Emas Tembus USD4.643 per Ons, Cetak Rekor Tertinggi Tiga Bulan di Tengah Gejolak Global

Emas Tembus USD4.643 per Ons, Cetak Rekor Tertinggi Tiga Bulan di Tengah Gejolak Global

EDUKASIEKONOMI.COM — Lonjakan harga emas terjadi saat indeks dolar AS melemah dan Departemen Keuangan AS gencar menekan biaya pinjaman jangka panjang. Kombinasi ini membuat emas semakin menarik sebagai instrumen penyimpan nilai, terutama ketika ketidakpastian ekonomi global tengah meninggi.

Harga emas spot tercatat melonjak 0,9% ke level USD4.643,63 per ons, sementara kontrak emas berjangka AS (gold futures) ikut menguat 0,4% ke level USD4.699,10 per ons. Pasar kini menanti rilis data inflasi Amerika Serikat serta pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, yang diyakini akan memberi sinyal arah suku bunga ke depan.

Reli 11% dalam Dua Bulan, Sentuh Level Tertinggi Sejak Mei

Penguatan ini bukan peristiwa sekali jalan. Dalam sepekan terakhir, harga emas telah melesat sekitar 4%, menandai kenaikan mingguan ketiga secara beruntun. Sejak awal Agustus, logam mulia ini bahkan sudah melonjak lebih dari 11%, membalikkan tren negatif yang terjadi pada akhir Juni lalu.

Pemulihan tajam ini menjadikan emas sebagai salah satu aset dengan performa terbaik di tengah gejolak pasar keuangan global. Investor yang membeli emas di titik terendah akhir Juni—saat harganya sempat menyentuh USD3.942 per ons—kini menikmati keuntungan lebih dari 17% hanya dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan.

Pelemahan Dolar dan Sanksi Iran Jadi Katalis Utama

Setidaknya ada dua faktor utama yang mendorong reli emas kali ini. Pertama, indeks dolar AS yang melemah membuat emas lebih terjangkau bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Kedua, eskalasi geopolitik menyusul sanksi terbaru Washington terhadap Iran meningkatkan permintaan aset safe-haven secara signifikan.

Langkah agresif US Treasury dalam menekan biaya pinjaman jangka panjang turut memperkuat daya tarik emas. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah ditekan, emas yang tidak memberikan bunga justru menjadi alternatif investasi yang lebih kompetitif dibandingkan aset berpendapatan tetap.

Fokus pasar berikutnya tertuju pada data inflasi utama AS yang dijadwalkan rilis pekan ini. Angka inflasi yang lebih rendah dari perkiraan akan memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter Federal Reserve, yang berpotensi mendorong harga emas lebih tinggi lagi.

Bagi investor ritel Indonesia, reli emas global ini juga berdampak pada harga emas batangan di dalam negeri yang umumnya mengikuti pergerakan pasar internasional. Namun, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap menjadi variabel yang perlu dicermati sebelum memutuskan membeli emas sebagai instrumen investasi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index