Pemerintah Targetkan Biaya PLTS Lebih Murah, 87 Persen Bahan Baku Panel Surya Sudah Ada di RI

Pemerintah Targetkan Biaya PLTS Lebih Murah, 87 Persen Bahan Baku Panel Surya Sudah Ada di RI

EDUKASIEKONOMI.COM — Rencana besar pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW) membawa konsekuensi baru: Indonesia tak boleh lagi sekadar menjadi pasar bagi produk impor. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu, menegaskan bahwa penguasaan rantai pasok bahan baku menjadi kunci untuk menekan biaya energi hijau yang selama ini masih tinggi.

“Kita ambil contoh di sektor green energy, misalnya PLTS, solar panel. 87 persen sebenarnya komponennya itu semuanya ada di kita, materialnya. Silika kita punya, kemudian aluminium,” kata Todotua dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang disiarkan kanal Youtube INDEF, Kamis pekan ini.

Belum Mampu Produksi Komponen Utama

Kendati bahan mentah melimpah, Todotua mengakui industri dalam negeri masih menghadapi tantangan besar. Sejumlah komponen inti panel surya belum bisa diproduksi secara penuh di tanah air.

“Yang main-mainnya ini masih belum ada. Masih belum polysilicon, silicon rod-nya, dan lain-lain. Ini yang kita dorong,” ujarnya.

Polysilicon, silicon rod, hingga wafer menjadi mata rantai yang hilang dalam ekosistem panel surya domestik. Padahal, komponen-komponen inilah yang menentukan efisiensi dan biaya produksi modul surya secara keseluruhan.

Menekan Biaya demi Energi Kompetitif

Dorongan hilirisasi ini bukan tanpa alasan. Todotua menyebut salah satu hambatan terbesar energi terbarukan saat ini adalah biaya produksinya yang masih relatif lebih mahal dibandingkan sumber energi konvensional.

“Sehingga kalau kita punya kemandirian dalam memproduksi solar panelnya, kita bisa memitigasi cost terhadap greennya,” tuturnya.

Ia menambahkan, pembangunan PLTS tidak sekadar soal memasang modul surya di lapangan. Biaya lahan dan berbagai komponen pengembangan lainnya ikut menentukan harga jual listrik. Karena itu, pemerintah perlu menekan pengeluaran di seluruh rantai pasok agar listrik yang dihasilkan tetap kompetitif.

“Penting bagi kita adalah untuk memitigasi all cost. Sehingga energi yang dihasilkan itu bisa murah atau kita bicara bisa kompetitif. Energi green yang kompetitif ini bisa dimanfaatkan dalam konsumsinya,” ucap Todotua.

Ekosistem Pendukung Kunci Daya Saing Industri

Persoalan biaya energi bukan hanya soal lingkungan, melainkan juga daya saing industri. Todotua mengingatkan bahwa listrik merupakan komponen besar dalam struktur biaya pabrik, terutama bagi sektor manufaktur dengan konsumsi daya tinggi.

“Kaitannya dengan hilirisasi adalah bagaimana ekosistem supply chain pendukung untuk menghasilkan supporting green energy ini kita bisa mitigasi. Sehingga kita bisa mengontrol cost lalu punya daya saing yang bisa masuk di konsumsi ini baru bisa tumbuh,” pungkasnya.

Dengan membangun pabrik komponen di dalam negeri, pemerintah berharap biaya investasi PLTS bisa turun signifikan. Efek berantainya pun terasa ke tarif listrik industri, yang pada akhirnya menentukan harga produk manufaktur Indonesia di pasar global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index