Telkom Tuntaskan Spin-Off InfraCo Senilai Rp49,9 Triliun, InfraNexia Siap Garap Bisnis AI dan Pusat Data

Telkom Tuntaskan Spin-Off InfraCo Senilai Rp49,9 Triliun, InfraNexia Siap Garap Bisnis AI dan Pusat Data
Telkom Tuntaskan Spin-Off InfraCo Senilai Rp49,9 Triliun, InfraNexia Siap Garap Bisnis AI dan Pusat Data

Transformasi besar di tubuh TelkomGroup akhirnya memasuki babak eksekusi. Melalui penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2, perusahaan pelat merah ini secara resmi memindahkan portofolio bisnis dan aset infrastruktur senilai Rp49,9 triliun ke InfraNexia. Langkah ini tidak hanya merombak struktur internal, tetapi juga menegaskan arah baru BUMN telekomunikasi itu untuk tidak lagi sekadar menjadi operator, melainkan pemain utama infrastruktur digital nasional.

InfraNexia Kuasai 112.000 Km Fiber Optik

Setelah proses pengalihan aset rampung, InfraNexia kini menguasai aset strategis yang sangat besar. Perusahaan akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang membentang di berbagai wilayah Indonesia. Dengan kepemilikan aset tersebut, InfraNexia diposisikan sebagai penyedia layanan konektivitas grosir (wholesale connectivity) yang berdiri sendiri.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyebut penyelesaian spin-off ini sebagai tonggak penting dalam transformasi TelkomGroup. Menurutnya, aksi korporasi ini merupakan bagian dari strategi besar TLKM 30 untuk membuka nilai (unlock value) perusahaan melalui optimalisasi dan monetisasi aset infrastruktur digital bernilai tinggi, seperti jaringan serat optik, menara telekomunikasi, dan pusat data.

“Dengan kehadiran InfraNexia kami optimistis dapat menghadirkan layanan yang lebih cepat, andal, dan berkualitas sehingga mampu memberikan customer experience yang terbaik bagi pelanggan,” ujar Dian dalam keterangan resminya, Senin (10/8/2026).

Fokus Baru: AI, Cloud, dan Data Center

InfraNexia tidak hanya akan mengelola infrastruktur pasif. Direktur Utama InfraNexia, Lukman Hakim Abd. Rauf, menegaskan bahwa penyelesaian spin-off menjadi fondasi bagi perusahaan untuk memperluas layanan. Fokus utamanya adalah memperkuat layanan inti seperti 5G backhaul, wholesale network, fiber to the home (FTTx), hingga passive infrastructure sharing.

Yang lebih menarik, InfraNexia juga akan mempercepat modernisasi jaringan dan implementasi autonomous network. Langkah ini disiapkan untuk mendukung kebutuhan infrastruktur bagi teknologi kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud), dan pusat data (data center) yang permintaannya diprediksi melonjak di Indonesia.

Mengapa Spin-Off Ini Penting?

Secara korporasi, pemisahan ini memberikan fleksibilitas lebih besar bagi Telkom untuk menjalin kemitraan strategis. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menjelaskan bahwa spin-off merupakan implementasi penataan portofolio bisnis agar lebih fokus dan agile dalam mengembangkan bisnis infrastruktur digital.

Meski lebih dari 99% saham InfraNexia tetap dipegang Telkom, perusahaan akan beroperasi secara profesional dan melayani seluruh pelanggan tanpa diskriminasi. Telkom memastikan proses spin-off berjalan sesuai prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan ketentuan regulator, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Konsolidasi aset ini juga sejalan dengan inisiatif Danantara Asset Management dalam merampingkan dan memperkuat lini bisnis BUMN.

Dengan struktur baru ini, Telkom berharap InfraNexia mampu menjadi mesin pertumbuhan baru yang tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga mempercepat konektivitas digital di seluruh pelosok negeri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index