Kantongi Marketing Sales Rp1,15 T, DMAS Kaji Kenaikan Target 2026

Kantongi Marketing Sales Rp1,15 T, DMAS Kaji Kenaikan Target 2026
Warga melintasi kantor PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta [FOTO: NET].

JAKARTA - Emiten properti di bawah naungan Sinar Mas Group, PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS), menyatakan membuka lebar peluang untuk melakukan revisi kenaikan pada target kinerja tahun 2026 seiring tingginya permintaan lahan industri serta ketersediaan salur penawaran (pipeline) penjualan yang masih terbuka.

Direktur DMAS, Tondy Suwanto, memaparkan bahwa pencapaian kinerja operasional hingga berakhirnya paruh pertama semester I/2026 memperlihatkan tren pertumbuhan yang sangat positif. Korporasi tercatat telah sukses merealisasikan perolehan prapenjualan (marketing sales) senilai Rp1,15 triliun atau setara dengan pencapaian 55 persen dari target keseluruhan tahunan. 

Optimisme tersebut kian diperkuat oleh kondisi fundamental keuangan perusahaan yang bersih dari beban utang serta tingginya tingkat permintaan pasar, utamanya dari calon investor dan penyewa (tenant) kawasan industri.

"Melihat perkembangan yang ada kemudian juga melihat inquiry di pipeline, kami akan merevisi ke atas target tahun ini. Cuma angkanya masih harus kami bicarakan dan diskusikan secara internal termasuk dengan komisaris,” ujarnya dalam paparan publik, Senin (7/9/2026).

Saat ini, DMAS masih mengantongi cadangan pipeline seluas kurang lebih 85 hektare yang memiliki potensi realisasi tinggi seiring masifnya minat dari calon pembeli. Tondy menyebutkan bahwa pihak manajemen tengah intensif membangun komunikasi serta diskusi dengan sejumlah investor potensial. 

Apabila realisasi penyerapan permintaan tersebut berjalan selaras dengan ekspektasi, ruang bagi perseroan untuk menaikkan target tahunan akan semakin terbuka lebar.

Menilik dari sudut pandang prospek bisnis jangka menengah, Tondy memandang bahwa tren kinerja korporasi bakal terus berada di jalur positif. Pihak manajemen senantiasa berupaya mengakomodasi seluruh kebutuhan tenant, mulai dari penyediaan infrastruktur dasar hingga dukungan layanan operasional yang prima. 

Pendekatan bisnis tersebut dirancang secara strategis demi membangun kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan bersama para tenant, bukan sekadar berorientasi pada perolehan pendapatan instan saat transaksi penjualan lahan rampung.

Di samping itu, perseroan berkomitmen untuk terus memburu peluang ekspansi penambahan cadangan lahan (land bank) sekaligus menggenjot pertumbuhan pos pendapatan berulang (recurring income) demi menjaga ketahanan bisnis dalam jangka panjang. DMAS turut mengandalkan keunggulan kualitas infrastruktur serta standar pelayanan kawasan sebagai pilar utama dalam mempertahankan loyalitas para tenant.

Lebih lanjut, Tondy menilai bahwa kondisi struktur permodalan yang sangat sehat memberikan fleksibilitas ekstra bagi korporasi dalam mengejar ekspansi pertumbuhan. Per posisi Juni 2026, total posisi kas dan setara kas milik DMAS tercatat berada di kisaran angka Rp2,09 triliun, di mana perseroan dipastikan tidak memiliki tanggungan pinjaman keuangan komersial sepeser pun. Posisi kas bersih (net cash) yang kuat ini memberikan keleluasaan finansial bagi DMAS guna mengembangkan infrastruktur maupun melancarkan aksi korporasi akuisisi lahan baru manakala menemukan peluang yang dinilai prospektif.

Di sisi lain, DMAS mengakui bahwa tantangan krusial yang tengah dihadapi perseroan saat ini berkaitan dengan menyusutnya ketersediaan cadangan lahan. Dalam beberapa tahun terakhir, laju volume penjualan lahan tercatat jauh lebih besar ketimbang penambahan land bank anyar.

 Oleh sebab itu, pihak manajemen sedang aktif memburu peluang penambahan luas lahan baru, dengan fokus utama di sekitar kawasan Deltamas. Opsi strategi ini dinilai jauh lebih efisien mengingat seluruh infrastruktur pendukung seperti jaringan kelistrikan, suplai air bersih, kabel serat optik, jaringan telekomunikasi, hingga fasilitas instalasi pengolahan limbah telah tersedia secara matang.

Untuk rencana pengembangan kawasan industri baru di luar kawasan Delta Mas, DMAS menetapkan skala luasan lahan sebagai salah satu variabel pertimbangan yang esensial. Perseroan memandang bahwa luasan lahan minimal sebesar 500 hektare merupakan skala paling ideal untuk menopang pembangunan kawasan industri terpadu yang baru. 

Kendati demikian, Tondy menegaskan bahwa langkah aksi korporasi berupa akuisisi lahan dalam skala besar belum akan direalisasikan dalam waktu dekat. Pihak manajemen masih bersikap selektif menunggu momentum peluang penawaran harga yang kompetitif serta ketersediaan skala lahan yang memadai.

Merujuk pada paparan materi keterbukaan informasi publik, total perolehan pendapatan bersih DMAS hingga tanggal 30 Juni 2026 sukses menyentuh angka Rp1,8 triliun, melompat secara signifikan apabila dikomparasikan dengan perolehan periode serupa tahun sebelumnya yang senilai Rp613 miliar. 

Perolehan laba bruto turut terkerek naik ke level Rp1,28 triliun dari sebelumnya Rp430 miliar, sementara catatan pos laba bersih meroket hingga menembus angka Rp1,1 triliun, meningkat tajam dibandingkan capaian Rp433 miliar pada semester I/2025.

Lonjakan finansial tersebut turut mendongkrak rasio margin laba bruto hingga berada di kisaran 70,8 persen, sementara posisi margin laba bersih tercatat stabil di level sekitar 60,7 persen. Kontributor utama penopang pendapatan masih didominasi oleh lini segmen industri.

 Pendapatan dari segmen ini tercatat memberikan sumbangan masif sebesar Rp1,75 triliun, melesat tajam dibanding perolehan Rp553 miliar pada semester I/2025. Sementara itu, porsi kontribusi dari segmen residensial membukukan angka Rp19 miliar, segmen komersial menyumbang Rp18 miliar, sektor perhotelan menyumbang Rp8,1 miliar, serta pendapatan dari lini sewa menyumbang Rp9,5 miliar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index