. Terus coba lagi, terus bertahun-tahun. Akhirnya kan takut ya, kok dibenang-benang terus ya," sebut Diana.

Rasa ragu terhadap prosedur repetitif dan ketakutan pribadinya terhadap meja operasi plastik membuatnya gigih mencari opsi lain. Diana akhirnya menjatuhkan pilihan pada teknologi laser seperti MOXI dan light therapy BBL (BroadBand Light) yang tidak mengharuskannya melakukan bedah invasif.

Sebagai informasi, BBL bukanlah perangkat laser, melainkan teknologi berbasis gelombang cahaya berspektrum luas yang mampu mengatasi berbagai masalah kulit secara bersamaan, mulai dari pigmentasi, kemerahan, hingga merangsang elastisitas. 

Sementara itu, MOXI merupakan perawatan laser thulium fraksional yang menargetkan lapisan kulit dangkal untuk memperbaiki tekstur dan mencerahkan warna kulit yang tidak merata. 

Kedua teknologi medis ini dirancang untuk memberikan hasil kulit yang sehat dan bercahaya dengan masa pemulihan yang sangat minim, sehingga menunjang aktivitas harian penggunanya.

Pentingnya Perawatan Minim Downtime

Sebagai seseorang dengan mobilitas tinggi, Diana memiliki standar ketat dalam memilih perawatan klinis di tengah jadwalnya.

"Jadi selalu aku mencari laser yang rasa sakitnya tuh sedikit ya," jelas Diana.

Ia menghindari perawatan dengan masa pemulihan kulit yang panjang karena akan mengganggu pekerjaan harian dan proses makeup wajahnya. Menurutnya, tekstur kulit yang sehat akan sangat mempermudah aplikasi makeup dan membuatnya bertahan lebih lama.

"Jadi yang bisa habis treatment terus langsung ada kegiatan, langsung bisa makeup, dan makeup-nya juga bagus nempel," papar Diana.

Ia juga merasakan bahwa wajahnya tetap terlihat segar dan bercahaya, serta pori-porinya mengecil meskipun sedang tidak menggunakan makeup tebal.

Mengincar Versi Terbaik di Setiap Usia

Meski aktif melakukan perawatan estetika lanjutan di klinik, Diana tidak serta-merta meninggalkan rutinitas perawatan kulit dasar di rumah. 

Ia tetap mengaplikasikan peeling, serum, sunscreen, dan krim malam yang ditunjang dengan gaya hidup sehat seperti mengonsumsi makanan organik, banyak minum air putih, dan rutin berolahraga pilates maupun yoga.

Bagi Diana, rentetan perawatan ini difokuskan bukan untuk memalsukan rentang usianya, tetapi memaksimalkan potensi penampilan.

"Jadi bukan aku takut tua, tapi lebih ke versi terbaik di umurku sekarang," ucap Diana.

"Misalnya umurku waktu itu masih 40, ya versi terbaiknya waktu di umur 40. Sekarang aku 50-an, ya versi ke-50-an yang terbaik," tutup dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index