Literasi Asuransi 42,84 Persen vs Inklusi 29,55 Persen: Tugu Insurance Ungkap Dua Biang Kerok Utama

Literasi Asuransi 42,84 Persen vs Inklusi 29,55 Persen: Tugu Insurance Ungkap Dua Biang Kerok Utama
ini. ISI:

EDUKASIEKONOMI.COM — Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mengungkap fenomena menarik di sektor perasuransian. Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah cukup paham tentang seluk-beluk asuransi, tetapi pemahaman itu belum berbanding lurus dengan minat membeli produknya. Selisih indeks literasi dan inklusi yang mencapai 13,29 poin persen ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pelaku industri.

Produk Perlindungan, Bukan Instrumen Investasi

Corporate Secretary Tugu Insurance Dudi Subekti menjelaskan, kesenjangan ini berakar pada sifat dasar produk asuransi yang berbeda dari tabungan atau investasi. Produk keuangan lain menawarkan manfaat yang bisa langsung dirasakan; asuransi justru bekerja sebaliknya.

"Asuransi pada dasarnya merupakan produk perlindungan terhadap risiko yang manfaatnya cenderung baru dirasakan ketika risiko terjadi," jelasnya kepada Kontan, Kamis (27/8).

Karena manfaatnya tidak kasatmata, keputusan membeli polis menuntut pertimbangan kebutuhan dan prioritas jangka panjang yang matang. Dudi menilai, masyarakat kerap menunda pembelian lantaran merasa risiko belum mengancam saat ini.

Faktor Kepercayaan Jadi Penentu

Selain karakteristik produk, Dudi mengungkapkan faktor kedua yang tak kalah krusial: tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri. Persepsi negatif tentang proses klaim atau praktik penjualan di masa lalu masih membekas di benak sebagian calon nasabah.

"Tingkat kepercayaan dan persepsi masyarakat terhadap produk dan industri perasuransian juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keputusan masyarakat," ujarnya.

Karena itu, Dudi menegaskan peningkatan literasi saja tidak cukup. Edukasi harus berjalan beriringan dengan penguatan citra industri agar masyarakat yakin asuransi adalah solusi perlindungan yang andal.

Langkah Konkret Tugu Insurance Menjembatani Gap

Tugu Insurance menyiapkan strategi untuk menyeimbangkan angka literasi dan inklusi. Perusahaan tidak hanya fokus pada sosialisasi manfaat asuransi, tetapi juga membangun kepercayaan publik terhadap produk dan industri secara menyeluruh.

Dudi menyampaikan, upaya edukasi yang dilakukan akan selalu relevan dengan kebutuhan masyarakat. Harapannya, masyarakat mampu mengambil keputusan tepat dalam memilih perlindungan sesuai profil risiko masing-masing.

"Dengan pemahaman dan kepercayaan yang makin baik, diharapkan masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat dalam memilih perlindungan sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, peningkatan literasi dapat berjalan seiring dengan perluasan inklusi perasuransian," tuturnya.

Konteks Nasional yang Lebih Luas

Persoalan gap ini semakin menarik jika dibandingkan dengan capaian industri keuangan secara keseluruhan. SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan nasional berada di angka 69,57 persen, naik dari posisi 66,54 persen pada tahun sebelumnya. Adapun indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen, meningkat dari 92,74 persen.

Artinya, di sektor perbankan dan pasar modal, literasi dan inklusi bergerak relatif beriringan. Namun di sektor asuransi, masyarakat masih enggan "menukar" pemahaman mereka menjadi kepemilikan polis. Padahal, asuransi merupakan benteng penting untuk melindungi aset dan keluarga dari guncangan finansial akibat risiko tak terduga.

Ke depan, kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan pemerintah dibutuhkan untuk memperkecil jurang ini. Tanpa aksi nyata, angka literasi yang tinggi hanya akan menjadi statistik tanpa dampak ekonomi yang signifikan bagi ketahanan finansial masyarakat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index