Rupiah Melemah Tertekan Lonjakan Harga Minyak dan Konflik

Rupiah Melemah Tertekan Lonjakan Harga Minyak dan Konflik
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.963 Per Dolar AS [FOTO: NET].

JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah tercatat ditutup melemah sebesar 0,15% atau mengalami koreksi sebanyak 27 poin ke posisi level Rp17.963 per dolar AS dalam jalannya sesi perdagangan Jumat (24/7/2026). Di waktu yang bersamaan, pergerakan indeks dolar AS justru terpantau melemah 0,09% ke angka 101,35.

Berdasarkan data yang dilansir dari Trading Economics, tekanan yang mendera rupiah saat ini dipicu oleh lonjakan harga minyak di pasar global yang diakibatkan oleh eskalasi perang di kawasan Timur Tengah. Mengingat posisi Indonesia sebagai negara importir bersih minyak, lonjakan harga komoditas minyak yang melambung melewati angka US$100 per barel memberikan tekanan yang cukup berat.

"Ini memicu kekhawatiran atas posisi fiskal Indonesia sebagai importir minyak bersih," tulis laporan tersebut, Jumat (24/7/2026).

Sebagai langkah taktis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pihak Bank Indonesia lewat forum Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan Juli 2026 memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan tetap berada di level 5,75%. Kebijakan tersebut juga ditempuh sebagai instrumen pengendalian laju tingkat inflasi.

Di samping itu, pihak Bank Indonesia turut memberikan peringatan dini bahwa fenomena iklim El Niño berpotensi mendongkrak kenaikan harga komoditas pangan, kendati institusi tersebut tetap memproyeksikan angka inflasi utama akan senantiasa terkendali dalam koridor kisaran target BI hingga tahun 2027 mendatang.

"Sementara itu, indeks dolar AS berada di dekat level tertinggi tiga minggu karena tarif terbaru Presiden Trump kembali memicu kekhawatiran akan perang dagang yang baru," tulis Trading Economics.

Sebelumnya, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, telah memberikan proyeksi bahwa nilai tukar rupiah bakal bergerak melemah dalam rentang proyeksi antara Rp17.930 sampai dengan Rp17.980 per dolar AS. Menurut pandangannya, rupiah akan terus berada di bawah tekanan seiring dengan belum meredanya konflik bersenjata di wilayah Timur Tengah.

Terkait dinamika perkembangan konflik tersebut, Ibrahim memaparkan bahwa kelompok Houthi secara terbuka melancarkan serangan yang menargetkan kapal tanker milik Saudi yakni ENCELA dan LAYLIA, menyusul tuduhan bahwa armada tersebut telah melanggar kebijakan blokade maritim baru yang telah diumumkan sebelumnya.

Insiden penyerangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari peringatan yang dikeluarkan pada awal pekan bahwa kelompok bersenjata tersebut bertekad memblokade seluruh jalur pelayaran yang terafiliasi dengan kepentingan Saudi melalui perairan Selat Bab el-Mandeb, yang dikenal sebagai salah satu titik jalur transit pasokan energi paling sibuk di dunia yang menghubungkan kawasan Laut Merah dengan Teluk Aden.

"Gangguan yang berkelanjutan dapat memaksa kapal tanker untuk mengubah rute di sekitar Afrika selatan, memperpanjang perjalanan dan meningkatkan biaya pengiriman," kata Ibrahim, Kamis (23/7/2026).

Lonjakan inflasi sektor energi global ini diprediksi akan turut mewarnai pertimbangan dan keputusan kebijakan yang akan diambil oleh pihak Bank Sentral Amerika Serikat. Ibrahim menambahkan bahwa saat ini seluruh perhatian pasar keuangan global tengah terpusat menantikan pengumuman keputusan moneter dari Federal Reserve (Fed) pada pekan depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index