JAKARTA - Tren koreksi harga emas masih terus berlangsung kendati tekanan inflasi Amerika Serikat mulai mereda. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong harga minyak justru memicu risiko inflasi baru dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, sehingga menekan prospek logam mulia.
Mengutip Kitco, Senin (20/7/2026), harga emas spot pada penutupan akhir pekan berada di level US$4.017,30 per *troy ounce* atau melemah sekitar 2,5% dalam sepekan. Selama empat pekan terakhir, harga emas telah empat kali menguji level psikologis US$4.000 per troy ounce, namun tetap mampu bertahan di atas area tersebut.
Senior Market Analyst FXTM, Lukman Otunuga, menilai penutupan kembali Selat Hormuz meningkatkan ancaman gangguan pasokan minyak yang memicu kekhawatiran inflasi, sekaligus mendorong penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
"Dengan pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September sebesar 56%, ruang kenaikan harga emas menjadi terbatas. Dolar AS yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi yang lebih tinggi membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, semakin kurang menarik," katanya.
Menurutnya, level US$4.000 menjadi batas krusial bagi arah pergerakan harga emas. Jika ditembus, harga emas berpotensi turun menuju US$3.950 hingga US$3.900. Sebaliknya, jika level tersebut mampu bertahan, harga emas berpeluang kembali menguji US$4.100.
Di sisi lain, Head of Business Development XS.com, Simon-Peter Massabni, menilai sebagian besar sentimen negatif telah tercermin dalam harga emas saat ini.
"Saya menilai pasar kemungkinan sudah memperhitungkan skenario jangka pendek yang terlalu pesimistis. Emas tetap didukung faktor-faktor fundamental yang kuat, terutama pembelian berkelanjutan oleh bank-bank sentral dunia, tingginya ketidakpastian geopolitik, serta meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai dari risiko utang negara dan inflasi jangka panjang," katanya.
Menurutnya, pertanyaan utama saat ini bukan apakah tren kenaikan emas telah berakhir, melainkan seberapa besar sentimen negatif yang sudah diserap pasar.
"Dalam pandangan saya, area US$3.950 hingga US$3.940 merupakan zona dukungan strategis yang dapat menjadi pijakan untuk kembali membangun posisi beli apabila pasar mulai menyadari bahwa dampak ketegangan geopolitik terhadap pertumbuhan ekonomi global pada akhirnya lebih besar dibandingkan tekanan inflasinya," ujarnya.
Massabni menambahkan bahwa harga emas masih berpeluang menguat apabila ekonomi Amerika Serikat melambat atau tekanan inflasi energi mereda.
"Setiap tanda perlambatan ekonomi Amerika Serikat atau meredanya tekanan inflasi akibat energi dapat dengan cepat mendorong pasar kembali memperkirakan penurunan suku bunga, sehingga memberikan dukungan fundamental baru bagi emas. Dari sisi teknikal, emas saat ini berada dalam fase akumulasi dan sedang mempersiapkan diri untuk kembali menguat dengan keyakinan yang lebih kuat," katanya.
Hingga perdagangan Senin (20/7/2026) pukul 18.22 WIB, harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,08% atau 3,3 poin ke level US$4.020,5 per troy ounce.