Rupiah Terjun ke Rp 17.754 per Dolar AS, Terlemah dalam Sepekan di Tengah Tekanan Global

Rupiah Terjun ke Rp 17.754 per Dolar AS, Terlemah dalam Sepekan di Tengah Tekanan Global

EDUKASIEKONOMI.COM — Tekanan terhadap rupiah kembali berlanjut. Kondisi ini makin menarik karena dolar AS justru melemah terhadap sejumlah mata uang utama lain seperti yen Jepang, euro, dan yuan China. Dengan kata lain, penguatan dolar terhadap rupiah tidak didorong oleh kekuatan global, melainkan faktor fundamental internal yang masih rapuh.

Pelemahan di Berbagai Lini

Data Bloomberg pagi ini mencatat pergerakan dolar yang kontras. Dolar AS melemah 0,18% terhadap yen Jepang dan turun 0,08% terhadap yuan China. Terhadap mata uang Asia Tenggara lainnya, dolar juga terkoreksi 0,05% ke posisi dolar Singapura.

Dari data ini jelas bahwa pelemahan rupiah bukan semata karena menguatnya mata uang Paman Sam secara global. Penyebab utamanya lebih kepada faktor internal dan arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Yang Terdampak dan Langkah Antisipasi

Bagi pelaku usaha dengan utang denominasi dolar, pergerakan ini otomatis menaikkan beban pembayaran. Importir pun harus menanggung harga barang lebih mahal, yang berpotensi menyumbang tekanan inflasi pada bulan-bulan mendatang. Investor obligasi lokal juga akan mencermati langkah Bank Indonesia untuk menahan pelemahan lebih dalam.

Pertarungan Bank Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global

Tekanan pada rupiah terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan The Fed yang masih tinggi. Dengan cadangan devisa dan instrumen stabilisasi yang dimiliki, Bank Indonesia masih punya ruang untuk melakukan intervensi ganda—baik di pasar spot maupun melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Namun, analis menilai efektivitas intervensi tersebut akan bergantung pada arah data inflasi AS dalam beberapa pekan ke depan. Sampai ada kejelasan soal arah suku bunga global, volatilitas nilai tukar rupiah berpeluang masih akan berlanjut. (ily/ara)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index