Saham GIAA Terbang 33% Usai GMFI Kuasi Reorganisasi Jadi Rp 19

Saham GIAA Terbang 33% Usai GMFI Kuasi Reorganisasi Jadi Rp 19
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). (Foto: NET)

JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengumumkan pembaruan nilai nominal saham perusahaan turunan mereka, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI), usai para pemegang saham merestui pelaksanaan kuasi reorganisasi. 

Di dalam kuasi reorganisasi tersebut, harga nominal saham GMF disesuaikan menjadi Rp 19 per lembar. Walaupun nominal berubah, total lembar saham dan porsi penguasaan Garuda Indonesia di GMF sama sekali tidak mengalami pergeseran. 

Vice President Corporate Secretary & TJSL Garuda Indonesia Andreas Tumpal H Hutapea melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia pada 30 Juli 2026 menguraikan jika agenda itu sudah mengantongi lampu hijau dari para pemegang saham.

"Sebelumnya, pada 28 Juli 2026, GMF menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui permohonan pelaksanaan kuasi reorganisasi yang mencakup penurunan modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor melalui pengurangan nilai nominal saham,” papar Andreas dalam keterbukaan informasi pada 30 Juli 2026.

Sebelum pelaksanaan kuasi reorganisasi, Garuda Indonesia memegang dua kategori saham GMF. Kepemilikan saham Seri A mencapai 20,15% atau setara 25.156.058.796 lembar dengan nominal Rp 100 per lembar. 

Dengan begitu, akumulasi nilai nominal kepemilikan saham Seri A mencapai Rp 2,52 triliun. Sementara itu, porsi saham Seri B menyentuh 7,28% atau sejumlah 9.093.245.600 lembar dengan harga nominal Rp 25 per lembar. Besaran nilai nominal kepemilikan saham Seri B itu mencapai Rp 227,33 miliar. 

Sehingga, total harga nominal kepemilikan Garuda Indonesia di GMF sebelum kuasi reorganisasi berada di kisaran Rp 2,74 triliun. Sesudah harga nominal saham GMF dipangkas menjadi Rp 19 per lembar, nilai nominal kepemilikan Garuda Indonesia turut menyesuaikan. 

Besaran nilai nominal kepemilikan saham Seri A Garuda Indonesia berubah menjadi Rp 477,97 miliar. Sementara itu, nilai nominal kepemilikan saham Seri B menjadi Rp 172,77 miliar. 

Walaupun terjadi pergeseran harga nominal tersebut, kuantitas lembar saham milik Garuda Indonesia ataupun persentase penguasaannya di GMF tetap setara. Garuda Indonesia menegaskan eksekusi kuasi reorganisasi GMF tidak mengubah level kendali GIAA terhadap entitas anak tersebut. 

Perubahan nilai nominal saham pun tidak membawa pengaruh terhadap pencatatan dalam laporan keuangan konsolidasian Garuda Indonesia. 

Dengan kata lain, penyesuaian itu tidak menggeser posisi kendali ataupun konsolidasi GMF ke dalam laporan keuangan perseroan. 

Dari ranah operasional, aksi korporasi tersebut juga tidak memunculkan dampak langsung terhadap aktivitas harian Garuda Indonesia. Perusahaan memastikan seluruh agenda operasional dan pelayanan penerbangan senantiasa berjalan normal.

Kinerja GIAA mulai memperlihatkan pemulihan performa pada permulaan 2026. Sampai kuartal I 2026, Garuda Indonesia Group sukses memangkas rugi bersih konsolidasi hingga 45,2% secara tahunan. 

Berdasarkan materi paparan perusahaan yang dirilis pada 7 Agustus 2026, kerugian bersih Garuda Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat senilai US$ 41,6 juta. 

Angka itu menyusut tajam jika dikomparasikan dengan kerugian bersih US$ 75,9 juta pada rentang waktu yang serupa tahun sebelumnya. Pemulihan itu selaras bersama kenaikan pemasukan usaha. 

Pada kuartal I 2026, pendapatan Garuda Indonesia Group mencapai US$ 762,4 juta, melompat 5,4% dari US$ 723,6 juta pada kuartal I 2025. 

Kontributor terbesar bersumber dari divisi penerbangan berjadwal yang membukukan pemasukan US$ 648,1 juta, menanjak 7,4% secara tahunan dan menyumbang sekitar 80% dari total pemasukan grup. Di sisi lain, divisi kargo membukukan pemasukan sebesar US$ 39,6 juta. 

Kenaikan pemasukan yang diiringi efisiensi pengeluaran turut memacu pemulihan profitabilitas. Laba operasional atau EBIT Garuda Indonesia Group melonjak 47,2% secara tahunan menjadi US$ 46,5 juta, dari US$ 31,6 juta pada kuartal I 2025. EBITDA turut mendaki 7% secara tahunan menjadi US$ 210,4 juta. 

Pemulihan performa Garuda Indonesia tidak terpisahkan dari kebangkitan kuantitas armada yang siap beroperasi. Sepanjang setahun belakangan, perusahaan sukses memasukkan enam pesawat siap terbang, sehingga total armada yang siap mengudara menyentuh 102 unit. 

Jumlah itu mencakup 60 armada Garuda Indonesia serta 42 armada Citilink. Bertambahnya armada siap operasi turut mendongkrak kapasitas serta frekuensi penerbangan. 

Pada kuartal I 2026, frekuensi penerbangan Garuda Indonesia Group menembus 38.675 penerbangan, naik 5,87% dibanding rentang waktu yang sama tahun lalu. 

Lonjakan kapasitas itu selanjutnya diikuti penambahan jumlah penumpang. Garuda Indonesia Group menerbangkan 5,42 juta pelancong pada kuartal I 2026, naik 6,76% secara tahunan dari 5,08 juta penumpang. 

Performa itu turut ditopang oleh tingkat hasil penumpang atau passenger yield yang terjaga positif di angka 7,56 US cents, tumbuh 2,49% secara tahunan. Sementara itu, tingkat keterisian kursi atau Seat Load Factor (SLF) bertahan pada posisi 78,07%.

Selain mendongkrak pemasukan, Garuda Indonesia juga berhasil menekan biaya operasional. Akumulasi beban usaha grup merosot 0,7% secara tahunan menjadi US$ 713,2 juta pada kuartal I 2026. 

Penurunan pengeluaran terutama bersumber dari pos bahan bakar dan perawatan pesawat. Beban bahan bakar berkurang 3,7% secara tahunan menjadi US$ 224,7 juta. 

Sedangkan, biaya perawatan dan perbaikan menyusut 9,1% secara tahunan menjadi US$ 48,6 juta. Koreksi pengeluaran yang terjadi ketika pemasukan menanjak menjadikan margin operasional perusahaan kian membaik. 

Dari aspek reliabilitas operasional, tingkat ketepatan waktu penerbangan atau On-Time Performance (OTP) turut menanjak. OTP Garuda Indonesia Group mencapai 91,01%, bertambah 3,08 percentage points dibanding 87,93% pada kuartal I 2025. 

Bahkan, tatkala rentang puncak arus mudik Lebaran 2026, OTP Garuda Indonesia sempat menyentuh 92,08%. Garuda Indonesia pun masih meneruskan pengembangan armada sepanjang 2026. 

Sampai penghujung Maret 2026, total armada Garuda Indonesia Group mencapai 142 unit, terdiri atas 78 pesawat Garuda Indonesia dan 64 pesawat Citilink. 

Memasuki kuartal II 2026, Garuda Indonesia menjadwalkan kedatangan empat unit Boeing 737-800. Di samping itu, dua unit Boeing 737-8 dijadwalkan mendarat pada akhir tahun. 

Penambahan armada tersebut akan berjalan berdampingan bersama agenda penarikan ulang serta penghentian operasional pesawat-pesawat yang lebih uzur secara bertahap.

Manajemen menetapkan 2026 sebagai fase “Stabilization & Basic Execution”. Fokus GIAA saat ini memperkuat fondasi operasional sekaligus mengeksekusi enam pilar transformasi, mencakup layanan, pencitraan merek, bisnis, operasional, digital, dan sumber daya manusia. Sejumlah agenda strategis dipersiapkan guna menopang fase tersebut. 

Di antaranya penataan ulang rute penerbangan memakai pendekatan profit-first network, renegosiasi kontrak pemeliharaan mesin, refinancing kewajiban jangka pendek, serta modernisasi platform digital lewat SAP S/4HANA dan New Web Booking Engine. 

Melalui kombinasi kenaikan pemasukan, kebangkitan armada, lonjakan trafik penumpang, serta efisiensi pengeluaran, Garuda Indonesia menaruh harapan pemulihan performa operasional pada kuartal I 2026 dapat menjadi landasan untuk memperkokoh performa finansial sepanjang tahun. 

Saham GIAA ditutup menguat 33,33% di posisi Rp 72 per lembar pada Senin (10/8/2026).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index