Mengapa Sikap Terlalu Santai dari Seorang Pria Bisa Merugikan Pasangan?

Rabu, 12 Agustus 2026 | 03:08:31 WIB
Ilustrasi pasangan [FOTO: NET].

JAKARTA - Lelaki yang santai, minim tuntutan, dan kerap melontarkan kata “terserah” sekilas tampak sebagai figur pasangan yang ideal. Hubungan di antara keduanya terasa minim perselisihan lantaran ia jarang mempermasalahkan suatu hal. Kendati demikian, tabiat terlalu santai tidak selamanya merefleksikan fleksibilitas atau kemudahan dalam berkompromi. Pada situasi tertentu, perangai tersebut justru mengindikasikan rendahnya inisiatif serta minimnya keterlibatan emosional dalam menjalin relasi.

Apa itu fenomena laki-laki kantong plastik? Gejala ini belakangan populer disebut sebagai “plastic bag theory” atau teori kantong plastik. Istilah tersebut melukiskan tipe pasangan yang sekadar mengalir mengikuti arus tanpa mengambil andil secara aktif di dalam hubungan. Disadur dari SELF Magazine, Selasa (11/8/2026), konsep ini digagas oleh pelatih hubungan pria sekaligus pembicara motivasi Alessandro Frosali.

Ia memvisualisasikan laki-laki “kantong plastik” sebagai sosok yang pasif, tidak pernah merintis inisiatif, enggan menyusun rencana, serta hanya pasif menantikan pasangannya untuk menentukan arah kebersamaan.

Psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD, menuturkan bahwa sikap santai memang kerap memikat, terkhusus bagi individu yang sebelumnya terjerat dalam relasi penuh ketegangan. “Ketika Anda terbiasa dengan laki-laki yang mudah meledak atau baru keluar dari hubungan yang penuh kekacauan, tidak adanya gesekan di awal hubungan dapat terasa seperti rasa aman,” ujar Romanoff.

Akan tetapi, masalah mulai timbul tatkala tabiat santai tersebut bergeser menjadi kepasifan murni. Berikut adalah tiga alasan mengapa sikap terlalu santai pada laki-laki dapat merugikan pasangan:

1. Tidak pernah mengambil inisiatif dalam hubungan Pasangan yang sehat tidak menuntut salah satu pihak untuk selalu memegang kendali atas segala hal. Kendati demikian, ia tetap memperlihatkan usaha nyata tanpa harus terus-menerus didesak. Contohnya, ia menghubungi kekasihnya lantaran dilandasi keinginan untuk berkomunikasi, sigap membaca situasi saat pasangannya sedang dirundung masalah, atau proaktif merampungkan persoalan sebelum membesar menjadi konflik terbuka.

Sebaliknya, lelaki yang konsisten menjawab “terserah, kamu mau apa?” justru melimpahkan seluruh beban perencanaan ke pundak pasangannya. Romanoff menerangkan bahwa kondisi semacam ini mengubah sikap santai menjadi wujud penghindaran sekaligus rendahnya komitmen untuk berinvestasi dalam hubungan.

2. Tidak memiliki pendapat atau pendirian sendiri Lelaki yang santai tetap sepatutnya memiliki preferensi dan prinsip pribadi. Ia bisa saja memegang pandangan berbeda terkait pilihan tempat makan, cabang olahraga favorit, jalur karier, domisili, hingga rancangan masa depan keluarga. Keisha Saunders-Waldron, LCMHCS, seorang terapis spesialis dinamika hubungan dan teori keterikatan, menegaskan bahwa seseorang yang benar-benar santai tidak lantas kehilangan jati diri.

“Sebagian laki-laki tidak banyak drama bukan karena mereka merasa aman, tetapi karena mereka tidak memiliki perasaan terhadap apa pun. Itu sebabnya ketika kamu terlihat tidak menyukai pendapatnya, dia akan meninggalkannya,” kata Saunders-Waldron.

Kebiasaan mengamini seluruh kehendak pasangan demi meredam potensi konflik pada akhirnya justru memunculkan indikasi ketiadaan arah serta identitas personal yang jelas.

3. Mudah mengatakan iya, tetapi tidak menindaklanjuti Indikasi berikutnya terlihat manakala seseorang selalu menyambut baik setiap rencana, namun bergeming tanpa pernah mengeksekusinya secara nyata. Ia mungkin sepakat untuk merencanakan liburan, membahas wacana tinggal dalam satu atap, atau menuntaskan suatu permasalahan pelik.

Namun, rencana-rencana tersebut mangkrak begitu saja hingga pasangannya harus berulang kali mengingatkan atau bahkan mengerjakannya seorang diri. Saunders-Waldron menilai bahwa melontarkan kata “iya” tanpa dibarengi aksi nyata bukanlah bentuk kerja sama yang esensial. Ia memaparkan bahwa esensi sikap santai yang sehat tecermin dari kecakapan merespons dinamika hidup yang tak terduga dengan ketenangan, keluwesan, serta selera humor.

“Sikap santai adalah bagaimana seorang laki-laki merespons ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana, dengan tenang, fleksibel, dan humor. Sementara sisi proaktif berarti dia hadir sejak awal dengan niat,” pungkas dia.

Dengan demikian, kualitas relasi yang prima tidak sekadar diukur dari absennya konflik, melainkan dari seberapa besar upaya kolektif yang diberikan bersama-sama. Sikap santai baru akan menjadi atribut positif apabila tetap diiringi oleh rasa kepedulian, inisiatif, komunikasi dua arah, dan rasa tanggung jawab yang matang.

Terkini