EDUKASIEKONOMI.COM — Proses pemilihan sembilan anggota AHWA berlangsung melalui tabulasi suara dari pemilik suara sah muktamar, yakni Pengurus Wilayah NU (PWNU), Pengurus Cabang NU (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa NU (PCI NU). Usulan nama-nama kiai tersebut telah diserahkan sejak awal registrasi muktamar.
Perolehan Suara Sembilan Kiai
KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso memperoleh suara terbanyak dengan 485 suara atau 10,31 persen. Posisi kedua ditempati TGK KH Nuruzzahri Yahya (Waled NU) dengan 477 suara atau 10,14 persen, disusul AG KH Baharuddin HS dengan 392 suara atau 8,3 persen.
Empat kiai lainnya yang lolos adalah KH Miftachul Akhyar dengan 350 suara (7,4 persen), KH Afifuddin Muhajir dengan 339 suara (7,2 persen), KH Anwar Iskandar dengan 326 suara (6,9 persen), dan KH Anwar Manshur dari Lirboyo dengan 303 suara (6,4 persen). Dua kursi terakhir diraih Prof Dr KH Said Aqil Siroj dengan 273 suara (5,8 persen) dan Dr KH Abun Bunyamin, MA dengan 268 suara (5,7 persen).
Pengamanan Ketat Berkas Usulan
Rais Syuriah PBNU sekaligus Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Prof Mohammad Nuh, menjelaskan mekanisme pengumpulan usulan nama. Berkas usulan dimasukkan ke enam wadah transparan yang tidak bisa dibuka, ditempatkan di sebuah ruangan di depan rumah KH Abdul Rozaq Sholeh alias Gus Rozaq, Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Kotak-kotak suara tersebut diawasi ketat melalui kamera CCTV dan dijaga 15 anggota Satuan Inspeksi Tanggap Pengamanan (Sigap) Ponpes Bahrul Ulum secara bergantian selama 24 jam.
Jadwal Musyawarah Penentuan Pimpinan PBNU
Setelah penetapan ini, sembilan anggota AHWA dijadwalkan segera menggelar musyawarah tertutup. Agenda utama mereka adalah menentukan Rais Aam dan selanjutnya memilih Ketua Umum PBNU untuk periode 2026-2031.
AHWA merupakan majelis khusus dalam struktur NU yang beranggotakan ulama sepuh dan kiai khos terpilih. Lembaga ini menjadi penentu arah kepemimpinan tertinggi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.