Airlangga Dorong Wisata Belanja Jadi Motor Ekonomi, Ritel Diarahkan Masuk Desa

Jumat, 28 Agustus 2026 | 17:17:00 WIB

EDUKASIEKONOMI.COM — Pemerintah menargetkan sektor perdagangan domestik menjadi mesin pertumbuhan baru dengan menggarap potensi belanja wisatawan. Langkah ini diumumkan dalam acara Indonesia Retail Summit & Expo (IRSE) 2026 dan Penyerahan Penghargaan Hari Ritel Modern Indonesia (HARMONI) Awards 2026 di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

“Tentu di berbagai negara, tujuan dari wisatawan sebagian adalah kuliner dan belanja. Jadi ini tentu perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja. Dan kita berharap bahwa ini juga bisa memanfaatkan wisata belanja sebagai motor pertumbuhan baru,” ujar Airlangga dalam sambutannya.

Jutaan Wisatawan dan Kebocoran Belanja ke Luar Negeri

Data periode Januari–Juni 2026 mencatat kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,45 juta, tumbuh 5,71 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara tercatat 630,41 juta perjalanan, meningkat 2,71 persen.

Angka ini berkebalikan dengan data Bank Indonesia yang menunjukkan sekitar 4,46 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri pada Semester I 2026. Pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia di luar negeri mencapai USD 6,7 miliar—angka yang menurut pemerintah seharusnya bisa dialihkan ke destinasi dan pusat belanja dalam negeri.

Ritel Tidak Hanya untuk Kota Besar

Transformasi perdagangan tidak berhenti di pusat perbelanjaan modern perkotaan. Pemerintah memperluas ekosistem ritel hingga ke pedesaan melalui penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

“Bapak Presiden juga mendorong agar retail ini tidak hanya di kota-kota besar ataupun di urban, tetapi masuk juga di pedesaan,” jelas Airlangga. Koperasi ini dirancang menjadi bagian dari rantai distribusi barang kebutuhan masyarakat sekaligus agen penyerap produk pertanian dan perikanan lokal.

Sinergi Ritel dan Produsen Dalam Negeri

Pemerintah menekankan bahwa pertumbuhan sektor ritel harus berdampak langsung pada industri manufaktur lokal. “Dan terus pemerintah mendorong sinergi antara retail, dan harapannya tentu barang yang didorong di retail itu juga barang yang diproduksi di dalam negeri,” pungkas Airlangga.

Siklus ini diharapkan menciptakan rantai ekonomi yang utuh: konsumen berbelanja, ritel memperoleh keuntungan, dan produsen dalam negeri mendapatkan pasar yang lebih luas.

Konsumsi Rumah Tangga dan Digitalisasi Jadi Penopang

Kepercayaan konsumen masih menjadi fondasi utama strategi ini. Konsumsi rumah tangga pada Triwulan II 2026 tumbuh 5,06 persen secara tahunan dengan kontribusi 53,32 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Juli 2026 berada di level 116,8—di atas batas optimistis 100.

Transformasi perdagangan juga berjalan seiring dengan adopsi sistem pembayaran digital yang terus menguat hingga Juni 2026, mempercepat integrasi ekosistem ritel modern dengan pola konsumsi masyarakat yang semakin adaptif.

Terkini