JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS diproyeksikan bakal mengalami pelemahan pada kisaran rentang Rp17.540 hingga Rp17.590 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Jumat (11/9/2026).
Sebelumnya, laju nilai tukar rupiah resmi ditutup melemah sebesar 36 poin atau terdepresiasi 0,21% sehingga akhirnya parkir berada di posisi level Rp17.547 per dolar AS pada perdagangan hari Kamis (10/9/2026).
Di waktu yang sama, pergerakan mata uang regional di kawasan Asia terpantau ditutup secara bervariasi di hadapan dolar AS. Mata uang yen Jepang berhasil ditutup menguat 0,01%, dolar Hong Kong naik 0,02%, sedangkan dolar Singapura terpangkas 0,02%, dolar Taiwan melemah 0,27%, dan won Korea tergerus 0,17%.
Selanjutnya, mata uang yuan China bergerak stagnan, ringgit Malaysia sukses terangkat 0,15%, serta baht Thailand berhasil menguat 0,08% terhadap dolar AS.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan paparan bahwa dari ranah global, dorongan sentimen bersumber dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa eskalasi perang dengan Iran diprediksi akan purna setelah gelaran pemilihan umum sela pada bulan November mendatang.
Meski demikian, rincian laporan yang dirilis oleh Wall Street Journal membeberkan bahwa jajaran penasihat utama Trump justru menggarisbawahi potensi perselisihan konflik tersebut akan terus berkecamuk hingga masa kepemimpinan Trump berakhir, menyusul minimnya indikasi penurunan eskalasi di lapangan.
Selain perkembangan konflik politik tersebut, para pelaku pasar (trader) kini tengah bersiap mencermati penerbitan data Indeks Harga Produsen (PPI) AS kemarin serta rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dijadwalkan pada hari Jumat besok.
Pengumuman laporan-laporan ekonomi ini dipandang sanggup menyajikan petunjuk penting mengenai apakah bank sentral The Fed bakal mengerek suku bunga pada agenda pertemuan pekan depan demi menekan laju tekanan harga. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peta ekspektasi pasar menunjukkan adanya probabilitas sekitar 60% bagi kenaikan suku bunga acuan pada rapat kebijakan bank sentral pekan depan.
Sementara dari dinamika dalam negeri, munculnya sentimen negatif dipicu oleh lonjakan risiko fiskal imbas masih tingginya harga minyak mentah dunia yang mulai membayangi ketahanan stabilitas perekonomian nasional. Peningkatan harga minyak mentah tersebut memicu rentetan kekhawatiran mendasar di pelbagai sektor strategis.
“Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat,” ucap Ibrahim, Kamis (10/9/2026).